Rumah yang jauh membuat seorang anak belajar mengenal hidup dengan cara yang berbeda.
Belajar menyiapkan hari sendiri. Belajar hidup bersama orang-orang yang awalnya asing. Juga belajar menerima kenyataan bahwa pada beberapa momen penting, orang tua hanya bisa hadir lewat layar ponsel.
Lalu, pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di pikiran saya.
Bagaimana rasanya menjalani hari-hari jauh dari rumah sejak usia 15 tahun, lalu berdiri di ambang final tanpa kedua orang tua di sisi lapangan?
Bagaimana rasanya ketika kota tempatmu bertanding berjarak ratusan kilometer dari rumah, sementara orang-orang yang paling ingin melihatmu bermain justru hanya bisa menyaksikan dari jauh?
Dan bagaimana rasanya ketika semua itu harus dihadapi pada tahun pertama sebagai seorang siswa SMA?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya kepada Styfen Pedro Mangewa, pemain kelas X SMA Gloria 1 Surabaya. Anak asal Palu yang merantau ke Surabaya untuk basket itu sedang bersiap menjalani partai puncaknya di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North.
Dua hari sebelumnya, sekitar pukul 16.00, saya mendapat penugasan dari tim redaksi DBL.id untuk mengikuti perjalanan seorang pemain menuju partai final.
Saya memilih Pedro.
Bukan hanya karena ia masih rookie. Bukan pula semata karena namanya menjadi bagian dari skuad Gloria 1 yang berhasil menembus partai puncak. Ada cerita yang berjalan jauh sebelum ia mengenakan jersey nomor 18 itu.
Ada rumah yang ditinggalkan, orang tua yang tidak bisa datang, dan sebuah keputusan untuk tetap mengejar basket meski harus melakukannya jauh dari Palu.
***
Sabtu, 3 Oktober 2026, sekitar pukul 10.00 WIB, saya berangkat menuju tempat tinggal Pedro. Perjalanan sekitar 20 menit membawa saya ke kawasan Surabaya Barat, tempat Pedro tinggal bersama salah satu rekan setimnya, Suryadinata Putera Hartono.
Begitu sampai, Pedro dan Surya menyambut saya di tempat tinggal mereka dengan raut muka khas orang yang baru bangun tidur. Rambut keduanya masih sedikit berantakan.
Tidak ada suasana terburu-buru seperti yang mungkin saya bayangkan dari dua pemain yang beberapa jam lagi akan menjalani partai final. Belum ada ketegangan yang terlihat dari wajah keduanya. Final masih terasa seperti sesuatu yang berada beberapa jam di depan.
Kami kemudian berjalan menuju tempat makan yang berada tepat di depan tempat tinggal mereka. Saya, Pedro, dan Surya duduk bertiga. Pagi itu, obrolan kami masih seputar hal-hal ringan. Kami membiarkan percakapan mengalir begitu saja sambil menikmati makanan.
Saya lebih dulu mengajak Surya berbincang. Saya bertanya tentang asalnya, sudah berapa lama ia tinggal di Surabaya, hingga keseharian mereka selama tinggal bersama. Pertanyaan-pertanyaan kecil itu membuat suasana pagi terasa lebih cair.
Sesekali, pembicaraan bergeser kepada pertandingan yang akan mereka jalani. Saya menanyakan bagaimana perasaan mereka di hari final. Pedro dan Surya menjawab pertanyaan saya di sela-sela menyuap makanan, sementara obrolan terus mengalir di antara kami.
Setelah selesai dengan urusan perut, kami langsung pergi ke supermarket yang berada di bawah tempat tinggal mereka. Tidak ada agenda khusus selain membeli beberapa camilan dan minuman manis. Setelah semua yang diperlukan dirasa cukup, kami kembali ke tempat tinggal Pedro dan Surya.
Begitu masuk, saya dipersilakan duduk di sofa ruang televisi. Televisi menyala di depan saya, sementara dua pintu kamar Pedro dan Surya berada tidak jauh dari sana. Keduanya masih beberapa kali keluar-masuk kamar untuk mengambil barang dan menyelesaikan persiapan sebelum berangkat ke sekolah.
