SMPN 6 Surabaya (Spensix) menang atas SMP Little Sun Surabaya dengan skor 37-32 di game kedua Junior DBL 2026 Surabaya di DBL Arena Surabaya, Rabu, 2 September 2026. Spensix langsung unggul 12-8 pada kuarter pertama. Memasuki akhir kuarter kedua, Spensix memperlebar keunggulan menjadi 23-10.
Little Sun mulai bangkit setelah jeda. Mereka mencetak 11 poin pada kuarter ketiga, sementara Spensix hanya menambah empat poin. Tekanan semakin terasa pada kuarter keempat ketika Little Sun berhasil menyamakan skor menjadi 28-28. Namun, Spensix kembali unggul dan menutup pertandingan dengan kemenangan 37-32.
Di tengah tekanan tersebut, Alif Javas Danadyaksa Basuki menjadi salah satu tumpuan Spensix. Point guard sekaligus kapten itu bermain selama 39 menit 55 detik dan mencatat 21 poin, 5 rebound, serta 1 assist.
Javas mengakui situasi itu membuatnya ikut tegang. Apalagi, ia mendapat penjagaan box-one yang membuat ruang geraknya semakin terbatas.
“Deg-degan banget soalnya udah unggul tujuh poin, sisa dua poin. Sempat di-box-one juga jadi aku enggak bisa apa-apa sebenarnya. Jadi waktu mereka mulai ngejar itu agak panik juga,” ujar Javas.
Baca juga: Coach Mells Comeback di SMAN 4 Sidoarjo Usai 7 Tahun Vakum!
Di tengah tekanan tersebut, Javass dan rekan-rekannya memilih berhenti sejenak untuk mengembalikan fokus. Sebagai kapten, ia berusaha memastikan timnya tidak ikut terbawa momentum Little Sun.
“Pokoknya kita ngumpul terus ngomong harus fokus, tenang. Karena tadi teman-teman banyak yang enggak fokus dan tidak tenang. Kalau kita ikut panik, nanti malah semakin susah mainnya. Jadi aku bilang ke teman-teman buat tenang dulu, terus main lagi seperti awal,” tuturnya.
Setelah skor kembali imbang, Spensix perlahan menemukan ritmenya. Javas ikut menyumbang angka pada fase akhir dan membantu timnya kembali mengambil keunggulan hingga pertandingan berakhir.
Bagi Javas, momen tersebut juga menunjukkan bahwa kemenangan tidak bisa bergantung pada satu pemain. Ketika permainan mulai berbalik arah, komunikasi antarpemain menjadi hal yang menurutnya membuat Spensix mampu bertahan.

Alif Javas Danadyaksa Basuki (nomor punggung 9) dari SMPN 6 Surabaya (Spensix) berusaha melakukan lay-up di bawah penjagaan pemain SMP Little Sun Surabaya pada Junior DBL 2026 East Java-North di DBL Arena Surabaya.
“Basket itu kan tim, mainnya tim. Jadi bukan aku sendiri yang harus cetak poin atau harus menyelamatkan tim. Semua harus kompak. Tadi kami sempat kehilangan fokus, tapi setelah kumpul dan ngomong bareng, kami bisa balik lagi,” katanya.
Peran sebagai kapten itu menjadi bagian baru dalam perjalanan Javas di basket. Ia tidak langsung mencintai olahraga ini ketika pertama kali mengenalnya.
Saat masih kelas VI, sang ayah mengajaknya mengikuti fun match bersama teman-temannya. Dari sana, Javas dikenalkan kepada seorang pelatih klub dan mulai mengikuti akademi basket.
Awalnya, basket bahkan bukan sesuatu yang ingin ia tekuni. Ia hanya mengikuti ajakan sang ayah dan belum tahu akan bertahan sejauh apa.
Baca juga: SONGOMANIA Bungkam Penghakiman Lewat Koreo di DBL Arena
“Ayah yang ngajak karena teman-temannya ada fun match. Terus aku ikut, dari situ dikenalin ke pelatih dan akhirnya masuk akademi. Awalnya ya cuma ikut-ikut saja, belum terlalu suka,” cerita Javas.
