ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Potret pelatih SMAN 15 Surabaya, Agung Sunarko saat mendampingi Libels di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North

Pengalaman panjang Agung Sunarko di basket profesional telah membawanya ke tempat yang berbeda. Setelah bertahun-tahun merasakan kerasnya persaingan sebagai pemain, pria yang akrab disapa Asun itu kini banyak menghabiskan waktunya untuk mendampingi pemain-pemain muda.

Asun pernah menjadi bagian dari perjalanan sukses Satria Muda pada era 2000-an. Bersama klub tersebut, ia mengoleksi tujuh gelar juara Indonesian Basketball League (IBL) sebelum mengakhiri kariernya sebagai pemain pada 2014.

Setelah pensiun, Asun tidak benar-benar meninggalkan basket. Ia beralih ke sisi lain lapangan dengan menjalani peran sebagai pelatih, termasuk menangani tim basket putra SMAN 15 Surabaya (Libels) sejak 2024.

Dua tahun bersama Libels membuat Asun tak hanya sibuk memikirkan strategi pertandingan. Ia justru menemukan pekerjaan yang lebih panjang yakni mengubah cara para student athlete memahami basket.

Baca juga: Kembali Setelah 7 Tahun! Soulbeatz Tampilkan Mimpi Anak Bangsa di AQUA DBL Dance

Ketika pertama kali datang, Asun menilai kemampuan pemain Libels sebenarnya sudah cukup. Namun, ia merasa mereka masih bermain tanpa pemahaman yang utuh mengenai permainan.

“Sebetulnya saat itu kondisinya lumayan, cuma tetap butuh merombak secara mindset. Supaya anak-anak lebih berani, lebih bisa mengerti tentang main basket itu bagaimana. Jadi enggak asal cuma main, main, main,” ujar Asun.

Karena itu, ia tidak langsung menjadikan teknik sebagai prioritas. Asun lebih dulu ingin membentuk kebiasaan para pemain ketika berlatih.

Menurutnya, setiap sesi latihan harus dijalani dengan keseriusan yang sama seperti pertandingan. Ia ingin pemain terbiasa memberikan usaha terbaik, sehingga sikap tersebut terbawa secara natural ketika kompetisi dimulai.

“Dalam latihan ini harus fight. Saya ingin anak-anak setiap latihan harus fight, supaya nanti jadi habit,” jelasnya.

Bagi pelatih berusia 49 tahun itu, kebiasaan tersebut menjadi fondasi sebelum berbicara mengenai hasil pertandingan.

Sebab basket yang ia pahami dari pengalaman sebagai pemain profesional tidak berhenti pada siapa yang paling banyak mencetak poin. Ada komunikasi, kerja sama, kekompakan, hingga tanggung jawab setiap pemain terhadap tim.

“Basket itu enggak cuma latihan, main, bagaimana main, mencetak poin, selesai. Karena basket ini kerja sama. Tim, kekompakan, teamwork. Nah, ini yang saya bangun ke mereka,” tuturnya.

Baca juga: Sempat Tak Suka Basket, Falih Kini Bawa Smamio Bangkit

Namun, membangun sebuah tim sekolah memiliki tantangan yang berbeda dari menangani tim profesional. Komposisi pemain terus berubah setiap tahun. Ketika pemain kelas 12 lulus, pemain-pemain yang lebih muda harus siap meneruskan apa yang telah dibangun.

Musim ini, Libels diperkuat pemain kelas XI dan XII. Situasi tersebut membuat regenerasi menjadi salah satu perhatian Asun.

Ia tidak memberikan perlakuan khusus kepada pemain muda. Sebaliknya, mereka sejak latihan sudah ditempatkan dalam situasi yang menyerupai pertandingan agar terbiasa mengambil keputusan dan menjalankan peran.

“Setiap saya melatih, saya memposisikan anak-anak harus sesuai dengan pertandingan. Jadi latihan sama dengan pertandingan,” katanya.

Dengan begitu, pemain yang saat ini masih belajar dari seniornya diharapkan tidak memulai semuanya dari nol ketika kelak menjadi generasi utama Libels.

Nilai yang juga terus dibawa Asun dari masa bermainnya adalah kedisiplinan. Tetapi ia tidak ingin disiplin hanya berhenti sebagai instruksi dari pelatih. Baginya, sikap tersebut harus terlihat dari kebiasaan sehari-hari dan dicontohkan langsung.

“Saya tanamkan kedisiplinan dulu. Baru tanggung jawab, kerja keras,” ujarnya.

Meski demikian, Asun tetap mengingatkan para pemain bahwa menjadi student athlete bukan berarti mengesampingkan kewajiban mereka sebagai siswa. Ia ingin basket dan pendidikan berjalan beriringan.

“Mindset-nya basket, basket. Tapi juga jangan lupa, tidak boleh meninggalkan pelajaran sekolah,” tegasnya.

Pendekatan tersebut perlahan mulai membentuk wajah baru Libels. Asun melihat chemistry antar pemain kini semakin terbangun, meski ia masih ingin melihat perkembangan lebih jauh.

Baca juga: Tiga Koboi dibawa Smamiotifo ke DBL Arena, Apa Maksudnya?

Ketika diminta menggambarkan karakter Libels saat ini, Asun memilih satu istilah, “nothing to lose.”

Dua tahun setelah pertama kali datang, Asun masih memiliki pekerjaan yang belum selesai. Akan ada pemain baru yang masuk, pemain senior yang lulus, dan tantangan yang kembali berubah.

Namun, justru di situlah peran Asun sebagai pelatih sekolah menjadi lebih panjang dari sekadar menyiapkan tim untuk satu kompetisi.

Ia sedang berusaha memastikan setiap pemain yang pernah berada di bawah arahannya membawa pulang sesuatu yang lebih dari pengalaman bertanding yaitu cara memahami basket, cara bekerja sebagai tim, dan cara menjalani proses.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil pelatih ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS