Bagi sebagian guru, mengajar mata pelajaran Ekonomi mungkin identik dengan deretan angka dan kurva. Namun, bagi Ameliasari Kesuma, seorang guru Ekonomi di MAN Salatiga, ruang kelas justru menjadi panggung untuk menumbuhkan keberanian berpikir, membaca, dan berkarya.
Langkah Ameliasari dalam menggerakkan literasi di sekolah berawal dari kebiasaan sederhananya mendokumentasikan catatan pembelajaran di kelas melalui blog pribadi. Dari tulisan-tulisan tersebut, ia kemudian dipercaya menjadi bagian dari tim jurnalis Madrasah yang bertugas memublikasikan berbagai kegiatan sekolah ke tingkat Kemenag Kota Salatiga hingga Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah.
Terjun ke dunia kepenulisan, membuat Ameliasari pandai membaca “ombak dan angin.” Ia memiliki kepekaan untuk melihat betapa besar potensi menulis yang dimiliki anak didiknya. Ia merasa sayang jika karya-karya murid tersebut hanya mengendap tanpa pernah diterbitkan. Oleh karena itu, lahirlah gagasan untuk menerbitkan majalan sekolah.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Rusneni Husen, Hidupkan Talenta Bahasa Indonesia di Halmahera
“Untuk buat majalah anak-anak harus dilatih serius sehingga harus diadakan pelatihan jurnalistik. Pelatihan ini dihadiri oleh murid kelas X dan XI. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal tim jurnalistik MAN Salatiga berdiri dan saya menjadi pembimbingnya,” ujar guru yang akrab disapa Amel ini.
Untuk menyalakan minat membaca dan menulis pada siswa, Amel mengandalkan pendekatan bebas dan penuh empati. Ia membebaskan murid-muridnya membaca bahan apa saja yang mereka sukai, termasuk komik. Dalam beberapa kesempatan, ia memantik rasa penasaran murid lewat teknik read aloud dengan membacakan novel Tan karya Hendra Teja, tetapi sengaja menghentikannya di bagian menggantung agar para siswa terdorong membaca sendiri hingga tuntas. Ia juga menerapkan metode slow reading, yaitu menggelar koleksi buku pribadinya di meja kelas, meminta siswa memilih satu buku, lalu mendiskusikan pesan menarik dari satu atau dua halaman yang mereka baca.
Setelah kebiasaan membaca terbangun, Amel mendorong murid-muridnya menumpahkan ide ke dalam tulisan bebas. Mulai dari puisi, cerpen, hingga curahan hati. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah saat seorang siswanya menuliskan refleksi kritis tentang keteguhan menolak kecurangan Ujian Nasional (UN). Meski sempat mendapat intimidasi akibat kelurusan sikap dan tulisannya kala itu, siswa tersebut kini telah sukses menjadi guru Madrasah dan berhasil meraih penghargaan sebagai ASN Teladan.
Upaya Amel dalam merawat literasi siswa dan menggiatkan keterampilan membaca tak berhenti di situ. Ia juga dipercaya untuk mengajar mata pelajaran riset. Empat puluh jurnal ilmiah disiapkan Amel untuk melatih mereka memahami setiap babnya. Setelah satu setengah bulan, akhirnya mereka berhasil memahami struktur karya ilmiah secara mendalam. Dari situ, anak didiknya pun mulai bisa mengamati fenomena sosial dan diangkat menjadi penelitian mandiri.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Fadolul Ghafur Buka Ruang Kelas di Pelosok Madura
Semangat belajar bersama murid ini terbukti nyata saat Amel mendampingi dua puluh siswa dalam memproduksi majalah sekolah. Sebagai guru Ekonomi, ia mengakui bahwa saat itu ia pun masih belajar membedakan bentuk opini dan artikel. Namun, bagi Amel, esensi pendidik bukanlah tampil serba tahu di depan kelas. "Saya percaya bahwa tugas seorang guru bukanlah harus mengetahui segala hal, melainkan berani belajar bersama murid, mendorong mereka untuk mencoba, dan membangun kepercayaan diri mereka," ungkapnya.
Keberanian untuk keluar dari zona nyaman itu memantik lahirnya berbagai tulisan kritis dari para siswa, salah satunya artikel karya Hafidz, siswa kelas XI, yang mengkritisi pergeseran makna pendidikan dari sarana mencari ilmu menjadi sekadar perburuan nilai dan ijazah. Kerja keras dua puluh murid yang membagi tugas secara mandiri dari peliputan, penyuntingan, tata letak, hingga pencarian sponsor berbuah lahirnya majalah Ash-Shaff setebal 36 halaman.
Momen peluncuran majalah tersebut disambut hangat oleh Kepala Madrasah, bahkan dibalas dengan komitmen bantuan fasilitas komputer untuk operasional jurnalistik. Kebahagiaan itu makin lengkap ketika Humaida, salah satu anggota tim. "Ibu, ini hadiah terindah ulang tahunku hari ini." Bagi Amel, peristiwa ini membuktikan bahwa potensi siswa selalu melebihi ekspektasi jika guru memberi kepercayaan penuh. Hal itu sesuai prinsip yang selalu ia pegang: "Don't set the bar too low."
Pengalaman mendampingi murid dalam beragam kegiatan akademik maupun nonakademik mendorong Bu Amalia untuk mengembangkan pembelajaran kolaboratif berbasis proyek. Salah satu wujud nyatanya adalah proyek interdisipliner bertajuk Thematic English Party: Express, Organize, and Care Together. Melalui proyek ini, murid tidak hanya mengasah komunikasi dalam bahasa Inggris, tetapi juga belajar mengelola anggaran melalui konsep Ekonomi, mengorganisasikan kegiatan melalui Sosiologi, mengekspresikan kreativitas lewat Seni Budaya, serta menerapkan nilai kebersihan dan adab melalui Akidah Akhlak.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Debi Pranata Mengubah Keterbatasan Anak Mesuji Jadi Potensi
Bagi Amel, esensi dari predikat Super Teacher bukanlah tentang tampil sebagai sosok serba tahu yang bekerja seorang diri. "Menjadi Super Teacher bukan berarti guru harus bekerja sendiri dan menjadi ahli dalam segala hal. Justru, guru perlu membangun ekosistem belajar yang kolaboratif, saling menguatkan, dan berpusat pada tumbuh kembang murid," tegasnya.
Ketika guru saling berkolaborasi serta memadukan pengalaman akademik dan nonakademik secara utuh, pendidikan tidak hanya menguatkan pengetahuan dan keterampilan murid, tetapi juga menumbuhkan karakter serta nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.
DBL Super Teacher adalah program pelatihan, pengembangan kapasitas, dan apresiasi bagi guru pendamping yang digagas oleh DBL Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Program ini ditujukan bagi tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi dan meyakini bahwa proses belajar tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Guru-guru terpilih juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan hingga belajar (short course) ke luar negeri.
Program yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini gratis dan terbuka bagi seluruh guru di Indonesia. (*)