Dari bench, Coach Hariono terus memantau jalannya pertandingan Unsur. Tatapannya mengikuti pergerakan pemain dari satu sisi lapangan ke sisi lainnya. Sesekali, ia memperhatikan pemain yang berada di sampingnya sebelum kembali mengikuti permainan.

Posisinya memang tidak lagi seperti dulu ketika ia rutin mendampingi tim. Namun, perhatian Coach Hariono terhadap permainan Unsur masih terlihat dari caranya mengikuti setiap momen di lapangan.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North membawa Coach Hariono kembali ke lingkungan yang sudah begitu lama dikenalnya. Ia kembali berada di sekitar tim SMA Untung Suropati Sidoarjo (Unsur), setelah sejak pensiun sebagai guru pada 2018 tidak lagi rutin mendampingi tim.

Bukan karena ingin mengambil kembali peran yang dulu ia jalankan. Coach Hariono hanya ingin tetap dekat dengan Unsur dan membantu sebisa yang ia mampu.

"Saya cinta dengan Unsur. Saya ingin Unsur ini lebih berkembang, lebih bagus lagi. Kalau saya masih bisa membantu, ya saya bantu," ujar Coach Hariono.

Baca juga: Lama Menunggu Kesempatan, Jonathan Akhirnya Debut Bersama Unsur di DBL

Aksi Hizkia Mercy Sumanto (nomor punggung 23) saat mengeksekusi tembakan di hadapan para pemain Smanda.

Ia terlihat di pinggir lapangan saat Unsur berhadapan dengan SMAN 2 Sidoarjo (Smanda), Sabtu, 19 September 2026.

Pertandingan memang berlangsung sangat sengit. Hingga Coach Hariono tidak berhenti pada papan skor. Smanda unggul 23-20.

Sekitar 17 detik sebelum laga berakhir, ia melihat Unsur masih memiliki kesempatan untuk mencari tembakan tiga angka.

Jonathan Chrisdianto sebenarnya mencoba menambah poin dengan lay up. Hasilnya missed. 

Smanda meraih kemenangan 23-20 atas Unsur di pertandingan itu. 

Pemandangan di lapangan menjadi bagian kecil dari cerita panjang Coach Hariono bersama Unsur. Jauh sebelum duduk di bench untuk memantau pertandingan seperti hari ini, ia sudah lebih dulu mengenal basket Unsur dari dekat.

Baca juga: Tembakan Tajam Unsur dalam Mata Coach Hariono

Perjalanan Coach Hariono bersama Unsur bermula pada 1987. Saat itu, ia datang ke SMA Untung Suropati Sidoarjo sebagai guru olahraga. Tiga tahun berselang, ia mulai membentuk tim basket sekolah.

Saat itu DBL belum ada. Tim Unsur lebih dulu menjalani berbagai kompetisi basket antarsekolah di Sidoarjo. Dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya, Coach Hariono mendampingi pemain yang terus berganti seiring pergantian angkatan.

Satu angkatan meninggalkan sekolah, lalu digantikan pemain baru. Ada yang sudah memiliki dasar permainan, ada pula yang masih belajar dari awal. Coach Hariono ikut melihat bagaimana mereka berkembang melalui latihan dan pertandingan.

Ketika DBL mulai hadir pada 2004, Coach Hariono punya cerita suka-duka yang sangat memorable bersama tim basket Unsur.

Perjalanan itu kemudian membawa Unsur melewati berbagai musim penuh prestasi. Coach Hariono masih mengingat tim putri yang beberapa kali melangkah hingga delapan besar,  empat besar, bahkan final melawan Ciputra pada 2008.

"Perjalanan anak-anak memang cukup panjang," ujar Coach Hariono.

Baca juga: Enjoy The Game Jadi Moto Hizkia Mercy di DBL East Java-North 2026

Coach Hariono bersama tim basket putri Unsur dan para alumni saat menjalani latihan serta uji tanding sebagai persiapan menuju DBL 2015 (Foto: Dokumentasi pribadi Coach Hariono).

Bagi Coach Hariono, yang berubah dari masa ke masa bukan hanya pemain yang berada di lapangan. Cara mereka mengenal dan mempelajari basket pun ikut berkembang.

