DBL ACADEMY

Junior DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Momen Saipul Effendi saat menjadi pembina OSIS di SMA Bulungan, Kalimantan Utara (Foto: dokumentasi pribadi Saipul Effendi)

Saipul Effendi, guru Bahasa Inggris di SMA Bulungan, Kalimantan Utara, berkeyakinan proses mendidik tidak hanya memberikan materi pelajaran di kelas, tetapi juga berarti membuka ruang bagi siswa untuk mengenali dan mengembangkan potensi dirinya. Salah satunya melalui kegiatan organisasi sekolah.

Pengalaman itu ia rasakan saat mendampingi seorang pengurus OSIS yang awalnya dikenal sebagai siswa pemalu. Ketika pertama kali masuk, siswa tersebut masih memiliki kendala dalam berbahasa Inggris dan kurang percaya diri saat harus berbicara di depan umum.

Namun, Saipul melihat potensi yang bisa dikembangkan. Melalui pembelajaran Bahasa Inggris secara bertahap dan pendampingan di OSIS, ia mulai memberikan kepercayaan kepada siswa tersebut untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar.

Kesempatan itu datang ketika sekolah menggelar acara bertajuk Dari Kelas ke Layar Lebar yang melibatkan pihak eksternal. Saipul mempercayakan posisi Project Manager kepada siswa tersebut. Tanggung jawab itu menjadi kesempatan baginya untuk belajar memimpin, berkomunikasi, dan mengelola sebuah kegiatan secara langsung.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Faries Vebriansyah Jadikan Basket Ruang Belajar Karakter

Potret Saipul saat menjadi pembina OSIS di SMA Bulungan, Kalimantan Utara (Foto: dokumentasi pribadi Saipul Effendi)

Hasilnya, perubahan mulai terlihat. Siswa tersebut berhasil memimpin acara hingga berjalan sukses. Kepercayaan dirinya juga berkembang, termasuk dalam kemampuan berbicara di depan umum dan melakukan presentasi menggunakan bahasa Inggris. Saipul menyebut capaian akademiknya pun meningkat.

“Pengalaman ini membuktikan bahwa pembinaan organisasi yang tepat justru memantik potensi akademik yang selama ini terpendam,” ungkap Saipul, Rabu, 4 November 2026.

Saipul menjadikan pengalaman tersebut sebagai gambaran bahwa kemampuan siswa tidak selalu berkembang hanya melalui pembelajaran di kelas. Kegiatan organisasi dapat menjadi ruang praktik untuk mengasah keterampilan komunikasi, kepemimpinan, hingga keberanian mengambil keputusan.

Saipul yang menjalani peran sebagai guru Bahasa Inggris sekaligus Pembina OSIS memberikan pendekatan yang berbeda. Saat mengajar di kelas, ia berfokus membangun kemampuan komunikasi global, pola pikir kritis, serta rasa percaya diri siswa.

Sementara itu, melalui OSIS, ia mendampingi siswa untuk menerapkan kemampuan tersebut dalam situasi nyata. Mulai dari merancang organisasi, mengelola konflik, hingga menjalankan program kerja sekolah. Dua peran tersebut membuatnya dapat melihat perkembangan siswa, baik dari sisi akademik maupun kepemimpinan.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Haryanti Ubah Fisika Jadi Pengalaman Belajar Menyenangkan

Meski begitu, menjalankan keduanya bukan tanpa tantangan. Saipul harus membagi waktu antara kewajiban mengajar, administrasi, riset, dan pendampingan kegiatan OSIS yang terkadang berlangsung di luar jam sekolah. Selain itu, masih ada anggapan bahwa keterlibatan siswa dalam organisasi dapat mengganggu pencapaian akademik.

Untuk menjembatani perbedaan pandangan tersebut, Saipul membangun kesepakatan tertulis bersama pengurus OSIS. Kesepakatan itu menegaskan bahwa aktivitas organisasi tidak boleh membuat performa akademik siswa menurun.

Ia juga membuka komunikasi berkala dengan guru mata pelajaran sebelum kegiatan OSIS dilaksanakan. Rencana kegiatan, daftar siswa yang terlibat, hingga kebutuhan dispensasi jam pelajaran disampaikan lebih awal. Dengan begitu, para guru dapat memberikan masukan terkait jadwal sekaligus menyiapkan penugasan alternatif bagi siswa.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Luthfi Ridzki Tanamkan Kepemimpinan Lewat Pendidikan

Tak berhenti di situ, Saipul turut berdiskusi dengan rekan guru agar hasil kegiatan OSIS bisa diintegrasikan ke dalam penilaian mata pelajaran. Misalnya, penyusunan proposal atau pembuatan konten publikasi acara dapat menjadi bagian dari tugas Bahasa Inggris maupun Informatika.

Pendekatan tersebut menjadi upayanya untuk menunjukkan bahwa kegiatan organisasi bukan penghambat pembelajaran. Sebaliknya, OSIS dapat menjadi tempat bagi siswa untuk mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh di kelas.

Pengalaman mendampingi siswa melalui dua lingkungan belajar tersebut turut membentuk gagasan Saipul dalam mengembangkan pendidikan yang lebih terintegrasi. Hal itu pula yang menjadi salah satu motivasinya mengikuti DBL Super Teacher 2026.

Potret Saipul saat mengajar di kelas (Foto: dokumentasi pribadi Saipul Effendi)

Ia ingin memperluas pandangan bahwa tugas seorang guru tidak berhenti pada penyampaian materi akademik, tetapi juga mencakup pendampingan karakter dan kepemimpinan siswa. Melalui program ini, Saipul berharap dapat menimba ilmu lewat bootcamp intensif sekaligus bertukar pengalaman dengan guru-guru inspiratif dari berbagai daerah di Indonesia.

Saipul tidak ingin berpuas diri dengan pendekatan yang telah ia lakukan. Ke depannya, ia ingin mengembangkan pendekatan baru lewat Project-Based Service Learning (PBSL) yang terintegrasi dengan teknologi. Melalui metode tersebut, tugas akademik seperti penyusunan esai, riset, dan presentasi Bahasa Inggris dapat dirancang untuk mendukung kebutuhan nyata kegiatan nonakademik atau program OSIS.

Sebagai contoh, pengurus OSIS dapat menyusun proposal kegiatan maupun membuat konten kampanye sosial sekolah. Hasil pekerjaan tersebut tidak hanya digunakan untuk menjalankan program organisasi, tetapi juga dapat dinilai sebagai bagian dari pembelajaran di kelas.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Solekah dan Misi Mentransformasi PJOK Lewat Strength Training

Dengan demikian, siswa memiliki kesempatan untuk menerapkan pengetahuan akademik dalam situasi nyata. Di sisi lain, bekal akademik membantu mereka menyusun program organisasi dengan lebih terarah.

Saipul meyakini bahwa pembelajaran seharusnya memang mampu melihat siswa secara utuh, tidak hanya sebatas nilai akhir yang diperoleh tiap siswa. Prestasi di kelas dan pengalaman di luar kelas bukan dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dapat saling melengkapi dalam membentuk generasi muda yang percaya diri, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan.

Saipul adalah salah satu dari Top 24 DBL Super Teacher yang akan menjalankan bootcamp 18-21 November 2026 di Jakarta. Mari terus dukung perjuangan Bapak Saipul Effendi dalam mendampingi bakat dan membentuk karakter masa depan generasi muda Indonesia.(*)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS