DBL ACADEMY

Junior DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Potret Chikal Kirana saat pertandingan tim putri SMAN 78 Jakarta versus SMA Dian Harapan Jakarta di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Jakarta

Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Jakarta semestinya menjadi perjalanan pembuka yang paling membahagiakan bagi Chikal Kirana Putridewi, salah satu pemain anyaran yang memperkuat tim putri SMAN 78 Jakarta (Tujuh Delapan). 

Chikal, begitu ia disapa, tentu membawa ekspektasi besar saat memulai langkahnya di kompetisi ini. Mengingat, srikandi Tujuh Delapan dikenal memiliki rekam jejak mentereng sebagai back-to-back champion pada 2024 dan 2025. 

Musim ini seharusnya menjadi momentum bagi Chikal untuk meneruskan dominasi Tujuh Delapan sebagai Ratu DBL West Jakarta. Namun, harapan tersebut justru langsung runtuh saat Chikal bersama rekan-rekannya melakoni laga perdana, Minggu, 23 Oktober 2026. 

Tidak pernah terbayang bagaimana rasanya harus menerima kekalahan ketika Chikal baru saja menginjakkan kaki di persaingan DBL West Jakarta 2026. Kala itu, Tujuh Delapan dipaksa tunduk di hadapan SMA Dian Harapan Jakarta (Zebaoth) dengan skor akhir 19-8. 

Sebuah pukulan besar bagi Chikal. Dirinya hanya bisa tertunduk lesu, sembari berjalan keluar dari arena pertempuran. 

Tiga bulan telah berlalu sejak Chikal harus menghadapi kenyataan pahit tersebut. Waktu memberinya ruang untuk perlahan menerima keadaan dan berdamai dengan perasaannya. Kini, ia sudah jauh lebih siap untuk mengingat kembali memori itu, termasuk mengungkapkan perasaannya lebih dalam.

“Aku sempat nge-down karena seharusnya Tujuh Delapan bisa threepeat. Aku sedih banget karena enggak bisa tiga kali champions di West Jakarta,” buka Chikal. 

Ia kemudian melanjutkan. “Pas tanding, aku juga nervous banget, padahal aku sudah biasa tanding di mana-mana. Aku benar-benar demam panggung.”

Namun, di balik kekecewaan yang harus diterima Chikal, ada sosok yang selalu menjadi tempatnya kembali. Sosok yang bukan hanya hadir untuk memberikan dukungan ketika keadaan tak berjalan sesuai harapan, tetapi juga menjadi bagian besar dari perjalanan Chikal hingga mengenal dan mencintai basket. Sosok itu adalah sang ayah, Agung Christyantho.

agung christyantho
Potret Agung Christyantho saat memberikan dukungan bagi Chikal Kirana di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Jakarta

Bagi Chikal, sang ayah punya peran yang begitu besar dalam perjalanan basketnya. Jauh sebelum mengenakan seragam Tujuh Delapan dan merasakan atmosfer DBL, Agung sudah lebih dulu memperkenalkan olahraga ini kepadanya. 

Baca Juga: Demi Mengejar Mimpi Bersama Tiga Enam, Mas Aditya Permana Ingin Tetap Konsisten

Agung sendiri bukan sosok asing di dunia basket, khususnya kompetisi DBL. Ia pernah menjadi bagian dari jajaran pelatih DBL All Star 2015. Selain itu, ia juga sempat menangani tim basket SMA Saint John Tangerang Selatan pada 2019 dan 2021.

Meski tumbuh di lingkungan yang dekat dengan basket, Chikal ternyata tidak langsung jatuh hati pada olahraga tersebut. 

“Awalnya anak saya kurang suka basket. Tapi lambat laun saya ajak menemani melatih. Saya juga iseng-iseng melatih dia di rumah. Akhirnya anaknya mulai tertarik juga,” cerita Agung.

Sementara itu, bagi Chikal, ketertarikan tersebut tumbuh dari kebiasaan sederhana. Ia kerap melihat sang ayah bermain basket sekaligus menjalankan aktivitas kepelatihan di berbagai sekolah. Pemandangan itu perlahan membuatnya penasaran hingga akhirnya memutuskan untuk mencoba sendiri.

