Kadek Kiarra Valerie Triyasa sengaja meninggalkan Bali untuk mencari sesuatu yang belum ia temukan di kota asalnya. Bukan sekadar sekolah di tempat baru, tetapi juga tantangan baru untuk berkembang sebagai seorang pemain basket.
Sejak kelas VIII SMP, Kiarra sudah membayangkan dirinya akan melanjutkan SMA di Surabaya. Ia ingin keluar dari zona nyaman dan bertemu lebih banyak pemain dengan gaya bermain yang berbeda.
Keputusan itu akhirnya membawanya ke SMA Gloria 1 Surabaya. Kiarra yang berasal dari Bali kini harus menjalani hari-harinya jauh dari keluarga. Ia tinggal sendiri di apartemen yang lokasinya tak jauh dari sekolah.
Baca juga: 7 Tahun Berlalu, Marcellino Bonfilio Kembali ke Sinlui
Bagi Kiarra, merantau bukan keputusan yang tiba-tiba. Sejak SMP, ia sudah mempersiapkan diri untuk hidup mandiri.
“Dari SMP aku sudah mempersiapkan diri supaya nggak boleh begini-begini saja. Nanti setelah selesai SMA, aku balik ke Bali lagi. Aku harus ngasih hal-hal yang baru, pembelajaran yang baru buat teman-teman aku yang di Bali,” ujarnya.
Basket memang sudah menjadi bagian dari hidup Kiarra sejak kelas V SD. Ia pertama kali bermain di sekolah sebelum kemudian bergabung dengan klub. Kecintaannya terhadap olahraga itu juga tumbuh dari keluarganya.
Hampir semua anggota keluarganya mengenal basket. Sang kakak, Putu Ivan Krisna Triyasa, bahkan menjadi sosok yang paling banyak memengaruhi perjalanan Kiarra.
Sang kakak juga bermain di level kompetitif. Kiarra sering melihatnya bertanding dan mengikuti bagaimana ia bermain. Bahkan hingga sekarang, sang kakak masih menjadi pemain yang paling ia jadikan panutan.
“Kakakku sendiri. Dia point guard, posisinya sama persis kayak aku. Strateginya buat melewati lawan juga benar-benar sama seperti aku. Aku mencontoh dia,” kata Kiarra.
Dari sang kakak pula Kiarra mengenal DBL. Kakaknya pernah menjadi student-athlete ketika masih SMA tepatnya di DBL Bali. Melihat perjalanan sang kakak membuat Kiarra punya keinginan yang sama.
Baca juga: Mimpi yang Dulu Dikejar, Kini Muhammad Adhim Tumbuhkan
Namun, ketika tiba waktunya memilih sekolah, Kiarra tak sekadar ingin mengikuti jejak kakaknya. Ia ingin punya cerita sendiri.
“Aku yakin aku bisa membawa nama Gloria 1 sampai aku lulus nanti,” tuturnya.
Memulai kehidupan baru sebagai student-athlete kelas X tentu bukan perkara mudah. Apalagi ritme latihan yang ia jalani jauh lebih padat dibanding biasanya.
Kiarra terbiasa latihan sekitar tiga kali dalam sepekan. Kini, intensitasnya bisa mencapai enam kali dalam seminggu dengan durasi latihan 3 hingga 4 jam.
Alih-alih mengeluh, Kiarra justru merasa ritme tersebut menjadi tantangan yang ia cari.
“Aku juga bersyukur dapat latihan kayak gitu. Soalnya dulu aku kadang bosan. Kalau latihan cuma tiga kali, habis ini ngapain? Mendingan aku latihan,” ucapnya.
Baca juga: Kakak Adik Rajwa dan Parves Wujudkan Mimpi Bersama di Smala
Ada satu hal yang membuat perantauan terasa lebih berat, ketika tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
Menjelang laga debutnya di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, Kiarra sempat sakit. Suhu tubuhnya bahkan mencapai 39 derajat Celsius.
Saat itu, satu sosok yang paling ia butuhkan adalah Mama.
Sang Mama akhirnya datang dari Bali ke Surabaya. Kehadiran itu terasa sederhana, tetapi sangat berarti bagi Kiarra. Ia dibangunkan, disiapkan makanan, diminta minum obat, hingga kembali beristirahat sebelum pertandingan.
“Kalau misalnya aku sakit, kayak kemarin, aku benar-benar butuh Mama. Ini bukan alay atau gimana, tapi Mama datang aku langsung sembuh,” katanya.
Keesokan harinya, Kiarra sudah kembali siap berada di lapangan.
Baca juga: Deretan Pelatih Smala Ini Pernah Tampil di Liga Profesional hingga Timnas!
Debut yang sejak lama ia inginkan akhirnya tiba. Di laga perdananya, Kiarra ikut membantu SMA Gloria 1 Surabaya mengamankan kemenangan telak 52-3 atas SMAN 2 Sidoarjo. Ia menyumbang 10 poin, 2 rebound, dan 1 assist.
Namun, bagi Kiarra, angka-angka itu bukan hal utama.
“Aku lebih mikirin timku sendiri daripada diriku sendiri. Aku dapat poin segini, assist segini, turnover-ku segini, ya nggak apa-apa. Kalau menurut aku kurang, aku harus latihan lagi,” ujarnya.
Kiarra datang ke Surabaya untuk berkembang. Untuk belajar mandiri. Untuk menghadapi pemain-pemain yang belum pernah ia lawan sebelumnya.
Dan tentu saja, untuk mengejar salah satu keinginan yang sudah lama ia simpan, bermain di DBL seperti sang kakak.
“Aku pengin banget main DBL seperti kakak. Itu adalah salah satu mimpi aku buat masuk SMA yang sangat jauh,” tutup Kiarra.
Baca juga: Dua Olahraga Kafka Elhazima dan Misi Membawa Smansa Tuban Melangkah Jauh
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)