Saya hanya menunggu sambil memperhatikan aktivitas mereka. Percakapan kami belum langsung mengalir seperti ketika sedang makan tadi. Namun, setelah beberapa persiapan kecil selesai, Pedro akhirnya ikut duduk di sofa.
Saya pun membawa pembicaraan kepada hal yang sejak awal sebenarnya ingin saya tanyakan. Kali ini, saya ingin tahu lebih jauh tentang bagaimana Pedro menjalani hidupnya di Surabaya, jauh dari rumah dan keluarganya di Palu.
Pedro mulai bercerita tentang hari-hari yang ia jalani di kota baru, hal-hal yang ia rindukan dari rumah, hingga orang tuanya yang tidak bisa berada di Surabaya pada hari final.
Saya kemudian bertanya, “Selama di Surabaya, yang paling sering kamu rindukan dari rumah itu apa? Terus, gimana rasanya ketika ada momen penting seperti final, tapi Mama dan Papa nggak bisa ada di sini?”
Pedro menjawabnya dengan tenang. Ada sedikit jeda sebelum ia mulai menjelaskan perasaannya.
“Sedih juga sebenarnya. Karena mereka jauh. Kalau mau datang ke sini juga tiket pesawat mahal,” ujar Pedro.
Jarak Palu dan Surabaya memang membuat kehadiran orang tua Pedro di DBL Arena bukan perkara sederhana. Sang ayah bekerja sebagai sopir pengangkut barang, termasuk alat berat seperti ekskavator. Pekerjaan itu membuatnya harus sering berada di perjalanan dan tidak selalu bisa pulang dalam waktu singkat.
Dalam kondisi tertentu, sang ayah bisa pulang sekitar seminggu sekali. Namun, pernah juga perjalanan pekerjaannya membuatnya baru bisa kembali ke rumah setelah satu bulan. Pada hari ketika Pedro bersiap menjalani final pertamanya di bangku SMA, sang ayah masih berada di perjalanan menjalankan pekerjaannya.
Dari cerita tentang orang tuanya, pembicaraan kami kemudian bergeser kepada satu hal yang membawa Pedro sampai sejauh ini. Saya penasaran, dari mana sebenarnya ia mengenal basket? Apakah olahraga tersebut sudah lama menjadi bagian dari keluarganya, atau justru baru muncul ketika ia mulai tumbuh besar?
Jawabannya ternyata yang kedua.
Tidak ada orang tua yang sebelumnya bermain basket. Kakaknya yang berada di Jakarta pun tidak mengikuti olahraga yang sama. Pedro justru menjadi orang pertama di keluarganya yang serius menekuni basket.
Sebelum mengenal basket, Pedro kecil lebih dulu bermain sepak bola. Basket baru masuk dalam hidupnya ketika ia duduk di kelas VIII.
Dua orang temannya mengajaknya ikut latihan. Saat itu, Pedro datang tanpa benar-benar memahami olahraga yang sedang ia coba. Ia bahkan belum tahu bagaimana cara bermain basket.
“Awalnya aku benar-benar nol. Aku nggak tahu basket itu seperti apa. Terus diajak latihan sama teman, ya sudah aku coba. Dari situ aku terus latihan dan ternyata aku suka,” cerita Pedro.
Ajakan sederhana dari dua orang temannya itu kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Pedro terus datang ke latihan, mencoba memahami permainan yang sebelumnya sama sekali asing baginya, sampai perlahan ia mulai dipercaya untuk bermain bersama teman-temannya.
Dari seorang anak yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang basket, olahraga itu perlahan menjadi bagian penting dalam hidup Pedro. Ketika saya memintanya menggambarkan seberapa besar perubahan yang ia rasakan sejak mengenal basket, jawabannya hanya terdiri dari beberapa kata.
“Basket ini merubahku banget.”
Di balik perubahan itu, ada satu hal yang paling terasa bagi Pedro: jarak. Semakin jauh ia melangkah bersama basket, semakin jauh pula ia dari rumah dan orang-orang yang selama ini melihat prosesnya dari dekat.
Pembicaraan kami kemudian mengarah kepada Mama dan Papa. Saya ingin tahu bagaimana keluarga Pedro melihat perjalanan anaknya sampai akhirnya bisa berdiri di ambang final pertamanya.
Pedro mengambil ponselnya. Ia lebih dulu menghubungi Mamanya.
Sambungan video tersambung. Wajah Mama Emy Pontoan muncul di layar. Percakapan mereka berlangsung seperti obrolan ibu dan anak pada umumnya. Mama menanyakan keberadaan Pedro, apa yang sedang ia lakukan, kapan berangkat ke sekolah, sampai bagaimana persiapannya menjelang pertandingan.
Pedro menjawab satu per satu. Obrolan mereka berlangsung santai, seperti percakapan yang biasa dilakukan sehari-hari. Meski berada jauh dari rumah, suara Mama tetap terasa dekat siang itu.
Sesekali Pedro tersenyum mendengar ucapan Mamanya. Ia lalu menjelaskan bahwa hari itu ada saya yang akan mengikuti perjalanannya sampai final. Setelah beberapa saat berbincang, Pedro mengarahkan ponselnya kepada saya.
Kini giliran saya yang berbicara dengan Mama Emy.
“Selamat siang, Mamanya Pedro. Saya Nailah dari tim Media DBL,” saya membuka percakapan. “Hari ini saya izin mendampingi Pedro mengikuti perjalanannya menuju partai final. Dari sebelum berangkat sampai nanti pertandingan selesai.”
Mama Emy menyambut perkenalan itu dengan hangat. Ia mempersilakan saya untuk mendampingi Pedro sepanjang hari dan mengikuti kegiatannya hingga pertandingan berakhir.
Saat itu, Mama Emy sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mengantar seorang temannya. Ia tidak sendirian. Ada dua perempuan yang berada bersamanya, yang kemudian disebut sebagai ibu pendeta.
Di tengah perjalanan itu, cerita tentang Pedro perlahan mengarah kepada proses yang sudah ia lalui hingga akhirnya sampai di partai final.
Saya kemudian bertanya kepada Mama Emy tentang perasaannya melihat Pedro bisa mencapai final pada tahun pertamanya sebagai siswa SMA.
Ia bercerita bahwa bukan hanya Pedro yang mendapat kesempatan untuk mengikuti proses seleksi. Ada beberapa anak lain dari daerah mereka yang juga sempat mencoba, tetapi akhirnya Pedro yang berhasil melangkah lebih jauh hingga tampil di DBL.
“Sangat-sangat bangga, sangat senang sekali. Karena jujur, banyak teman-teman dari sini yang sempat diseleksi di sana, Pedro yang masuk DBL itu satu kebanggaan buat kami orang tua,” ujar Mama Emy.
Kebanggaan itu tidak datang begitu saja. Mama Emy mengikuti proses panjang yang dijalani Pedro sejak awal perjalanan menuju DBL hingga akhirnya anaknya berhasil membawa nama daerahnya ke panggung yang lebih besar.
“Puji Tuhan Pedro bisa masuk di DBL sampai bisa masuk final hari ini,” lanjutnya.
Saya bertanya apakah ada pesan khusus yang selalu ia sampaikan kepada Pedro menjelang pertandingan. Mama Emy tidak menyebut banyak hal. Di tengah segala proses yang sudah dijalani Pedro, ia justru ingin anaknya memegang satu hal sederhana sebelum melangkah ke lapangan.
“Andalkan Tuhan dalam segala hal,” katanya.
Kalimat itu kemudian membawa pembicaraan kami kepada latihan Pedro bersama timnya. Dari Palu, Mama Emy mengikuti cerita tentang latihan yang dijalani Pedro dan rekan-rekannya selama mempersiapkan diri menuju final.
“Sudah berapa bulan ini digencar terus mereka untuk latihan. Pagi, jam 05.00 itu sudah latihan, sambung lagi sore jam 17.00. Jadi itu minta sama Tuhan hasil yang terbaik,” tutur Mama Emy.
Saya mendengarkan ceritanya sambil sesekali melihat Pedro yang masih berada di dekat saya. Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika mendengar persiapan itu langsung dari Mamanya. Pedro sedang berada di Surabaya untuk menjalani final, sementara orang yang sejak awal mengikuti prosesnya justru berada jauh di Palu.
Saya menanyakan bagaimana perasaan Mama Emy ketika mengetahui Pedro berhasil mencapai partai final. Kali ini, jawabannya tidak lagi hanya tentang rasa bangga melihat pencapaian anaknya.
Mama Emy mengatakan bahwa ia terharu.
Di balik rasa haru itu, ada pula rasa rindu yang selama berbulan-bulan harus ia simpan karena Pedro menjalani hari-harinya di kota lain. Surabaya menjadi tempat Pedro bertumbuh bersama basket, sementara Palu tetap menjadi rumah yang menunggu kepulangannya.
“Kangen,” katanya ketika saya bertanya apakah ia merindukan Pedro.
Kerinduan itu rupanya hadir bersama kekhawatiran seorang ibu. Ketika rasa rindu kepada Pedro datang, Mama Emy mengaku sering langsung menghubungi anaknya untuk memastikan keadaannya. Jarak Palu dan Surabaya membuat pertanyaan sederhana tentang kabar Pedro menjadi salah satu cara baginya untuk tetap merasa dekat.
“Kadang kalau saya terlalu rindu, saya telepon ke sana. Saya selalu tanya, ‘Kenapa? Sehat selalu ya, Nak.’ Saya selalu pastikan dia baik-baik saja, karena dia jauh dari saya,” cerita Mama Emy.
Kekhawatiran itu terasa wajar bagi seorang ibu yang harus melihat anaknya tumbuh dari jarak jauh. Tidak ada tangan yang bisa langsung merapikan ketika Pedro lelah, tidak ada rumah yang bisa ia datangi ketika ingin pulang. Yang tersisa adalah suara di ujung telepon dan doa yang terus dikirimkan dari Palu.
Beberapa menit kemudian, pembicaraan kami berakhir. Sebelum sambungan terputus, saya kembali meminta doa untuk Pedro. Mama Emy pun menyampaikan harapannya agar anaknya bisa menjalani pertandingan dengan baik.
***
Setelah sambungan video berakhir, Pedro melanjutkan persiapannya. Sementara itu, Surya yang sudah lebih dulu siap duduk tidak jauh dari tempat saya menunggu.
Saya berbincang dengan Surya tentang kehidupan mereka selama tinggal bersama. Keduanya ternyata baru sekitar satu bulan tinggal bersama. Awalnya, Surya memang sedang mencari teman agar lebih dekat dengan sekolah karena harus menjalani latihan pagi. Kebetulan, Pedro yang sudah lebih dulu tinggal sendiri akhirnya menjadi teman tinggalnya.
“Awalnya memang cari teman buat bareng. Karena ada latihan pagi juga, jadi biar lebih dekat ke sekolah. Kebetulan Pedro tinggal sendiri, akhirnya tinggal bareng,” cerita Surya.
Dalam waktu satu bulan, keduanya sudah cukup dekat. Sebagai anak tunggal, Surya bahkan menganggap Pedro seperti adiknya sendiri.
“Sudah kayak adik sendiri sih. Soalnya aku anak tunggal,” kata Surya.
Obrolan kami berlanjut sebentar tentang keseharian keduanya sebelum akhirnya Pedro menyelesaikan persiapannya. Kami pun bersiap menuju sekolah.
Beberapa jam lagi, Pedro akan berdiri di lapangan tanpa kedua orang tuanya di tribun. Namun siang itu, sebelum berangkat menuju final, ia sempat mendengar langsung suara orang yang paling ingin melihatnya bermain dari dekat.
***
Sekitar pukul 12.30 WIB, kami meninggalkan tempat tinggal Pedro dan Surya. Kali ini, perjalanan menuju sekolah ditempuh menggunakan taksi online. Hanya sekitar 10 menit, kami sudah tiba di SMA Gloria 1 Surabaya.
