Hanny Kurniawan, Guru Informatika di SMA Giovanni Kupang, percaya bahwa setiap pengalaman di sekolah dapat menjadi ruang belajar, baik melalui pelajaran di kelas, pengelolaan fasilitas, maupun kegiatan ekstrakurikuler.

Keyakinan itu tumbuh dari pengalamannya menjalankan tiga peran sekaligus. Selain mengampu mata pelajaran Informatika, Hanny dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Komputer sejak 2016 dan Koordinator Ekstrakurikuler Modern Dance sejak 2013.

Ketiganya memiliki tanggung jawab yang sangat berbeda. Di kelas, Hanny mendampingi murid untuk mengembangkan kemampuan berpikir komputasional, literasi digital, dan pemanfaatan teknologi untuk menyelesaikan masalah.

Sebagai Kepala Laboratorium Komputer, ia memastikan fasilitas belajar tersedia dan dapat digunakan sebagai ruang eksplorasi teknologi. Sementara melalui modern dance, ia membantu murid mengembangkan kreativitas, kepercayaan diri, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja sama.

Sekilas, Informatika, pengelolaan laboratorium, dan modern dance tampak seperti tiga bidang yang tidak saling berkaitan. Namun, bagi Hanny, justru perpaduan itulah yang membentuk cara pandangnya sebagai pendidik.

“Dunia Informatika mengajarkan saya tentang logika dan sistematika, pengelolaan laboratorium mengajarkan saya tentang tanggung jawab dan manajemen, sedangkan modern dance memberikan ruang untuk kreativitas, ekspresi, dan kolaborasi,” ungkapnya, Rabu, 4 November 2026.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Saipul Effendi Bantu Siswa Temukan Potensi Lewat OSIS

Potret Hanny Kurniawan saat mengajar di kelas (Foto: dokumentasi pribadi Hanny Kurniawan)

Dari ketiga peran tersebut, Hanny belajar bahwa setiap murid memiliki potensi yang berbeda. Karena itu, sekolah perlu menyediakan ruang agar mereka dapat berkembang melalui beragam pengalaman, bukan hanya berdasarkan pencapaian akademik.

Menjalankan tiga tanggung jawab sekaligus tentu bukan perkara mudah. Hanny harus membagi waktu dan energi antara kegiatan belajar mengajar, administrasi laboratorium, serta pendampingan ekstrakurikuler modern dance. Yang tentunya setiap peran memiliki kebutuhan dan tuntutan yang berbeda.

“Dari situ saya juga belajar untuk tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Membangun tim, memberikan kepercayaan kepada murid, serta melibatkan rekan kerja menjadi hal yang sangat penting,” terang Hanny.

Dari pengalaman tersebut, ia semakin memahami bahwa tantangan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Justru melalui berbagai tantangan itulah Hanny belajar menjadi pribadi yang lebih adaptif, kreatif, dan tangguh dalam menjalankan peran sebagai pendidik.

Salah satu upaya yang ia lakukan adalah memanfaatkan laboratorium komputer sebagai ruang pengembangan kreativitas dan prestasi murid. Laboratorium tidak hanya digunakan untuk mempelajari materi Informatika, tetapi juga mendukung kegiatan nonakademik.

Murid dapat memanfaatkan teknologi untuk membuat desain publikasi, mengedit video penampilan, mendokumentasikan kegiatan, hingga mengembangkan konten digital kreatif. Dengan begitu, keterampilan yang mereka pelajari di kelas dapat diterapkan untuk mendukung aktivitas di luar pembelajaran.

Momen Hanny Kurniawan saat menjadi Koordinator Ekstrakulikuler Modern Dance (Foto: dokumentasi pribadi Hanny Kurniawan)

Baca Juga: DBL Super Teacher: Faries Vebriansyah Jadikan Basket Ruang Belajar Karakter

Di SMA Giovanni Kupang, keseimbangan antara akademik dan nonakademik juga didukung oleh aturan sekolah. Murid diwajibkan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan akademik sebelum menjalani kegiatan nonakademik pada sore hari. Jika tidak mengikuti kegiatan akademik pada pagi hari, mereka tidak diperkenankan mengikuti aktivitas nonakademik pada sore harinya.

“Setiap murid juga diwajibkan mengikuti dua jenis ekstrakurikuler dalam satu minggu. Karena itu, guru pendamping turut membimbing mereka dalam mengatur waktu agar tanggung jawab akademik tetap terpenuhi,” ujarnya.

Bagi Hanny, kedisiplinan tersebut penting agar murid memahami bahwa aktif di luar kelas bukan berarti mengabaikan kewajiban belajar. Keduanya justru dapat berjalan beriringan jika dikelola dengan baik.

Pengalaman menjalankan berbagai peran di sekolah turut mendorong Hanny untuk mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan kemampuan akademik, kreativitas, teknologi, dan penguatan karakter. Salah satu pendekatan yang ingin ia kembangkan adalah learning by doing, yakni belajar melalui pengalaman nyata.

Dalam pembelajaran Informatika, misalnya, murid dapat mengerjakan proyek digital yang berkaitan dengan kegiatan nonakademik sekolah. Mereka bisa merancang media promosi ekstrakurikuler, membuat video kreatif, mengolah data kegiatan, atau mengembangkan konten digital. Teknologi kecerdasan artifisial juga dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk mendukung proses berkarya.

Melalui pendekatan tersebut, murid tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga berkesempatan menghasilkan karya, menyelesaikan masalah, dan berkolaborasi. Kegiatan nonakademik pun dapat menjadi tempat untuk menerapkan keterampilan yang diperoleh di kelas.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Haryanti Ubah Fisika Jadi Pengalaman Belajar Menyenangkan

Potret Hanny Kurniawan saat memaparkan materi di kelas (Foto: dokumentasi pribadi Hanny Kurniawan)

Gagasan untuk terus mengembangkan diri itu pula yang mendorong Hanny mengikuti DBL Super Teacher 2026. Baginya, kesempatan ini menjadi ruang untuk keluar dari zona nyaman, berbagi pengalaman, sekaligus belajar dari praktik baik para pendidik lain.

“Saya ingin menjadi guru yang bukan hanya dikenang karena materi yang diajarkan, tetapi juga karena pengalaman dan inspirasi yang diberikan kepada murid-muridnya,” tuturnya.

Hanny berharap, pembelajaran di sekolah dapat memberi ruang bagi setiap murid untuk tumbuh secara utuh. Sebab, pengetahuan akademik, keterampilan, kreativitas, dan kepercayaan diri bukanlah hal yang harus berjalan sendiri-sendiri. Semuanya dapat saling melengkapi dalam mempersiapkan murid menghadapi masa depan.

Hanny adalah salah satu dari Top 24 DBL Super Teacher yang akan menjalankan bootcamp 18-21 November 2026 di Jakarta. Mari terus dukung perjuangan Ibu Hanny Kurniawan dalam mendampingi bakat dan membentuk karakter masa depan generasi muda Indonesia.(*)

Populer

Bawa Pulang Gelar MVP, Doa Richelle Terjawab Lebih dari Harapannya
Cara Benawa Daniswa Memaknai Arti Kemenangan yang Sesungguhnya
Ayasha-Aqylla, Dua Sahabat yang Bertemu Sebagai Rival di Final DBL South Jakarta
Roro Ayu Almira dan Mimpi yang Belum Usai Bersama Almode
Sempat Menyerah, Justin Sinambela Kini Berharap Bisa Tembus Indonesia Arena