Dari sekadar mencoba, basket kemudian menjadi rutinitas yang semakin akrab dengannya. Chikal mengaku sudah merasa nyaman dengan olahraga ini sejak kecil. Perasaan itulah yang membuatnya memilih untuk terus bertahan dan mengembangkan kemampuannya hingga sekarang.

Ada satu hal menarik dari perjalanan keduanya. Agung tidak hanya berperan sebagai ayah yang memberikan dukungan, tetapi juga menjadi pelatih yang mendampingi perkembangan Chikal. Keduanya pun memiliki ruang tersendiri untuk saling belajar, meski Agung menyadari bahwa melatih anak sendiri bukan perkara mudah.

“Kadang tantangan orang tua itu memang susah ketika harus melatih anaknya sendiri. Tapi semenjak saya melihat daya juangnya, saya merasa apa pun yang dilakukan anak, saya akan tetap mendukung. Kerja kerasnya luar biasa dan apa pun hasilnya, saya pasti support,” tutur Agung.

Dukungan itu juga terasa ketika Chikal mulai mengenal DBL. Sejak memasuki tahun terakhir di bangku SMP, ia sudah menyimpan keinginan untuk bisa merasakan atmosfer kompetisi tersebut. Bahkan, impian itu pernah ia tuliskan dalam sebuah tugas saat kelulusan SMP.

“Aku tahu DBL dari pertengahan SMP. Menurutku DBL keren banget, jadi aku sudah punya mimpi mau main DBL sejak sekitar kelas VIII atau IX. Waktu graduation SMP, aku pernah disuruh menulis cita-cita. Aku tulis mau main di DBL dan ternyata sekarang bisa terwujud,” kenangnya.

Baca Juga: Roro Ayu Almira dan Mimpi yang Belum Usai Bersama Almode

Chikal kirana
Potret Chikal Kirana (kiri), Agung Christyantho (kanan), beserta keluarga saat menonton pertandingan Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Jakarta Championship

Meski perjalanan pertama Chikal di DBL West Jakarta 2026 belum sesuai harapan, Agung sebagai seorang ayah juga memperoleh pelajaran berharga dari kekalahan itu. 

“Dengan keikutsertaan anak saya di DBL, ini membantu saya merefleksikan diri sebagai orang tua dan pelatih dalam menuntun karier anak. Saya harus lebih memberikan pengertian bahwa dia harus punya niat, konsisten, dan serius dalam proses. Namun, harus tetap tenang dan bijaksana terhadap hasil. Menang atau kalah, evaluasi dan perbaiki diri,” jelasnya.

Pesan itu pula yang terus Agung tanamkan kepada Chikal. Baginya, menjadi seorang student-athlete bukan hanya soal kemampuan di lapangan. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan, mulai dari mengatur waktu belajar, berlatih, hingga menjaga sportivitas saat bertanding.

Ia ingin Chikal memahami bahwa setiap kesempatan di dunia basket merupakan bagian dari proses pembentukan karakter. 

Di sisi lain, Chikal juga punya alasan tersendiri untuk terus berkembang. Ia bangga bisa meningkatkan kemampuannya sedikit demi sedikit, terlebih ketika pencapaiannya di lapangan mampu membuat kedua orang tuanya ikut bahagia.

Namun, ada satu hal yang terasa lebih sederhana sekaligus bermakna bagi Chikal. Di balik keinginannya untuk terus berkembang dan meraih prestasi, ia menyimpan harapan yang tidak muluk-muluk.

“Mimpi terbesar aku sederhana banget. Aku cuma mau lihat ayah dan ibu aku tersenyum bangga di tribun,” ucapnya.

Kini, setelah melewati pengalaman pahit di DBL West Jakarta 2026, Chikal masih punya banyak kesempatan untuk melanjutkan perjalanannya. Di setiap langkah yang ia ambil, ada pula sosok ayah yang akan terus mendampingi.

Final DBL Jakarta di Indonesia Arena termasuk dalam rangkaian Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 yang mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp. 

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema “100% Indonesia”. Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. 

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa lakukan scroll dengan double tap)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS