Di balik koreografi suporter SMAN 1 Denpasar (Smansa) yang mengangkat isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Bali, ada sosok Kalinda Bella. Siswi yang akrab disapa Bella ini menjadi orang di balik konsep visual dan pengerjaan lukisan koreo tersebut. Dalam waktu hanya lima hari, ia harus menyelesaikan karya yang bukan sekadar menjadi bagian dari dukungan suporter, tetapi juga membawa pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan.
Tanggung jawab itu datang ketika Bella sedang mempersiapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Pada Senin, 19 Oktober 2026, ia mendapat tawaran untuk mengerjakan lukisan koreo Smansa yang ditargetkan selesai pada 22 Oktober. Awalnya, Bella menolak karena waktu pengerjaan yang sangat singkat dan tanggung jawab yang diminta kepadanya cukup besar.
“Awalnya aku benar-benar menolak karena pengerjaannya diminta dilakukan oleh aku sendiri, sementara deadline-nya tanggal 22 Oktober. Apalagi, saat itu aku sedang ingin fokus mempersiapkan TKA,” ceritanya.
Baca Juga: Last Dance Dias, Bawa Misi Terakhir Bersama Soverdi

Potret Bella saat melakukan proses color blocking setelah sketsa pada 20 Oktober 2026 (Foto: dokumentasi pribadi Kalinda Bella)
Setelah beberapa kali bernegosiasi, Bella akhirnya bersedia menerima tawaran tersebut dengan dua syarat yaitu tidak lembur dan tidak diminta bertanggung jawab apabila koreo gagal selesai tepat waktu.
Namun, rencana tersebut justru berakhir sebaliknya. Bella menghabiskan dua hari di sekolah dari pagi hingga pagi lagi demi menuntaskan lukisan. Ketika pertama kali melihat media lukis koreo dibentangkan di aula sekolah, ukurannya bahkan jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Menyadari pekerjaan itu tidak mungkin dituntaskan sendirian, Bella meminta bantuan teman-teman dan adik-adik ekstrakurikuler seni untuk mengerjakan bagian latar, termasuk api dan pepohonan. Sementara itu, ia memusatkan perhatian pada bagian tengah lukisan, terutama sosok orangutan dan manusia.
.jpg)
Proses pembuatan warna api dimana Bella harus mencampur warna secara manual (Foto: dokumentasi pribadi Kalinda Bella)
Proses pengerjaan berlangsung bertahap. Pada 19 Oktober, Bella mulai membuat sketsa dan memberikan arahan untuk setiap bagian. Keesokan harinya, ia melanjutkan sketsa serta pewarnaan awal. Pada 21 Oktober, pengerjaan semakin intensif. Bella meracik warna api secara manual menggunakan tiga warna cat, sementara teman-temannya membantu mengisi bagian tersebut sesuai arahannya.
Malam itu, Bella baru mulai mengerjakan outline bagian tengah sekitar pukul 22.00. Waktu terus berjalan, sedangkan media koreo harus dipindahkan dari aula karena ruangan tersebut akan digunakan keesokan paginya.
Dukungan dari teman-teman Temuyuk Crew, julukan suporter SMAN 1 Denpasar dan OSIS menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Mereka membantu menyediakan makanan dan minuman, mencarikan peralatan serta cat tambahan, hingga ikut mengecat bagian api meskipun tidak terbiasa mengerjakan seni visual.
Baca Juga: Berikut Nominasi Kopi Good Day First Team Putri 2026 Bali

Gambaran hasil akhir koreo pada Selasa, 20 Oktober 2026 malam (Foto: dokumentasi pribadi Kalinda Bella)
Di tengah tekanan tenggat waktu, Bella tetap harus memastikan setiap bagian lukisan selesai sesuai konsep. Ia mengarahkan teman-temannya sekaligus mengerjakan bagian yang menjadi fokus utamanya. Pengalaman itu menjadi tantangan tersendiri bagi Bella, terlebih ia sempat merasa ragu ketika pertama kali dipercaya mengoordinasikan proyek tersebut.
“Bangga is an understatement. Benar-benar bangga, apalagi dengan waktu sesingkat itu. Bella awalnya benar-benar ragu diberi kepercayaan untuk mengoordinasikan dan memimpin proyeknya, tapi it was all paid off,” ungkapnya.
Bagi Bella, pengalaman memimpin pengerjaan koreo Smansa bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah lukisan. Ia juga melihatnya sebagai kesempatan bagi perempuan untuk menunjukkan kemampuan dalam pekerjaan yang selama ini kerap dilekatkan dengan laki-laki.
Ketika ditanya mengenai perempuan yang masih jarang berada di balik pengerjaan koreografi suporter, Bella menilai persoalan tersebut berkaitan dengan stereotip. Menurutnya, perempuan terkadang kurang mendapat kepercayaan karena dianggap tidak cukup mampu menangani pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik.
