Pembuka jalan untuk para talenta. Sejak pertama kali mengudara, semangat kompetisi DBL Indonesia bukan soal prestasi. Bukan soal semakin sering menjadi juara. Bukan juga soal siapa yang tak pernah kalah.

Semangat yang digaungkan sejak awal adalah berpartisipasi. Semakin banyak partisipan maka semakin semarak sebuah kompetisi yang digelar. Buktinya ketika salah satu sekolah mengundurkan diri pada tahun pertama penyelenggaraan. Saat itu, mereka keberatan dengan peraturan pelajar-atlet yang menjadi konsep dasar liga DBL. 

Kehilangan satu peserta di tahun pertama. Tapi, itu justru membuat jalannya kompetisi semakin seru.

“Waktu itu ada yang bilang kalau nanti gimnya gak bakal seru soalnya sekolah yang jadi jagoan gak ikut (terjegal regulasi). Saya gak peduli justru bisa aja lebih rame tanpa mereka. Buktinya memang lebih rame,” ujar Azrul Ananda, founder DBL Indonesia.

Seiring berjalannya waktu penyelenggaraan, DBL bukan lagi soal liga basket antarpelajar di Indonesia. Melainkan menjadi wadah menyalurkan minat dan bakat mereka.

Baca juga: 22 Tahun DBL: Perjalanan Aldy Frilenzo Tumbuh Bersama DBL Dance

Lebih jauh lagi menjadi tempat untuk menggantung mimpi dan cita-cita. Membuka jalan bagi pelajar-atlet untuk berani menaruh mimpi setinggi mungkin. Jembatan untuk menemukan talenta-talenta potensial.

Hasilnya? Banyak. Masih ingat dengan kisah manis timnas basket putri yang sukses meraih emas SEA Games 2023? Nah, ada delapan pemain yang masuk dalam skuad bersejarah itu dan dulunya sempat melantai di ajang DBL.

Saat DBL Indonesia berusia 18 tahun (2022), mereka berkolaborasi dengan PB PASI untuk menyelenggarakan kompetisi atletik pelajar terbesar di Indonesia. SAC (Student Athletics Championship) Indonesia namanya. Konsepnya sama dengan DBL Indonesia. Pelajar-atlet masih menjadi fondasi utama yang digaungkan kala itu.

Musim pertama SAC Indonesia berlangsung di sembilan regional: Bali Nusra, Papua, Yogyakarta, Kalimantan, East Java, North Sumatra, Jakarta Banten, West Java, dan Central Java.

Baca juga: 22 Tahun DBL: Lewat Yad, Mimpi dari Kaki Rinjani Hadir di Lintasan Atletik

Para juara di sembilan regional bersaing kembali pada babak National Championship. Nantinya para juara di babak National Championship berangkat untuk mengikuti international training camp.

Membuka jalan dan memberi kesempatan untuk berani melangkah jauh. Dua hal itu diungkapkan oleh Muhammad Iqra Syahputra, alumnus SMAN 2 Sumbawa Besar yang berhasil menjadi jawara 1.000 meter putra dari regional Bali Nusra. 

“SAC Indonesia jadi batu loncatan buat saya untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi. Saya dapat beasiswa untuk kuliah ya dari prestasi yang saya ukir di SAC,” ujar Iqra.

Yup, nama Iqra melambung ketika berhasil menjadi pelari pertama yang berhasil menamatkan jarak 1.000 meter di regional Bali Nusra. Itu membuatnya berangkat ke babak National Championship.

Iqra Syahputra ketika berlari di ajang Borobudur Maraton 2023

Lonjakan prestasi Iqra terus berlanjut. Di babak penyisihan National Championship ia keluar sebagai yang tercepat. Lolos ke babak final National Championship.

“Pastinya saat itu bangga bisa mewakili daerah menuju nasional. Apalagi persaingan di Bali Nusra itu ketat,” ucapnya.

Di babak final, Iqra berhasil finis di urutan kedua dengan catatan waktu 2 menit 47,89 detik. Iqra sangat bersyukur meski harapannya untuk merasakan international training camp pupus.

Baca juga: Ibunda Viknes Waren: DBL dan Basket Membentuk Mentalnya Sejak Remaja

“Banyak yang pengin sampai ke babak National Championship. Berysukur bisa memberikan yang terbaik walau waktu itu dikasih sama Allah jadi runner up,” ungkapnya.

Baginya, SAC Indonesia menjadi wadah bagi pelajar-atlet seperti dirinya untuk membuktikan diri. “Buat saya yang berasal dari daerah terpencil, SAC itu sangat penting. Sorotan yang diberikan dan juga kemasan perlombaannya bikin saya semakin terpacu untuk terus berlatih,” terangnya.

Yup, sejak mengetahui akan ada kabar kompetisi atletik pelajar terbesar di Indonesia, Iqra langsung membidik target juara. Lolos nasional.

“Saya melakukan persiapan sematang mungkin. Waktu itu saya bilang ke diri saya untuk harus lolos ke nasional,” ceritanya.

“Menurut saya SAC itu jadi wadah penjaringan atlet-atlet muda yang nantinya bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional,” 

Selepas menamatkan masa SMA, nama Iqra semakin harum. Ia terpilih sebagai Young Talent Borobudur Marathon 2023 kategori 10K. Iqra finis di urutan kedua dengan catatan waktu 35 menit 56 detik.

Baca juga: 22 Tahun DBL: Elang Dewanto dan Masa Depannya di Liga Basket Pro

“Setelah SAC banyak peluang yang saya dapatkan dan juga prestasi saya semakin lebih baik. Semua pengalaman saya di SAC, saya jadikan pelajaran untuk membantu saya menjadi atlet profesional di masa mendatang,” terangnya.

Saat ini, kompetisi SAC Indonesia absen mengudara. Iqra berharap secepatnya panggung tersebut kembali digelar. “Menurut saya, SAC sangat penting untuk diadakan setiap tahun. Karena itu membantu saya dan teman-teman yang lain untuk menggapai mimpi. Walau mungkin sekadar dapat beasiswa kuliah. Pokoknya harus diadakan seperti tahun-tahun sebelumnya,” tandasnya.

Sekali lagi, DBL Indonesia menjadi pembuka jalan untuk pelajar-atlet berani bermimpi. Lewat atletik bisa mendapat beasiswa, mengejar cita-cita dan membanggakan nama Indonesia. Maju terus, Iqra!

Populer

TC Dimulai! Skuad DBL All-Star 2026 Asah Fisik dan Taktik di Hari Pertama
Menang Besar di Scrimmage Game, Tim Putri DBL All-Star Enggan Merasa Puas
Rahasia Joanne Giovanni Atasi Kejenuhan Bermain Basket
Lagu-Lagu Ini Bisa Bangkitkan Semangatmu Setelah Mangalami Kekalahan
11 Varian Rasa Kopi Good Day, Kopi Anak Muda yang Wajib Banget Kamu Coba