Azarine DBL Dance Competition 2025-2026 kembali menunjukkan perannya sebagai wadah penting bagi para dancer muda Indonesia.
Hal ini terlihat dalam sesi National Judging yang memperlihatkan kembali penampilan 27 tim terbaik dari berbagai kota di Indonesia.
Tiga guest judges, Semmy Blank, Cynthia Arnella, dan Natya Shina, mendapat kesempatan menilai langsung penampilan para juara dari masing-masing region.
Bagi mereka, kompetisi ini bukan sekadar lomba tari tingkat pelajar SMA, tetapi juga platform yang membuka peluang bagi talenta muda dari berbagai daerah untuk tampil dan berkembang.
Semmy Blank menilai bahwa Azarine DBL Dance Competition 2025-2026 memiliki karakter berbeda dibanding kompetisi tari lain, terutama karena fokusnya pada kategori pelajar tingkat SMA.
“DBL itu sebenarnya wadah atau platform utama bagi anak-anak tingkat SMA untuk bisa berprestasi. Kalau dibilang beda, jelas beda, karena kompetisi lain jarang banget ada yang khusus untuk kategori umur SMA atau sederajat,” ujar Semmy.
Menurutnya, standar yang diterapkan dalam Azarine DBL Dance juga cukup tinggi, sehingga dapat membantu meningkatkan kemampuan para dancer muda.
“DBL punya standar yang luar biasa. Patokannya tidak gampang, tapi standar itu justru bagus untuk meningkatkan skill anak-anak SMA. Bahkan bisa jadi parameter ke depan kalau mereka ingin menjadi dancer profesional, mungkin salah satu jalurnya bisa lewat DBL dulu,” tambahnya.
Baca Juga: Penilaian Nasional Azarine DBL Dance Competition Bakal Digelar, Simak Detailnya!
Senada dengan itu, Cynthia Arnella menyoroti pentingnya sistem kompetisi yang dimulai dari tingkat regional hingga nasional. Dengan format ini, potensi dancer dari berbagai daerah dapat terlihat lebih luas.
“Pentingnya itu kita jadi bisa melihat talenta dari daerah-daerah lain. Kalau misalnya hanya di kota besar saja, banyak potensi yang tidak akan terjangkau,” jelas Cynthia.
.jpg)
Potret Cynthia Arnella saat melakoni proses penjurian Azarine DBL Dance Competition 2025-2026
“Dengan DBL datang ke kota-kota dan melakukan penyaringan, kita bisa melihat potensi luar biasa dari daerah yang mungkin sebelumnya belum kita lihat,” imbuhnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa setiap daerah memiliki karakter dance yang berbeda-beda. Hal ini menjadi pengalaman menarik bagi para juri untuk melihat perkembangan dance di berbagai provinsi.
“Akhirnya kita bisa tahu karakter dari setiap provinsi dan ternyata semuanya beda-beda. Ini juga jadi kesempatan buat kami untuk mengamati perkembangan dance di kota-kota tertentu,” katanya.
Dalam proses penilaian di tingkat nasional, juri tetap menggunakan beberapa aspek utama seperti konsep cerita, teknik, hingga penampilan di atas panggung.
Natya Shina menjelaskan bahwa meski indikator penilaian masih sama dengan tahap sebelumnya, persaingan di tingkat nasional jauh lebih ketat, karena para tim merupakan juara dari masing-masing kota.
“Penilaiannya kurang lebih sama, ada konsep storyboard atau tema, teknik, dan penampilan. Tapi bobotnya memang berbeda. Intinya kami mencari penampilan yang paling berkesan dan memorable,” ungkap Natya.
Baca Juga: 27 Tim Siap Bersaing di Penjurian Nasional DBL Dance Competition, Siapa Saja?
Ia juga melihat adanya perkembangan signifikan dari tahun ke tahun dalam kualitas penampilan para tim dance. Bahkan, menurutnya, persaingan musim ini terasa jauh lebih merata.
“Setiap tahun ada perkembangan. Tahun ini makin susah menentukan siapakah juaranya, termasuk menentukan top five. Kalau tahun lalu mungkin ada beberapa grup yang memang menonjol banget, tapi sekarang lebih merata. Artinya daerah-daerah lain juga berkembang pesat,” katanya.
.jpg)
Situasi penjurian National Judging Azarine DBL Dance Competition 2025-2026 bersama guest judges dan perwakilan Azarine serta DBL Indonesia
Melihat perkembangan tersebut, para juri berharap kompetisi ini bisa terus menjadi motivasi bagi generasi muda yang tertarik menekuni dunia tari.
Cynthia Arnella berharap para pelajar yang menyukai dance terus mengasah kemampuan mereka melalui berbagai kesempatan yang ada, termasuk kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
“Harapannya teman-teman yang memang menyukai dance bisa terus termotivasi untuk belajar. Dengan adanya ajang seperti ini, mereka bisa melihat hasil dari tahun ke tahun dan itu bisa jadi pacuan untuk terus meningkatkan skill,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa DBL Dance kini menjadi salah satu gerbang penting untuk melihat potensi generasi penerus di dunia tari.
“DBL itu seperti gerbang untuk melihat potensi generasi muda yang memang ingin berkembang di bidang tari. Kita jadi tahu bahwa selalu ada generasi penerus yang muncul dari ajang ini,” tutup Cynthia.
Kompetisi DBL merupakan event olahraga anak muda terbesar di Indonesia. Di dalamnya ada kompetisi basket, dance, suporter, dan berbagai kreativitas anak muda lainnya.
Kompetisi basketnya sendiri punya nama lengkap Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026. Kompetis ini digelar di 31 kota dan 22 provinsi se-Indonesia. Setiap tahunnya, DBL Indonesia memilih student athlete terbaik dari masing-masing kota untuk diseleksi menjadi DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026 juga menampilkan AZA 3X3 Competition dan Azarine DBL Dance Competition, yang kini menjadi kompetisi dance terbesar di Indonesia.
Semua pertandingan Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026 disiarkan live di channel YouTube DBL Play. Dua musim ini DBL didukung oleh produk kopi anak muda, Kopi Good Day.
Baca Juga: Mengenal Kopi Good Day, Produk Kopi Anak Muda yang Banyak Rasa