.jpg)
Momen Bella beristirahat diatas koreo hasil karya nya pada Kamis, 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WITA (Foto:dokumentasi pribadi Kalinda Bella)
“Bella rasa beberapa pihak jarang memberikan kepercayaan ini kepada perempuan karena mereka merasa mungkin perempuan kurang mampu apabila diberi kerjaan kasar. But in reality, we all have potential,” ujarnya.
Bella percaya setiap orang memiliki potensi, termasuk perempuan yang mungkin belum memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuannya. Karena itu, kesempatan yang diberikan Temuyuk Crew dan OSIS menjadi sesuatu yang sangat ia syukuri. Ia tidak hanya dipercaya untuk melukis, tetapi juga mengarahkan proses pengerjaan hingga koreo tersebut siap ditampilkan.
Kepercayaan itu sekaligus memberinya kesempatan untuk kembali menekuni hal yang telah dicintainya sejak kecil. Bella mengaku sudah menyukai kegiatan menggambar sejak ia bisa mengingat. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika belum memiliki banyak teman, seni menjadi media baginya untuk mengekspresikan diri.
Ia tidak pernah memulai hobinya dengan keinginan mengejar prestasi. Bella berkarya karena memang mencintai seni. Kecintaan itulah yang terus mendorongnya untuk menggambar hingga akhirnya mendapat kesempatan mengerjakan koreo Smansa.
Baca Juga: Daftar Nominasi Kopi Good Day First Team Putra 2026 Bali Resmi Dirilis!
Di tengah rutinitas sekolah yang berorientasi pada akademik, proyek tersebut terasa seperti ruang untuk kembali ke dirinya sendiri. Meski harus membagi waktu dengan persiapan TKA, Bella menikmati prosesnya dan menjalani tanggung jawab itu dengan penuh semangat.
“Sangatttt enjoy. Sebagai anak SMA yang sekolahnya berorientasi di akademik, ini benar-benar jadi kesempatan juga untuk Bella istirahat dari segala rumus dan teks dan akhirnya kembali ke akar. Bella benar-benar ngejalanin full dengan passion,” tuturnya.
Ada pesan lain yang ingin dibawa Bella melalui karya tersebut. Bersama timnya, ia memilih tema karhutla karena merasa perhatian terhadap persoalan itu belum sebanding dengan dampaknya terhadap lingkungan, satwa, dan masyarakat yang terdampak langsung.
Bagi Bella, kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan yang muncul dalam pemberitaan. Di baliknya, ada ekosistem yang rusak dan masyarakat yang harus menghadapi dampak terhadap kehidupan sehari-hari. Perasaan sedih dan frustrasi melihat situasi tersebut mendorongnya untuk ikut menyuarakan isu lingkungan melalui media yang ia kuasai.
Ia berharap koreo yang ditampilkan di tengah atmosfer DBL dapat menjangkau lebih banyak anak muda. Baginya, kreativitas suporter bisa menjadi ruang untuk menyampaikan pesan yang lebih luas, bukan hanya menunjukkan dukungan kepada tim yang bertanding.
“Melalui big flag ini, Bella ingin menunjukkan bahwa seni bukan hanya tentang apa yang kita lihat, tetapi juga tentang apa yang ingin kita sampaikan dan perubahan apa yang ingin kita dorong,” pesannya.
Perjalanan menyelesaikan karya itu sempat membuat Bella diliputi keraguan. Pada pagi 22 Oktober, setelah menerima foto koreo dari kejauhan, ia merasa hasilnya belum sesuai dengan harapan. Ia pun kembali ke sekolah untuk memperbaiki bagian-bagian yang dirasa masih kurang sebelum karya tersebut dibawa ke GOR sekitar pukul 10.00.
Ketika akhirnya melihat koreo dibentangkan, perasaan yang sejak pagi ia tahan pecah menjadi tangis. Bella lega karena hasil akhirnya ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Baginya, momen itu menjadi salah satu pengalaman paling berarti dalam hidupnya.
Dari sebuah tawaran yang sempat ia tolak, Bella justru memperoleh pengalaman tentang kepercayaan, kerja sama, dan keberanian mengambil tanggung jawab. Ia juga ingin menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk memimpin dan berkarya ketika diberi kesempatan.
Baca Juga: Kilas Balik Finalis DBL Bali: Putri Smansa Memburu Gelar Three-Peat!
Bella berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton ketika menghadapi persoalan di sekitar mereka. Setiap orang, menurutnya, dapat mengambil bagian melalui kemampuan yang dimiliki, baik lewat seni visual, tulisan, musik, maupun media sosial.
“Kita mungkin nggak bisa menyelesaikan semua masalah sendirian, tetapi kita bisa mengambil bagian dalam membuat lebih banyak orang peduli,” tutupnya.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil sekolah ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)