Generasi awal lebih banyak mengandalkan latihan secara langsung dan penguasaan dasar permainan. Saat itu, akses untuk melihat pertandingan atau mempelajari teknik dan strategi tidak sebanyak sekarang.

Kini, pemain memiliki lebih banyak sumber untuk belajar. Pertandingan bisa mereka lihat melalui internet. Berbagai teknik dan strategi juga lebih mudah ditemukan.

"Kalau dulu itu memang lebih banyak dasar-dasarnya. Sekarang strateginya sudah banyak, anak-anak juga bisa lihat dari internet. Pelatih sekarang juga sudah bagus-bagus. Jadi saya sekarang lebih banyak memberikan motivasi," katanya.

Perubahan tersebut ikut mengubah posisi Coach Hariono di dalam tim.

Baca juga: Sempat Terpuruk, Putri Unsur Bangkit dan Segel Kemenangan

Tahun ini, Coach Hariono kembali mengambil tempat di sekitar tim. Ia memantau aktivitas para pemain, memberikan masukan, dan membantu ketika dibutuhkan. Putranya, Victor Caesarice Hariono, yang baru masuk ke Unsur, menjadi salah satu alasan dirinya kembali terlibat.

Namun, kehadirannya bukan untuk mengambil alih pekerjaan Coach Geronimo Matthew Tandipajung yang menangani tim sehari-hari.

Coach Hariono memilih berada di sisi yang berbeda. Ia memantau, memberikan masukan, dan menjaga semangat pemain ketika dibutuhkan.

"Sekarang Coach Gero yang banyak menangani anak-anak. Saya lebih banyak memantau, memberikan masukan dan motivasi. Kalau saya masih bisa membantu, ya saya bantu," tuturnya.

Hubungan itu juga masih terlihat dari komunikasi Coach Hariono dengan sejumlah alumni Unsur.

Baca juga: Dari Eksekutor Sampai Penyusun Strategi, Ini Kiprah Geronimo Matthew di Unsur

Salah satunya adalah Intan Karnelia. Setelah mengetahui Coach Hariono kembali mendampingi Unsur musim ini, Intan langsung mencatat jadwal pertandingan sekolah.

Coach Hariono bersama tim basket putri Unsur setelah berhasil melangkah ke babak Big Eight DBL 2010 (Foto: Dokumentasi pribadi Coach Hariono).

Ia kemudian membuat unggahan tentang sosok yang sejak masa sekolahnya dipanggil Papi. Coach Hariono mengetahui unggahan tersebut setelah Intan mengirimkannya secara langsung. Sebelum mengunggahnya, Intan juga sempat meminta izin kepada Coach Hariono.

Bagi Coach Hariono, komunikasi seperti itu menjadi pengingat bahwa pemain yang pernah didampinginya masih membawa cerita tentang masa mereka di Unsur.

Cerita Intan juga menjadi salah satu gambaran tentang perjalanan anak-anak yang pernah didampingi Coach Hariono. Di masa sekolah, basket membawa mereka ke berbagai pengalaman yang mungkin sebelumnya belum pernah mereka bayangkan.

Dalam unggahannya, Intan mengenang sejumlah momen yang ia lalui selama menjadi pemain Unsur. Mulai dari meraih peringkat ketiga 02SN tingkat provinsi, membawa tim hingga empat besar DBL, tampil di Popnas dan Porprov, hingga menjadi nominasi All-Star. Perjalanan itu kemudian berlanjut hingga ia diterima di perguruan tinggi.

Baca juga: Astronot di Tribun Jadi Simbol Sejarah Basket Unsur di DBL East Java-North 2026

Bagi Coach Hariono, setiap anak memiliki perjalanan dan tujuan masing-masing. Ia ingin basket menjadi bagian dari proses tersebut, bukan hanya untuk mengejar hasil di lapangan.

"Dari dulu saya cuma ingin anak-anak ini berkembang. Basket bisa menjadi pengalaman buat mereka, bisa membawa mereka ke banyak tempat dan membuka jalan untuk mereka. Kalau sekarang mereka sudah punya kehidupan masing-masing, saya ikut senang," ujar Coach Hariono.