Begitu sampai, Pedro langsung bertemu dengan asisten pelatih Gloria 1, Coach Anthony Mardinata. Keduanya sempat berbincang sebentar. Saya mengamati percakapan itu dari dekat sebelum Pedro kemudian mengajak saya berkeliling sekolah.
Ia menunjukkan beberapa tempat yang menjadi bagian dari kesehariannya, termasuk area yang digunakan untuk latihan. Sambil berjalan, Pedro sesekali bercerita tentang kesehariannya di sekolah dan lingkungan yang kini sudah menjadi bagian dari hidupnya di Surabaya.
Di sela perjalanan itu, pembicaraan kami kembali mengarah kepada kehidupan Pedro di sekolah. Salah satu nama yang kemudian muncul adalah Gavyn Evangelo, teman yang cukup dekat dengannya di sekolah.
Obrolan kami lalu mengarah kepada basket. Saya penasaran dengan perbedaan yang dirasakan Pedro setelah berpindah dari Palu ke Surabaya. Bukan hanya soal lawan yang dihadapi, tetapi juga bagaimana pola latihan yang ia jalani selama beberapa bulan terakhir.
“Kalau di Palu sendiri, latihan itu biasanya ada pemanasan dan latihan basketnya. Kalau di Surabaya, ada tambahan juga seperti gym sama lari gitu. Jadi latihannya lebih banyak,” cerita Pedro.
Bagi Pedro, perbedaan tersebut menjadi salah satu hal yang harus ia biasakan setelah pindah ke Surabaya. Ia tidak hanya dituntut untuk beradaptasi dengan permainan dan rekan-rekan baru, tetapi juga dengan pola latihan yang membuatnya harus lebih siap secara fisik.
Baru beberapa bulan meninggalkan Palu, banyak hal memang berubah dalam keseharian Pedro. Sekolah baru, lingkungan baru, teman-teman baru, sampai rutinitas latihan yang berbeda kini menjadi bagian dari hidupnya.
Di sela-sela obrolan, saya juga sempat menanyakan apa yang paling ia rindukan dari Palu. Jawabannya membawa kami kepada teman-teman yang ia tinggalkan di sana. Saya bertanya apakah ia masih sering berkomunikasi dengan teman-temannya di Palu.
“Masih komunikasi, tapi nggak sedekat dulu. Paling kalau di Instagram masih saling follow, terus kadang-kadang masih ada komunikasi juga,” ujar Pedro.
Sejak pindah ke Surabaya, lingkar pertemanan Pedro pun ikut berubah. Ia masih berkomunikasi dengan beberapa teman dari Palu, meski tidak sesering dan sedekat ketika mereka masih berada di kota yang sama.
Waktu berjalan tanpa terasa. Satu per satu anggota tim Gloria 1 mulai berkumpul. Dari tempat saya berdiri, percakapan antarpemain terdengar di salah satu koridor sekolah. Beberapa di antara mereka mulai mengecek barang yang perlu dibawa, memastikan tidak ada perlengkapan yang tertinggal sebelum berangkat menuju DBL Arena.
Setelah mengetahui beberapa temannya sudah tiba, Pedro ikut berjalan menuju koridor dan bergabung bersama rekan-rekannya. Saya memilih berada sedikit di belakang, membiarkannya menikmati waktu bersama tim sebelum berangkat.
Sebelum berangkat, para pemain dan beberapa anggota tim berkumpul untuk berdoa bersama. Coach Anthony memimpin doa. Pedro berdiri di antara rekan-rekannya, menundukkan kepala. Untuk beberapa saat, percakapan dan persiapan berhenti, digantikan doa untuk pertandingan yang akan mereka jalani.
Saya berdiri tidak jauh dari mereka. Melihat Pedro menundukkan kepala di tengah rekan-rekannya, saya teringat percakapan kami beberapa jam sebelumnya bersama Mama Emy. Pesannya terdengar sederhana: andalkan Tuhan dalam segala hal.
Kini, pesan itu seperti ikut berjalan bersama Pedro menuju final.
Doa selesai. Beberapa anggota tim mulai membawa barang masing-masing menuju kendaraan. Saya pun ikut berjalan bersama rombongan.
