Semasa kecil, Muhammad Rafa sudah banyak menghabiskan waktu untuk menyaksikan sang ayah dari pinggir lapangan. Tanpa sadar, kebiasaan kecil ini mengantarkan Rafa (sapaan akrabnya) kepada mimpi besar.
Berawal dari kebiasaannya menyaksikan sang ayah beraksi di lapangan, rasa penasaran Rafa terhadap dunia basket perlahan tumbuh. Hingga akhirnya, ia mulai meminta sang ayah untuk mengajarinya mengenal olahraga tersebut lebih jauh.
Semula, Rafa tak pernah membayangkan basket akan menjadi sesuatu yang begitu berarti dalam hidupnya. Ia hanya menganggap olahraga ini sebagai cara menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Namun, seiring waktu, setiap tantangan yang dihadapi, setiap kegagalan yang dilewati, hingga kesempatan untuk bangkit kembali justru menumbuhkan rasa cinta yang semakin dalam terhadap basket.
“Awalnya, aku enggak serius-serius banget main basket. Tapi kalau aku menang, aku jadi semakin semangat buat basket. Menurut aku, basket itu juga bisa bawa aku ke mana saja, contohnya kayak sekarang. Aku dari Banjarbaru, terus bisa ke Jakarta karena basket,” ungkapnya.
Pada akhirnya, basket-lah yang membuat Rafa berani mengambil keputusan besar untuk meninggalkan kampung halaman di Banjarbaru. Sebelum benar-benar menapakkan kaki di Ibu Kota, ia tak serta-merta mendapat lampu hijau dari kedua orang tua.
Wajar saja, merantau di usia yang masih terbilang muda perlu pertimbangan yang sangat matang.
“Butuh enam bulan buat ngeyakinin mama sama. Di situ, aku negosiasi secara tindakan dengan melakukan hal-hal baik kayak misal ngelakuin apa yang diperintahkan, terus bikin kebiasaan positif. Jadi, akhirnya aku diizinkan karena mereka merasa percaya buat ngelepas aku,” ceritanya.
Baca Juga: Az Zahra Fitriyani, Pahitnya Kegagalan, dan Kejar Mimpi ke Indonesia Arena
Kepercayaan yang diberikan kepadanya menjadi kesempatan berharga yang tak ingin disia-siakan Rafa. Karena itulah, ia langsung menempa dirinya dengan persiapan keras agar bisa melantai bersama tim putra SMA 1 PSKD Jakarta di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Central Jakarta.
Di tengah padatnya persiapan, Rafa juga dihadapkan pada tantangan lain yang tak kalah besar, yakni menyesuaikan diri sebagai pemain pendatang baru. Telebih, ia berasal dari luar pulau.
“Di sini, aku sendiri banget. Cuma dari dulu, aku sudah dididik untuk disiplin dan mandiri. Mungkin orang tua juga sudah feeling kalau aku bakal merantau, jadi alhamdulillah bisa ngelewatin segala struggle yang ada,” jelasnya.
Hambatan yang menghadang pun tak sebanding dengan tekad besar Rafa untuk mewujudkan impian menjadi bagian dari persaingan DBL Jakarta. Bahkan, mimpi ini sudah menjadi bagian hidupnya sejak masih berada di bangku SMP.
Menariknya, Rafa saat itu memang kerap menikmati atmosfer DBL Banjarmasin. Berawal dari bangku penonton, siapa sangka kini dirinya bisa berdiri di tengah lapangan bersama skuad PSKD 1 sembari disaksikan ratusan pasang mata.
“Aku senang banget pokoknya bisa main di DBL. Intinya, alhamdulillah banget,” ucapnya dengan semrigah.
Meski terpisahkan ribuan kilometer, Rafa sendiri tetap dapat merasakan derasnya dukungan kedua orang tua. Menjalin obrolan singkat melalui telefon dengan mama dan papa menjadi ritual wajib bagi Rafa sebelum menghadapi pertempuran di medan perang.
.jpg)
Potret Muhammad Rafa bersama mama (foto kiri) dan papa (foto kanan)
Menurutnya, kedua sosok itu betul-betul memiliki peran besar dalam perjalanannya sebagai student-athlete.
“Dulu, aku terlalu obsesi sama basket. Aku cuma mikirin menang, jadi aku enggak belajar proses. Jadi, mama dan papa yang paling membantu aku buat belajar proses dari nol sampai sekarang. Apalagi, papa itu mentor terbaik aku, kalau mama suporter terbaik aku,” ungkapnya.
Baca Juga: Coach Hardimas Setia Sambut Positif Adanya Format Baru Play-in Tournament
Jika ditelusuri lebih lanjut, sang ayah, Yudy Feriatna, merupakan Kepala Pelatih SMAN 1 Banjarbaru di DBL South Kalimantan 2026. Ini membuktikan bahwa basket telah mengalir dalam diri Rafa sejak dini.
Sayangnya, langkah Rafa bersama PSKD 1 harus tersingkir di babak Play-in Tournament DBL Jakarta Championship 2026 setelah menelan kekalahan dari Bunda Mulia School Jakarta dengan skor akhir 49-46 pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Kendati demikian, Rafa sebagai pemain anyaran mampu menyuguhkan penampilan impresif. Penggawa bernomor punggung 28 itu memimpin torehan angka dengan 19 poin, 7 rebound, 4 assist, dan 4 steal.
Tak ada raut wajah kecewa. Justru, di balik kegagalan tersebut, Rafa semakin terpacu untuk terus berbenah agar bisa menyuguhkan aksi lebih optimal di musim depan.
“Sebagai point guard, aku harus lebih banyak komunikasi sama tim di lapangan. Aku juga pengin bangun vibes yang lebih positif dan try hard di pertandingan apa pun itu,” tegasnya.
Ambisi itu turut dilatarbelakangi oleh satu mimpi besar yang ingin digapai Rafa di kesempatan mendatang.
“Aku pengin main di Indonesia Arena karena itu pertandingan final. Insya Allah, aku bisa main di sana tahun depan,” ucapnya penuh harap.
Terlepas dari itu, Rafa merasa bangga dengan dirinya karena bisa terus bergerak maju hingga titik ini. Semangat terus, Rafa!
DBL Jakarta Championship 2026 termasuk dalam rangkaian Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 yang siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema “100% Indonesia”. Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final.
Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa lakukan scroll dengan double tap)