Sampai sekarang, beberapa alumni masih berkomunikasi dengannya. Ada yang mengirim foto-foto lama, ada yang sekadar bertukar kabar, dan ada pula yang masih menyempatkan diri bertemu ketika memiliki kesempatan.

Hubungan tersebut sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, panggilan Papi yang digunakan para pemain sejak masa sekolah masih melekat sampai sekarang.

Coach Hariono mengingat sebutan itu mulai digunakan oleh generasi Intan sekitar awal dekade 2010-an. Setelah itu, pemain dari angkatan berikutnya ikut menggunakan panggilan yang sama.

Baca juga: Bu Halimah Ikut Belajar Basket Demi Kawal Langkah Rizky

Panggilan tersebut bukan sekadar sebutan yang muncul di dalam tim. Ada kedekatan yang membuat pemain merasa nyaman untuk datang kepadanya, bahkan ketika persoalannya tidak berhubungan langsung dengan basket.

"Anak-anak itu saya anggap seperti anak sendiri. Jadi saya enggak mau terlalu keras. Kalau ada masalah apa, mereka datang ke saya. Masalah sama teman, sama pacar, atau apa pun itu. Mereka cerita seperti cerita ke orang tua," ucapnya.

Sementara generasi lama perlahan berganti, anak-anak baru datang dengan cerita dan tujuan mereka masing-masing. Pola itu terus berulang selama perjalanan Coach Hariono bersama Unsur.

Di usia 64 tahun, Coach Hariono tidak lagi harus berada di sekolah setiap hari. Namun, ia masih memilih duduk di pinggir lapangan, memperhatikan pemain dan memberikan dorongan ketika dibutuhkan.

Baca juga: 7 Tahun Perjuangan Coach Zain Merajut Mimpi Basket Smekda

Baginya, proses mendampingi anak-anak tidak berhenti pada hasil pertandingan.

Setelah Unsur kalah 23-20 dari Smanda, ia tetap memberikan pesan kepada pemain. Kekalahan hari itu, menurutnya, tidak perlu menjadi sesuatu yang membuat mereka berhenti.

Saling merangkul dan menyemangati, penggawa putra Unsur melakukan huddle jelang turun ke lapangan.

"Dalam pertandingan ada menang kalah. Kalau hari ini kalah, tetap semangat. Kesalahan-kesalahan hari ini bukan untuk disesali tetapi untuk memotivasi kamu lebih maju ke depan," katanya.

Pesan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Coach Hariono, mendampingi pemain memang bukan hanya soal bagaimana mereka bermain di lapangan.

Selama puluhan tahun bersama Unsur, ia telah melihat wajah yang terus berganti. Pemain datang sebagai siswa, menjalani latihan, bertanding, lalu meninggalkan sekolah dengan cerita masing-masing. 

Sebagian masih menyimpan hubungan dengannya. Sebagian lainnya mungkin hanya hadir sesekali lewat foto lama atau pertemuan di sebuah pertandingan.

Baca juga: Miracle Gathyo, Student-Athlete Basket dan Angkat Besi Kebanggaan Smansa Gresik!

Di antara pergantian generasi tersebut, panggilan Papi tetap bertahan.

Sementara anak-anak Unsur hari ini mulai menuliskan perjalanan mereka sendiri, Coach Hariono memilih tetap berada di pinggir lapangan selama masih bisa membantu.

Ia tidak lagi hadir sebagai guru yang setiap hari berada di sekolah. Namun, dari bench Unsur, perhatiannya masih tertuju pada pemain yang sedang mengejar mimpi mereka.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp. 

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil Coach Hariono bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).

Populer

Di Balik Sukses Al-Maruf, Ada Semangat 'Tetap Sama-sama Sampai Indonesia Arena'
Hasil DBL Jakarta Championship: Hari Kelima Penuh Drama!
Krisabella Memburu 'Sweet Ending' di Last Dance Bersama Smansa
Sengit Lagi! Pangudi Luhur Kembali Paksa Buksi Terima Kekalahan Dramatis
Jadwal dan Link Live Streaming DBL Jakarta Championship, Sabtu, 24 Oktober 2026