Tantangan guru di lapangan tak pernah sederhana, apalagi menghadapi murid yang beranjak dewasa. Seperti menaklukkan puncak gunung yang terjal. Memang sulit, tapi bukan berarti tak mungkin. Itulah yang dirasakan oleh Asniwaty, guru Ekonomi asal SMAN 2 Merauke yang juga berperan sebagai pendamping ekstrakurikuler drum band.
Latar belakangnya sebagai guru Ekonomi memang tak berkaitan langsung dengan drum band. Bagaimana pun, hal itu membuatnya merasa sedikit canggung saat kali pertama menjadi guru pendamping drum band.
“Iya benar, saya sebagai guru Ekonomi tapi saya juga dipercaya sebagai pendamping ekskul drum band di sekolah, padahal jaman saya sekolah dulu saya sama sekali tidak pernah terlibat dalam kegiatan ekskul drum band karena memang saat itu belum ada, tapi entah kenapa saya dipercaya untuk mendampingi tim drumband,” ujar guru yang akrab disapa Asni itu.
Kepercayaan dari pihak sekolah sebagai pendamping drum band bukan tanpa alasan. Asni dikenal dekat dengan anak didiknya dan seringkali aktif mendampingi saat latihan dan tampil.
Baca juga: DBL Super Teacher: Dede Rahmat Hidupkan Seni dan Kreativitas di Biak
“Mungkin karena kedekatan saya dengan anak-anak dan juga kesediaan saya mendampingi mereka saat latihan dan tampil pada setiap momen baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah,” imbuhnya.
Selain rutin mendampingi saat latihan, ia juga tak pernah absen untuk mendampingi kegiatan di luar sekolah. Seperti kegiatan taptu, karnaval, dan upacara hari-hari besar. Hal-hal itu lah yang memperkuat alasan Asni dipercaya untuk menjadi pendamping anak-anak dalam ekstrakurikuler drum band.
Langkah Asni di bidang nonakademik sebenarnya bukan hal baru. Ia pernah mendampingi tim cheerleader SMAN 2 Merauke pada ajang Honda DBL Papua Series 2017. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga baginya dalam membimbing siswa di luar kelas.
“Kesulitan yang dihadapi tentu saja ada, tapi hal itu menjadi dinamika tersendiri dalam mendampingi remaja. Mengatur belasan gadis SMA yang sedang berada di fase butuh perhatian dan apresiasi itu sungguh tidak mudah. Ego mereka masih tinggi dan kadang sulit dikendalikan kalau arahan kita tidak sesuai dengan keinginan mereka. Di situlah kesabaran saya sebagai pendamping benar-benar diuji,” ujar Asni.
Selain harus menghadapi sikap anak remaja yang masih naik turun, Asni juga mengungkapkan kesulitannya juga ada pada kedisiplinan waktu latihan.
“Belum lagi soal kedisiplinan waktu latihan. Dari jadwal tiga-empat jam yang sudah disepakati, durasinya sering kali tersita hanya untuk menunggu semua anggota berkumpul karena selalu ada saja alasannya,” tambahnya.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Sir Fiu, Guru Bahasa Inggris yang Juga Manager Basket Sekolah
Kendati demikian, Asni memilih pendekatan sebagai teman tanpa menghilangkan ketegasannya.
“Sebisa mungkin saya memposisikan diri saya sebagai teman, dan pendengar bagi mereka, Kadangkala mereka hanya butuh didengarkan segala apa yang menjadi curahan hati, ungkapan hati dan cerita mereka. Namun setelah itu semua saya tetap memberikan masukan berupa nasehat dan motivasi yang baik bagi mereka.”
Walaupun bertindak sebagai teman, Asni tetap punya sisi tegas dalam dirinya.
“Berbeda dalam hal aturan dan kesepakatan yang sudah ditetapkan seperti jadwal latihan, saya harus tegas pada mereka sebab seringkali mereka jadi seenaknya bila tidak ada tindakan tegas yang diberikan, bila melakukan pelanggaran,” ungkapnya.
Lewat ajang DBL Super Teacher, Asni ingin menciptakan iklim sekolah yang saling mendukung antara kegiatan akademik dan nonakademik. Pola ini sudah ia terapkan pada anak-anaknya sendiri.
“Pendekatan yang ingin saya lakukan adalah terus mendukung dan memotivasi mereka agar bisa mengatur jadwal latihan dan belajar dengan baik. Ini sudah saya terapkan pada kedua anak saya yang hobi bermain basket dan pernah tampil di DBL Jayapura. Sebagai orang tua, saya selalu mendukung serta mengatur jadwal mereka agar tetap berprestasi di sekolah,” tutur Asni.
Ia berharap pendekatan ini bisa ditularkan kepada murid-muridnya di sekolah.
“Sebagai guru, saya berharap anak-anak lain juga begitu. Jadi, nilai akademik dan nonakademik tidak lagi menjadi dua hal yang berseberangan, melainkan satu kesatuan yang saling mendukung,” pungkAsnia.
Baca Juga: Dari Lapangan Basket di Daerah 3T, Taufik Menemukan Makna Menjadi Super Teacher
DBL Super Teacher adalah program pelatihan, pengembangan kapasitas, dan apresiasi bagi guru pendamping yang digagas oleh DBL Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Program ini ditujukan bagi tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi dan meyakini bahwa proses belajar tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Guru-guru terpilih juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan hingga belajar (short course) ke luar negeri.
Program yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini gratis dan terbuka bagi seluruh guru di Indonesia. (*)