Awalnya, saya pikir perjalanan ini hanya akan membawa saya dari tempat tinggal Pedro menuju DBL Arena. Ternyata, siapa yang menyangka saya malah ikut naik bus Gloria 1?
Pagi tadi saya datang untuk mengikuti perjalanan seorang pemain menuju final. Siang harinya, saya malah sudah duduk di antara rombongan tim. Sampai dalam hati saya berpikir, “Loh, kok saya jadi ikut bus Gloria?”
Pukul 13.00 WIB, bus mulai jalan meninggalkan sekolah. Saya pun ikut menikmati perjalanan itu. Ternyata, penugasan hari ini membawa saya jauh lebih dekat dengan keseharian Pedro daripada yang saya bayangkan sejak awal.
Di dalam bus, suasana justru perlahan sunyi. Satu per satu pemain tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Ada yang menyandarkan kepala ke kursi, ada yang memejamkan mata, sementara beberapa lainnya masih sibuk menggulir layar ponsel.
Pedro termasuk yang masih memegang ponsel. Ia sempat scroll Instagram beberapa saat sebelum akhirnya meletakkannya. Tak lama, kepalanya bersandar dan ia tertidur.
Saya masih terjaga. Dari tempat duduk, saya memperhatikan para pemain yang beberapa jam lagi akan menjalani partai final. Saya tidak tahu apa yang sedang ada di pikiran mereka. Mungkin ada yang memikirkan pertandingan, mungkin pula ada yang hanya ingin memanfaatkan waktu untuk beristirahat.
Sementara saya malah kepikiran satu hal.
Motor saya masih di tempat Pedro.
“Walah,” batin saya.
Pagi tadi saya datang ke tempat tinggal Pedro membawa motor sendiri. Sekarang saya malah sudah duduk di bus Gloria 1 menuju DBL Arena. Motor saya? Masih tertinggal di sana.
Saya pun hanya bisa tertawa kecil. Sepertinya penugasan hari ini memang membawa saya lebih jauh dari rencana awal.
***
Sekitar pukul 13.30 WIB, bus tiba di DBL Arena. Satu per satu pemain Gloria 1 turun dari bus dan berjalan menuju area registrasi. Saya mengikuti rombongan dari belakang.
Setelah berkumpul, para pemain membawa barang masing-masing menuju area tim. Namun, registrasi belum bisa dilakukan karena waktunya belum tiba. Pedro pun meletakkan barangnya terlebih dahulu sambil menunggu.
Masih ada waktu sebelum agenda berikutnya dimulai. Pedro dan saya kemudian berjalan untuk membeli camilan. Pilihannya jatuh kepada gummy.
Saya pun bertanya, “Kenapa harus gummy? Emang kalau makan gummy kamu jadi gimana?”
“Biar full gula. Kalau makan gummy kan jadi nggak bisa diam,” ujar Pedro.
Jawaban itu membuat saya baru tahu satu kebiasaan unik Pedro. Sebelum bertanding, ternyata ada satu hal kecil yang ia lakukan: makan gummy.
Bagi Pedro, alasannya sederhana. Gula dari gummy membuatnya merasa lebih bersemangat dan tidak bisa diam.
Setelah itu, saya tidak lagi terus berada di dekat Pedro. Ia masih berkumpul bersama rekan-rekannya di area bawah sambil menunggu waktu untuk naik ke locker room. Sementara itu, saya lebih dulu menuju area locker room untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih harus saya kerjakan.
Di sela pekerjaan, saya menyaksikan final putri melalui live streaming. Pertandingan SMA St. Louis 1 Surabaya kontra SMA Gloria 1 Surabaya masih berlangsung ketika Pedro akhirnya naik menuju locker room.
Melihatnya berjalan menuju locker room, saya sempat memanggilnya.
“Pedro, aman kah?”
Ia menoleh ke arah saya, lalu mengacungkan jempol sambil tersenyum.
“Aman.”
Jawaban singkat itu cukup. Saya kembali mengerjakan pekerjaan sambil sesekali memantau pertandingan putri.
Tak lama berselang, para pemain mulai keluar dari locker room. Mereka berkumpul di selasar dan melakukan pemanasan bersama Coach Parama Surya Kustrapsila.