Namun, semakin sering berada di lapangan, pandangannya terhadap basket mulai berubah. Teman-teman dan pengalaman yang ia dapat selama latihan membuatnya menemukan alasan untuk terus bermain.
“Terus karena sering main dan banyak teman, aku jadi nyaman. Dari basket juga aku tahu arti tanggung jawab sama disiplin. Jadi lama-lama bukan karena dipaksa lagi, tapi memang mulai suka dan pengin latihan sendiri,” lanjutnya.
Kecintaannya terhadap basket semakin tumbuh ketika duduk di kelas VII. Dari yang semula hanya mengikuti ajakan ayah, Javas mulai menekuni latihan dan pertandingan dengan lebih serius.
Perjalanannya pun berubah dari sekadar pemain yang ingin bermain menjadi pemain yang dipercaya memimpin. Ia masih mengingat bagaimana dirinya ketika pertama kali tampil di DBL.
“Kalau dibandingkan waktu pertama main DBL, dulu masih gugup banget. Waktu itu juga menit bermainku masih sedikit. Sekarang sudah tahun terakhir dan malah dipercaya jadi kapten,” ujarnya.
Baca juga: Puri Is Possible Bawa Identitas Mojokerto Lewat Tarian Bertema Majapahit
Tanggung jawab itu membuat Javas tidak hanya memikirkan permainannya sendiri. Ia juga harus membaca situasi di lapangan dan membantu rekan-rekannya ketika mulai kehilangan fokus.
“Sekarang beda. Kalau dulu mungkin mikirnya cuma gimana caranya aku main bagus. Kalau jadi kapten, harus lihat teman-teman juga. Kalau ada yang mulai enggak fokus atau panik, ya harus diingatkan. Jadi bukan cuma mikirin diri sendiri,” katanya.
Meski mencetak 21 poin, Javass tetap merasa penampilannya belum maksimal. Ia masih menemukan beberapa bagian permainan yang perlu diperbaiki, terutama penyelesaian akhir dan free throw.
“Belum puas semuanya. Masih banyak yang jelek sebenarnya. Finishing tadi banyak yang enggak masuk, terus free throw juga enggak ada yang masuk. Jadi masih harus latihan lagi, terutama bagian-bagian yang tadi kurang,” ujarnya.
Kesempatan memperbaiki catatan free throw datang pada tiga detik terakhir pertandingan. Javas berdiri di garis free throw dengan tekanan yang belum sepenuhnya hilang.
Ia sempat memikirkan kemungkinan tembakannya kembali gagal. Namun, kesempatan itu justru menjadi momen untuk menguji ketenangan yang sejak kuarter keempat ia coba bangun.
Baca juga: JANGKARMANIA Kenang Legenda Kobe Bryant di DBL Arena
“Pas free throw terakhir itu sebenarnya kepikiran juga kalau enggak masuk gimana. Tapi ya sudah, aku coba tenang saja. Kalau terlalu mikirin enggak masuk malah makin enggak masuk. Jadi ambil napas, fokus, terus lempar,” tuturnya.
Bagi Javas, pertandingan tersebut menjadi pengalaman penting di tahun terakhirnya sebagai pemain SMP. Ia belajar bahwa menjadi kapten bukan berarti harus selalu menjadi pemain yang paling tenang, tetapi tahu bagaimana mengembalikan fokus ketika situasi mulai berubah.
Masih ada pertandingan berikutnya yang harus dihadapi. Javas ingin menggunakan kemenangan ini sebagai bahan evaluasi bersama rekan-rekannya.
“Untuk pertandingan selanjutnya, aku mau latihan sama teman-teman terus, lebih keras dari kemarin-kemarin. Masih banyak yang harus diperbaiki. Yang penting berani dulu, jangan takut salah, terus tetap kompak,” ucapnya.
Dulu, Javas hanya mengikuti ajakan ayahnya untuk bermain basket. Kini, pada tahun terakhirnya sebagai pemain SMP, ia justru dipercaya menjadi kapten dan belajar bahwa ketenangan di lapangan bukan berarti tidak merasa gugup, melainkan tahu bagaimana tetap bermain ketika tekanan datang.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil Alif Javas Danadyaksa Basuki bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).
Hasil akhir pertandingan SMPN 6 Surabaya vs SMP Litte Sun bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).