“Aku nggak tahu sih mau jadi apa sekarang dan ke depannya, kalau dulu nggak mengenal basket.”
Kalimat itu diucapkan I Komang Tri Hita Karana Putra dengan nada ringan, tapi maknanya jauh dari sederhana. Bagi pemain asal SMAN 1 Busungbiu tersebut, basket bukan sekadar hobi, melainkan jalan untuk meraih cita-cita.
Mangtri, panggilannya, merupakan salah satu wajah dari mimpi yang tumbuh di pinggiran. Sekolahnya belum memiliki kesempatan tampil di panggung utama Honda DBL with Kopi Good Day 2025 Bali (DBL Bali). Bukan karena tak mau, melainkan karena keterbatasan. Jumlah pemainnya sedikit dan dukungan dana akomodasi belum memadai.
Terlebih, jarak antara lokasi penyelenggaraan DBL Bali di Denpasar dengan Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, sekitar 120 Kilometer. Butuh waktu empat jam untuk sampai ke sana jika ditempuh menggunakan mobil.
Baca Juga: Setelah Tempuh 244 Km Demi AZA 3X3, Kini Eqi Incar DBL Play Road to DBL Camp!
Akhirnya, SMAN 1 Busungbiu memilih jalur yang lebih mungkin dijangkau, yakni AZA 3X3 Competition 2025 Bali. "Personel yang ikut nggak banyak, jadi bisa menghemat anggaran," kata Mangtri.
Pilihan itu bukan berarti ambisi mereka ikut mengecil. Justru dari format yang lebih sederhana, Mangtri tetap menjaga mimpinya tetap hidup. Hebatnya, SMAN 1 Busungbiu meraih back to back champion di kompetisi tersebut. "Karena kemarin meraih juara, rasa ingin menghidupkan basket dalam diri sendiri dan daerah jadi lebih besar," lanjutnya.

I Komang Tri Hita Karana Putra, saat menerima penganugerahan, usai menjuarai AZA 3X3 Competition 2025 Bali
Di Busungbiu, basket bukan olahraga yang tumbuh dengan fasilitas lengkap. Kadang latihan harus berpindah dari lapangan sekolah ke lapangan umum desa yang kondisinya tak lagi sempurna. Lantainya mulai rusak, ringnya tak selalu ideal.
Namun, di sanalah Mangtri dan teman-temannya mengasah diri. Jika ada informasi kompetisi lewat media sosial dan pelatih merasa tim siap, mereka akan mencoba ikut. Meskipun biaya akomodasi sering kali harus ditutup dengan bantuan desa atau dukungan dari orang sekitar.
Perjalanan Mangtri sendiri sudah dimulai sejak kelas 3 SD. Ia mengenal basket dari kakaknya, Putu Pujastawa Putra, yang dulu juga bermain sebelum harus berhenti karena cedera lutut. Sosok kakak bukan hanya pengenalan awal, tetapi juga mentor pertama. Hingga kini, ia masih menjadi pendukung paling setia.
Sang kakak selalu menyempatkan hadir menonton, bahkan ketika lokasi pertandingan jauh dari rumah. "Kakak the best lah, meskipun aku sering dimarahin juga," tuturnya.
Bagi Mangtri, basket memberi lebih dari sekadar medali atau pengalaman tanding. Ia menemukan perasaan senang setiap kali bermain, lingkar pertemanan baru dari berbagai kompetisi, serta kesempatan untuk membuat orang tuanya bangga.
Di tengah keterbatasan akses, olahraga ini justru menjadi ruang untuk membuktikan bahwa asal-usul bukanlah batas.
Baca Juga: Perjalanan Abiyyu Desani, Berhasil Jadi Campers Berkat DBL Play Road to DBL Camp
Kini, ketika jalan menuju DBL Camp tak lagi eksklusif bagi pemain dari kompetisi utama, harapan baru muncul lewat program DBL Play Road to Kopi Good Day DBL Camp 2026. Jalur ini membuka kesempatan bagi pemain seperti Mangtri, yang mungkin tak tampil di nomor lima lawan lima dan terpilih First Team, untuk tetap bersaing melalui mekanisme voting melalui aplikasi DBL Play.
Langkah ini ia ambil dengan tujuan yang jelas: mendekatkan diri pada mimpinya menjadi bagian dari DBL Indonesia All-Star. Dan suatu hari merasakan atmosfer latihan hingga pertandingan di Amerika Serikat.
Baca Juga: Terhenti di Nominasi, Julian Wang Buka Peluang Lewat DBL Play Road to DBL Camp!
Sebenarnya, kemampuan Mangtri juga tidak berhenti di level daerah. Ia sempat membawa nama Indonesia dalam ajang basket Asian School 3X3 Basketball Championship di Tiongkok.
Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa kualitas Mangtri telah teruji di level yang lebih tinggi. Karena itu, ketika kesempatan menuju DBL Camp 2026 terbuka, langkahnya bukan sekadar mencoba peruntungan, melainkan upaya yang layak diperjuangkan.
Mangtri juga sudah banyak mendengar kabar mengenai DBL Camp. Pemusatan basket pelajar terbesar di Indonesia itu memang punya kualitas berbeda. Para pelatihnya didatangkan langsung dari Australia, hasil kerja sama DBL Indonesia dan World Baskteball Academy. "Semoga tahun ini, tahun saya ikut DBL Camp," tutupnya.
Kalian bisa membantu Mangtri untuk menembus DBL Camp 2026, deengan memberikan dukungan berupa vote melalui aplikasi DBL Play, yang akan dibuka pada 2-9 Maret mendatang.
Baca Juga: Berawal dari 3X3, Siti Farwiza Bisa Jadi Campers Lewat DBL Play Road to DBL Camp
Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026 digelar di 31 kota dan 22 provinsi se-Indonesia. Setiap tahunnya, DBL Indonesia memilih student athlete terbaik dari masing-masing kota untuk diseleksi menjadi DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026 juga menampilkan AZA 3X3 Competition 2025-2026 dan Azarine DBL Dance Competition 2025-2026.
Semua pertandingan Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026 disiarkan live di channel YouTube DBL Play. Dua musim ini DBL didukung oleh produk kopi anak muda, Kopi Good Day. (*)