Musik remix dengan irama funky yang sudah khas dari sesi pemanasan Gloria 1 mulai terdengar di DBL Arena.
Pedro berada di antara rekan-rekannya. Ia mengikuti instruksi Coach Parama dan bergerak mengikuti rangkaian pemanasan.
Setelah pemanasan dirasa cukup, para pemain berkumpul di locker room untuk mendengarkan briefing terakhir dari pelatih.
Tak lama kemudian, laga putri berakhir. SMA St. Louis 1 Surabaya mengamankan kemenangan 54-36 atas SMA Gloria 1 Surabaya.
Perhatian pun beralih kepada pertandingan berikutnya yang akan menjadi giliran Pedro dan rekan-rekannya. Final pertamanya bersama Gloria 1 tinggal beberapa menit lagi.
Tak lama kemudian, para pemain kembali berkumpul di selasar. Mereka membuat lingkaran kecil dan berdoa bersama sebelum masuk ke lapangan. Pedro berdiri di antara rekan-rekannya, mengikuti doa dengan kepala tertunduk.
***
Setelah doa selesai, tidak ada lagi percakapan antara saya dan Pedro. Ia lebih banyak bersama rekan-rekannya hingga beberapa menit kemudian para pemain mulai menuju arena.
Suasana DBL Arena Surabaya perlahan berubah. Tribun dipenuhi pendukung SMA St. Louis 1 Surabaya dan SMA Gloria 1 Surabaya yang datang membawa dukungan untuk tim masing-masing. Sorak-sorai mulai terdengar dari kedua sisi tribun.
Sebelum pertandingan dimulai, panitia lebih dulu menghadirkan *lighting show*. Lampu-lampu arena bergerak mengikuti irama, membuat suasana menjelang partai puncak semakin terasa berbeda.
Euforia semakin terasa ketika satu per satu pemain dipanggil untuk memasuki lapangan. Nama-nama pemain Sinlui lebih dulu terdengar dari pengeras suara. Setiap nama disambut sorakan dari tribun pendukungnya.
Setelah seluruh pemain Sinlui memasuki lapangan, giliran Gloria 1.
Satu per satu nama pemain dipanggil. Hingga akhirnya, suara pembawa acara menyebut nomor punggung 18.
Styfen Pedro Mangewa.
Pedro berjalan memasuki arena bersama Ryu, salah satu teman yang sebelumnya sempat ia ceritakan kepada saya. Pagi tadi, ketika kami berbincang di tempat tinggalnya, Pedro sempat menggambarkan Ryu sebagai sosok yang lucu dan menggemaskan.
Kini, tidak ada lagi obrolan ringan seperti beberapa jam sebelumnya. Pedro berjalan menuju lapangan dengan jersey nomor 18 yang sudah melekat di tubuhnya. Saya memperhatikannya dari sisi lapangan.
Anak kelas X asal Palu itu akhirnya sampai pada momen yang sejak pagi kami bicarakan. Final pertamanya bersama Gloria 1 sudah berada di depan mata, sementara Mama dan Papa hanya bisa memberikan dukungan dari jauh.
Beberapa saat kemudian, kedua tim mengambil posisi masing-masing. Suara penonton semakin keras ketika para pemain bersiap di tengah lapangan.
Laga pun dimulai.
***
Saat kuarter pertama menyisakan kurang dari dua menit, Pedro akhirnya masuk ke lapangan. Final pertamanya bersama Gloria 1 pun dimulai, setelah sejak pagi ia menjalani hari yang panjang menuju momen tersebut.
Pada dua kuarter awal, namanya belum banyak terdengar dari lapangan. Kesempatan itu baru datang di kuarter ketiga. Lima poin berhasil ia sumbangkan untuk Gloria 1, tetapi Sinlui tetap mampu menjaga jarak hingga pertandingan berakhir.
Ketika waktu pertandingan habis, papan skor menunjukkan angka 61-44 untuk Sinlui.
Dari sisi lain DBL Arena, perayaan gelar juara pun dimulai. Sinlui mencatatkan kawin gelar setelah tim putrinya lebih dulu mengalahkan Gloria 1 dengan skor 54-36.
