Sebelum mengenal basket, Sabria Danisha atau Sasha lebih dulu akrab dengan voli. Begitu pula sang ayah. Keduanya menempuh jalan yang hampir serupa, bermain voli sejak SMP, sebelum akhirnya menemukan basket.
Bedanya, bagi Sasha, perpindahan itu baru terjadi ketika ia hampir menyelesaikan masa SMP. Ia mulai mengenal basket pada akhir kelas IX setelah sebelumnya lebih banyak bermain voli.
Salah satu pengalaman yang membuatnya semakin tertarik datang ketika kelas IX, Sasha mengikuti kompetisi 3X3 antar kecamatan di Surabaya. Saat itu, ia berhasil membawa pulang posisi runner-up.
Dari sana, ketertarikannya pada basket mulai tumbuh. Apalagi, Sasha memiliki sosok ayah yang juga pernah menekuni olahraga tersebut.
“Ayah saya dulu juga pemain basket. Jadi saya terinspirasi juga,” cerita Sasha.
Baca juga: Di Tengah Regenerasi, Coach Andri Jaga Tradisi Putri Smantaru
Memasuki SMA, Sasha akhirnya benar-benar meninggalkan voli dan memilih basket. Keputusan itu bukan datang dari sang ayah. Sasha sendiri yang menyampaikan keinginannya untuk mencoba olahraga tersebut.
“Aku bilang kayaknya aku pengin basket deh. Terus akhirnya Ayah dukung,” ujarnya.
Dukungan itu kemudian hadir dalam bentuk yang lebih nyata. Menyadari Sasha baru serius bermain basket ketika memasuki SMA, sang ayah membantu mencarikannya latihan privat agar ia bisa mengejar kemampuan teman-temannya.
Sasha pun tidak ingin hanya mengandalkan latihan bersama tim. Ketika kelas X, ia rutin menambah latihan sendiri di rumah. Sore hari digunakan untuk berlatih dribble, sementara pagi sebelum sekolah diisi dengan jogging.
Semua dilakukan karena satu alasan sederhana, ia ingin bisa mengikuti ritme student-athlete lain yang sudah lebih dulu mengenal basket.
Kini, tiga tahun berselang, basket sudah menjadi bagian besar dari perjalanan Sasha. Bahkan, sang ayah masih punya peran di dalamnya.
Baca juga: Bang Acig, Penyumbang Kekuatan Smekda di Balik Layar
Setiap kali ada kesempatan, mereka melakukan video review session bersama. Sasha dan sang ayah menonton ulang pertandingan, kemudian membedah gerakan yang dianggap masih kurang tepat.
“Kadang ada video session bareng Ayah. Jadi kita nonton ulang pertandingan terus dilihat gerakannya harus ngapain, salahnya di mana,” kata Sasha.
Sang ayah memang tidak lagi bermain. Namun, pengalamannya tetap menjadi bekal bagi Sasha. Ia bisa memberikan sudut pandang yang berbeda ketika Sasha mengevaluasi permainannya sendiri.
Meski begitu, hubungan mereka di lapangan tidak selalu berjalan sempurna. Sasha mengaku terkadang lupa menerapkan arahan sang ayah ketika pertandingan berlangsung. Rasa gugup bisa membuatnya kembali bermain dengan caranya sendiri.
“Kadang diikutin, kadang enggak. Kadang lupa, grogi juga,” tuturnya.
Gaya bermain keduanya pun berbeda. Sang ayah lebih banyak bermain sebagai big man, sedangkan Sasha lebih sering mengandalkan shooting.
Baca juga: Musim Terakhir Hugo di DBL Membawa Cerita yang Dimulai dari Papa
Perbedaan itu tidak membuat sang ayah berhenti memberi arahan. Justru dari sanalah Sasha mendapatkan salah satu bentuk dukungan yang terus mengiringinya hingga musim terakhir di Honda DBL with Kopi Good Day East Java-North.
“Enjoy the game, jangan dibuat pusing. Jangan terlalu banyak dipikirin, mainnya enjoy aja,” menjadi pesan yang selalu diingat Sasha.
Musim ini punya arti berbeda bagi Sasha. Kelas XII sekaligus menjadi tahun ketiganya tampil di DBL East Java-North. Setelah dua musim sebelumnya srikandi Sixteen juga mencapai Big Eight, ia ingin menutup perjalanan terakhirnya dengan membawa tim putri SMAN 16 Surabaya melangkah lebih jauh.
Beban itu ia rasakan. Menjadi pemain kelas XII membuatnya merasa harus memberikan yang terbaik, terlebih setelah bertahun-tahun menjalani perjalanan bersama Sixteen.
Di tengah tuntutan tersebut, Sasha juga berusaha menjaga kedekatan dengan adik-adik kelas. Mereka sering berkumpul dan mengobrol bersama. Bagi Sasha, kebersamaan itu penting agar jarak antara senior dan junior tidak terlalu terasa.
Hari ini, langkah Sasha bersama Sixteen kembali berlanjut di Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North. Ia ikut membantu SMAN 16 Surabaya mengatasi SMAN 2 Mojokerto dengan skor 32-11.
Sasha menyumbangkan 6 poin, 5 rebound, dan 1 assist dalam kemenangan tersebut.
Baca juga: Puisi Sapardi Djoko Damono di Balik Koreo Tentacles
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)