Setahun pertama Made Evan Angelo Setiawan mengenal basket tidak langsung diisi rasa suka. Ia hanya mengikuti arahan sang papa untuk mencoba olahraga tersebut. Sampai akhirnya, teman, lingkungan, dan atmosfer kompetitif di lapangan membuatnya ingin terus bermain.
Cerita itu kini berlanjut bersama SMA Cita Hati East Surabaya (Cheetah East) di Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, Kamis, 17 September 2026. Menghadapi SMA Petra 2 Surabaya, Cheetah East menang 35-15.
Evan bermain selama 22 menit 47 detik dan menyumbangkan 3 poin, 1 rebound, serta 1 assist. Cheetah East sudah unggul 7-2 pada kuarter pertama dan terus menjaga jarak hingga pertandingan berakhir.
Baca juga: Pelukan Mama Jadi Tempat Pulang Yael pada Musim Terakhirnya
Meski menang, Evan menilai permainan timnya belum optimal karena beberapa pemain sedang mengalami flu. Ia sendiri merasa defense sudah berjalan baik, sementara offense masih perlu dimainkan dengan lebih efisien.
"Kalau dari pertandingan tadi, mulai kerasnya harus dari awal. Awal-awal itu kayak jelek banget. Jadi next game mungkin awalnya sudah harus langsung ready biar game-nya lebih aman dan jarak skornya bisa lebih jauh," tuturnya.
Pertandingan tersebut menjadi satu potongan dari cerita basket Evan yang sudah dimulai bertahun-tahun sebelumnya. Jauh sebelum bermain untuk Cheetah East, ia lebih dulu mengenal basket dari lingkungan keluarganya di Bali.
Baca juga: Jordan Saragih Redam Gugup dengan Mengamati Permainan Rekan Setim
Pada 2018, saat masih duduk di bangku SD, Evan diajak sang papa menonton pertandingan. Bersama sang kakak, Putu Kezia Angelie Setiawan, Evan kemudian mulai mencoba basket.
Namun, ia tidak langsung menyukai olahraga tersebut. Awalnya, Evan hanya mengikuti basket untuk mencari tahu bakat dan minatnya. Baru sekitar setahun kemudian, ketertarikannya mulai tumbuh.
Teman dan lingkungan menjadi pemicunya. Evan menemukan sisi kompetitif yang sebelumnya jarang ia rasakan lewat olahraga lain. Dari sana, basket mulai terasa berbeda baginya.
"Awal-awalnya papa yang nyuruh. Tapi kayaknya pas baru setahun baru mulai tertarik. Karena teman sama lingkungannya. Selain olahraga, jarang ngerasain kompetitif. Jadi pas terjun ke olahraga basket, kompetitifnya mulai kerasa dan mulai suka," katanya.
Baca juga: Dari Voli ke Basket, Sasha Teruskan Jejak Sang Ayah
Setelah itu, sang papa mulai melatih Evan dengan lebih serius. Kebiasaan tersebut kemudian ia bawa hingga kini bersama Cheetah East.

Made Evan Angelo Setiawan (nomor punggung 4) membawa bola di tengah penjagaan pemain SMA Petra 2 Surabaya pada Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North di DBL Arena Surabaya.
Bersama Cheetah East, Evan berlatih sekitar lima kali dalam sepekan. Selain sesi di lapangan, terdapat latihan gym dan latihan pagi sebelum sekolah. Ia menyebut latihan timnya sangat kompetitif, bahkan terasa seperti pertandingan.
Suasana basket juga masih hadir ketika Evan berada di luar tim sekolah. Ia sesekali bermain bersama papa dan anggota keluarganya untuk bersenang-senang. Mereka juga pernah bermain di Veteran, Bali, bersama para pemain senior yang biasa berkumpul pada malam hari.
Baca juga: Styfen Pedro Bawa Cinta Kasih Orangtua dari Palu ke DBL Arena!
Dari lingkungan keluarga yang sama, Evan tumbuh bersama Kezia. Sang kakak yang lebih dulu punya pengalaman di basket sekolah sesekali memberikan motivasi dan masukan kepada Evan. Dukungan itu menjadi salah satu teman Evan saat menjalani basket.
Meski tumbuh bersama kakaknya di lingkungan basket yang sama, Evan memilih untuk tidak menjadikan perjalanan sang kakak sebagai patokan. Ia ingin mengenal kemampuannya sendiri dan menentukan ke mana basket akan membawanya.
"Aku pengin punya jalan sendiri, enggak harus ngikutin siapa-siapa, jadi Evan aja gitu," tuturnya.
Bersama Cheetah East, Evan tidak ingin terlalu terburu-buru menentukan pencapaian yang harus diraih. Ia memilih menikmati setiap pertandingan yang dijalani sambil terus belajar dan melihat sejauh mana kemampuannya bisa berkembang.
“Kalau target ke depannya pasti ada. Tapi sekarang aku lebih fokus jalanin satu-satu dulu, belajar dari setiap game, sama nikmatin prosesnya,” tuturnya.
Baca juga: Musim Terakhir Hugo di DBL Membawa Cerita yang Dimulai dari Papa
Bagi Evan, setiap pertandingan menjadi kesempatan untuk merasakan lebih banyak hal di lapangan. Ia ingin terus bermain tanpa terlalu membebani diri dengan pencapaian yang harus segera didapatkan.
“Yang penting aku jalanin dulu, nikmatin aja,” ucapnya.
Basket kini bahkan ia sebut sebagai mimpi. Evan ingin terus bermain dalam jangka panjang dan melihat sejauh mana olahraga tersebut bisa membawanya.
Mimpi itu bermula dari ajakan sederhana sang papa di Bali. Kini, Evan memiliki ruang baru untuk menumbuhkannya bersama Cheetah East.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil Made Evan Angelo Setiawan bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).
Hasil akhir pertandingan SMA Cita Hati East Surabaya vs SMA Petra 2 Surabaya bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).