Pedro berjalan meninggalkan lapangan dengan pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Final.
DBL.
Ribuan pasang mata.
Semua datang dalam satu hari yang sama. Ia sendiri tidak menyangkal bahwa ada rasa gugup yang muncul sejak pertandingan dimulai.
“Pertama kali aku final, final juga pertama kali main di DBL. Ya, kayak manusia pada awalnya lah, pertama kali itu pasti nervous,” ujarnya.
Setelah pertandingan, pembicaraan kami tidak lagi soal lima poin yang ia cetak atau siapa yang menjadi juara. Pedro lebih banyak bercerita tentang hal-hal yang menurutnya membuat Gloria 1 belum mampu bermain seperti yang mereka inginkan.
Salah satunya adalah mental. Nama besar Sinlui dan pengalaman para pemainnya sempat membuat Gloria 1 bermain dengan rasa takut.
Padahal, mereka bukan datang tanpa bekal. Mereka sudah pernah bertemu, sudah tahu bagaimana lawannya bermain, bahkan sudah mengenal pemain-pemain yang akan mereka hadapi.
“Kita kan terpaku sama nama besar lawan. Itu aja sih yang bikin kita jadi takut-takut kayaknya. Kita udah ketemu mereka, kita udah tahu cara mainnya, kita udah tahu orang-orangnya. Kita ya enggak usah takut lah,” kata Pedro.
Kekalahan itu kemudian menjadi bagian dari evaluasi.
Ada hal-hal yang sebenarnya sudah mereka tahu, tetapi belum berhasil mereka lakukan ketika berada di lapangan. Coach Aries Kurniawan pun sudah memberi gambaran mengenai apa yang harus diperbaiki.
Bagi Pedro, jawabannya bukan sekadar menambah porsi latihan, melainkan datang dengan persiapan yang lebih siap, terutama ketika harus bertahan.
“Latihannya pasti lebih ketat lagi. Untuk defense.”
Satu per satu orang mulai meninggalkan arena, sementara cerita tentang final hari itu perlahan berakhir.
Pedro sendiri sudah melewati perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sekadar pertandingan empat kuarter.
Sejak pagi, ia berpindah dari rumah, menjalani doa bersama, berbicara dengan Mama melalui layar ponsel, menuju DBL Arena, lalu akhirnya berdiri di lapangan untuk memainkan final pertamanya.
Sepanjang hari itu, dua orang yang paling ia tunggu justru tidak berada di tempat yang sama dengannya.
Mama sudah lebih dulu tidur setelah sempat mengirimkan pesan penyemangat. Papa masih berada di perjalanan, menjalankan pekerjaannya sebagai sopir alat berat.
Palu dan Surabaya tetap terpisah jarak, tetapi nama keduanya beberapa kali muncul dalam cerita Pedro sepanjang hari.
Tidak ada pelukan dari orang tua setelah pertandingan. Tidak ada mereka di tribun ketika Pedro dipanggil masuk ke lapangan.
Namun, sejak pagi ia tahu bahwa ada dua orang yang tetap mengikuti langkahnya dari jauh.
Ketika hari panjang itu akhirnya mendekati selesai, saya kembali mengingat satu hal yang Pedro katakan sebelum kami berpisah.
Ia tidak banyak bicara tentang hasil pertandingan. Tidak pula mencoba mencari pembenaran.
“Besok kita udah lupain hari ini.”
Sederhana.
Tetapi mungkin memang begitu cara seorang pemain kelas X seperti Pedro memandang final pertamanya.
***
Hari itu boleh menyisakan gugup, tekanan, bahkan kekalahan. Namun, semuanya tetap harus punya tempat sebagai bahan belajar.
Babak Championship Series sudah menunggu di depan.
Final pertama itu akhirnya menjadi satu bagian dari perjalanan Pedro di musim ini. Dari rasa gugup, tekanan, hingga kekalahan yang ia rasakan hari itu, semuanya akan ia bawa kembali ke latihan sebagai bekal untuk membawa lagi ambisi Gloria 1.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil Styfen Pedro Mangewa bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).