ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Potret Coach Amin (kiri) dan sang putri, Devi (kanan) usai bawa srikandi Castle ke Playoffs Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North

Ada dua peran yang berjalan bersamaan bagi Mukhammad Al Amin di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North. Di satu sisi, ia pernah menjadi bagian dari perjalanan awal DBL sebagai salah satu pelatih DBL Indonesia All-Star 2008. Di sisi lain, kini ia datang dengan peran yang lebih personal yakni seorang ayah yang melihat putrinya berjuang di lapangan.

Putrinya, Devi Sukmaningsih, berhasil membawa srikandi SMAN 1 Puri Mojokerto (Castle) melaju ke Playoffs. Kepastian itu didapat setelah Castle mengalahkan SMAN 1 Gresik dengan skor 43-11.

Devi tampil sebagai salah satu motor serangan Castle. Ia menyumbang 16 poin, 9 rebound, dan 2 assist.

Namun, bagi Mukhammad Al Amin atau yang akrab disapa Coach Amin, melihat Devi sampai di titik ini bukan sekadar tentang angka yang muncul di papan skor. Ia sudah mengikuti perjalanan basket putrinya sejak olahraga itu pertama kali menarik perhatian Devi.

Basket bukan olahraga yang langsung dipilih Devi. Saat masih kecil, ia justru sempat mengikuti karate.

Baca juga: Putri CHW Terus Berbenah, Coach Yong Tak Ingin Tim Cepat Puas

“Dulu malah sempat karate. Terus nangis, nangis saja, dia mau main basket,” cerita Coach Amin.

Devi mulai belajar basket sejak kelas II SD. Salah satu hal yang membuatnya tertarik adalah kebiasaannya melihat sang ayah melatih.

“Mungkin sering lihat saya melatih, akhirnya mungkin dia senang main basket,” ujarnya.

Memasuki kelas V SD, Coach Amin mulai melihat Devi semakin serius. Selain mengikuti latihan di klub, Devi juga mendapat latihan tambahan dari ayahnya ketika berada di rumah.

Latihan itu tidak hanya soal teknik. Coach Amin juga menambah latihan fisik untuk Devi. Rutinitasnya pun sudah terbentuk sejak kecil. Bahkan, ketika latihan tim putri Castle dimulai pukul 05.00 pagi, Devi terbiasa bangun sekitar pukul 04.00 untuk bersiap.

Setelah latihan, ia kembali menjalani aktivitas sekolah, les, hingga pulang pada malam hari.

Baca juga: Merantau ke Surabaya, Kiarra Ingin Cari Tantangan Baru!

Bagi Coach Amin, kedisiplinan itu bukan sesuatu yang baru. Ia ingin Devi terbiasa menjalani tanggung jawabnya, baik sebagai student-athlete maupun sebagai seorang anak.

Di rumah, hubungan mereka juga tidak selalu diisi dengan pembicaraan soal basket. Tetapi setiap pertandingan selesai, Coach Amin biasanya tetap mengevaluasi permainan Devi.

Ia melihat satu hal yang cukup menonjol dari putrinya yakni kemampuan menghadapi tekanan.

“Kalau dia (Devi) insyaallah kalau dalam keadaan tertekan dia bisa melawan. Dan karena tekanan dia bisa menyelesaikan masalah,” kata Coach Amin.

Menariknya, melihat anak sendiri bermain tidak selalu membuat Coach Amin lebih gugup. Ia mengaku sudah terbiasa mendampingi Devi bertanding ke berbagai tempat.

“Sudah biasa kalau misalnya ngawal anaknya pertandingan juga ke mana-mana,” ujarnya.

Cerita tentang Coach Amin dan DBL sendiri sudah dimulai jauh sebelum Devi mengenal kompetisi tersebut.

Baca juga: 7 Tahun Berlalu, Marcellino Bonfilio Kembali ke Sinlui

Pada 2008, ia menjadi salah satu pelatih DBL All-Star. Kala itu, DBL masih berada di fase awal perkembangannya. Sistem yang dijalani pun belum seperti sekarang.

Belum ada rangkaian seleksi dan training camp panjang. Para pemain dikumpulkan, dipersiapkan, lalu menjalani pertandingan bersama. Coach Amin menjadi salah satu pelatih yang ikut dalam perjalanan DBL All-Star generasi pertama yang berangkat ke Australia.

“Mungkin saya adalah orang pertama yang berangkat sama Mas Azrul, ada waktu itu sama Mas Donny, bareng-bareng,” kenangnya.

Bukan hanya perjalanan ke Australia yang membekas. Bagi Coach Amin, pengalaman DBL All-Star 2008 juga mempertemukannya dengan banyak orang yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di basket.

Kala itu, ia bersama orang-orang yang terlibat harus menyiapkan tim dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding sistem DBL sekarang. Para pemain baru berkumpul, kemudian langsung mempersiapkan diri untuk bertanding.

“Buat saya terkesan banget pengalaman itu. Apalagi pertama kalinya DBL ada All-Star,” tuturnya.

Baca juga: Kakak Adik Rajwa dan Parves Wujudkan Mimpi Bersama di Smala

Hampir dua dekade kemudian, Coach Amin telah memiliki banyak cerita berharga setelah melalui proses panjang bersama putra-putri Castle dan DBL All-Star.

Kini, Coach Amin juga memiliki satu mimpi yang besar. Ia bermimpi agar Devi bisa memiliki pengalaman yang sama sepertinya. Terlebih, ia ingin Devi bisa memperoleh banyak manfaat dari basket untuk masa depannya kelak.

Baca juga: Deretan Pelatih Smala Ini Pernah Tampil di Liga Profesional hingga Timnas!

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil pelatih ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS