Ada satu hal yang masih tertinggal dari musim terakhir Panji Barunateja bersama SMAN 6 Surabaya (Sixers). Bukan hanya kemenangan pertama timnya di Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java North, tetapi juga sebuah pelajaran tentang menjadi bagian dari tim.
Sixers menutup Round 2 dengan kemenangan atas SMAN 4 Sidoarjo (Sekawan) di DBL Arena Surabaya, Selasa, 22 September 2026. Mereka tampil dominan sejak kuarter pertama dan terus menjaga jarak hingga pertandingan berakhir dengan skor 92-6.
Panji menjadi salah satu pemain yang ikut menjaga permainan Sixers tetap berjalan. Selama 18 menit 46 detik di lapangan, pemain kelas XII itu mencatatkan 9 poin, 8 rebound, dan 12 assist.
Namun, angka itu bukan bagian yang paling ingin Panji bawa pulang dari musim terakhirnya. Baginya, pertandingan tersebut merupakan penutup dari perjalanan tiga musim bersama Sixers di DBL. Perjalanan yang sempat hampir ia hentikan ketika duduk di kelas X.
Baca juga: Sixers Mania Sambut Usia ke-69 SMAN 6 Surabaya dengan Koreo di Tribun DBL
Panji baru mengenal basket ketika duduk di kelas VIII SMP. Saat itu ia hanya mengikuti ajakan teman dan kakak kelas untuk bermain. Ia belum punya latar belakang basket dari keluarga ataupun pengalaman olahraga yang benar-benar menonjol.
Ketertarikannya justru tumbuh karena suasana ketika bermain bersama kakak kelas. Menurut Panji, mereka memiliki satu kesamaan yang membuat basket terasa menyenangkan, yaitu keinginan untuk menang dan sifat kompetitif.
"Dulu saya cuma diajak main. Terus saya sering lihat kakak kelas main basket. Mereka seru, semuanya ingin menang dan kompetitif. Dari situ saya jadi merasa main basket itu tidak membosankan," ujar Panji.
Memasuki kelas IX, Panji mulai belajar basket dengan lebih serius. Ia berlatih secara rutin dan perlahan membangun kemampuan dari dasar. Saat itu, ia juga mulai terbiasa menjadi pemain yang membawa bola dan mengatur permainan.
Baca juga: Keunggulan Terlepas di Detik Akhir, Coach Iqbal Soroti Fokus Sixers
Kebiasaan tersebut ternyata menjadi bekal penting beberapa tahun kemudian. Panji tidak hanya berkembang sebagai pemain, tetapi juga dipercaya untuk mengatur rekan-rekannya ketika berada di lapangan.
"Karena dari kelas IX saya sering main sebagai yang bawa bola. Mau tidak mau, yang bagi bola saya, yang ngatur mainnya saya. Jadi saya belajar dari situ untuk ngatur timnya waktu di game," jelasnya.
Menariknya, ketika masuk SMAN 6 Surabaya pada kelas X, Panji justru sempat tidak memiliki niat untuk meneruskan basket. Ia merasa tidak lagi memiliki teman-teman yang sebelumnya bermain bersamanya. Lingkungan yang berubah membuatnya memilih untuk tidak melanjutkan.
Keputusan itu tidak bertahan lama. Ajakan dari kakak kelas membuatnya kembali bermain. Setelah kembali ke lapangan, Panji perlahan menemukan alasan untuk terus bertahan hingga akhirnya menjalani tiga musim DBL bersama Sixers.
"Waktu masuk SMA kelas X itu sebenarnya sudah tidak ada niatan lanjut. Teman-teman saya juga mencar. Terus tiba-tiba dipanggil dan diajak main lagi. Sekali main, akhirnya masuk lagi dan diberi tanggung jawab," ungkapnya.
Baca juga: Ikut Tegang di Pinggir Lapangan, Bu Nana Kawal Perjuangan Sixers hingga Overtime
Pada kelas XI, kepercayaan yang lebih besar datang kepadanya. Panji dipercaya menjadi kapten dan kembali menjalankan peran tersebut pada musim terakhirnya di kelas XII.
Aksi Panji Barunateja (nomor punggung 10) saat membawa bola dan mencari celah di lini pertahanan lawan untuk mengatur ritme permainan tim.
Kepribadiannya yang cenderung pendiam membuat peran tersebut tidak selalu mudah. Panji merasa dirinya mampu mengatur tim ketika pertandingan berlangsung, tetapi tidak memiliki kemampuan yang sama ketika harus membangun kedekatan dengan teman-temannya di luar lapangan.
"Kalau di dalam game saya bisa mengatur mereka. Saya bisa kasih tahu kalau ada strategi yang tidak dijalankan dan saya berani marah kalau memang diperlukan. Tapi kalau di luar game, saya masih susah merangkul mereka,” katanya.
Kesadaran itu tidak datang begitu saja. Saat pertama dipercaya menjadi kapten, Panji bahkan sempat menjelaskan kepada tim bahwa dirinya bukan sosok yang banyak berbicara atau mudah mengajak orang berkumpul. Ia meminta teman-temannya untuk membantunya agar hubungan mereka tidak hanya terjalin ketika berada di lapangan.
Baca juga: Sixers Belajar dari Ritme yang Sempat Hilang
Di pertandingan, Panji belajar memimpin melalui permainan. Ia terbiasa mengatur aliran bola, membaca situasi, dan memastikan strategi yang diberikan pelatih dijalankan. Di luar pertandingan, ia justru belajar bahwa seorang kapten tidak cukup hanya mampu mengatur permainan.
Pengalaman selama dua musim menjadi kapten membuat Panji memahami sisi tersebut. Ia melihat bahwa sebuah tim juga membutuhkan kebersamaan ketika tidak sedang bertanding. Hal itu pula yang menjadi salah satu hal yang ia sesali menjelang akhir masa SMA-nya.
Karena itu, setelah pertandingan terakhir Round 2 selesai, Panji memiliki satu pesan untuk adik kelas yang akan meneruskan Sixers. Ia tidak ingin mereka mengulangi hal yang menurutnya masih menjadi kekurangan dalam dirinya.
"Jangan jadi seperti saya yang banyak diam di luar. Kalian harus sering berkumpul dan tetap jadi satu, bukan cuma di dalam game. Sixers itu punya jargon Sixers Family, jadi family-nya juga harus terasa di luar basket," tuturnya.
Baca juga: Ahmad Musyafiq, Wakasek SMAN 6 Surabaya Tak Pernah Absen di DBL Arena
Bagi Panji, kemenangan 92-6 menjadi penutup yang berbeda dibanding perjalanan Sixers pada musim sebelumnya. Tahun lalu, Sixers juga berhasil melangkah ke Round 2. Musim ini, mereka kembali menutup fase tersebut dengan kemenangan.
"Kita tahu lawan di Round 2 tidak mudah. Jadi kita jalan satu-satu dan fokus ke lawan yang ada di depan. Jangan terlalu banyak mikir yang jauh, fokus dulu sama pertandingan yang sedang dijalani," katanya.
Kini Round 2 telah selesai, tiga musim di DBL membawanya dari pemain yang sempat ingin berhenti menjadi sosok yang dipercaya memimpin Sixers. Dari basket, Panji belajar tentang permainan, kepercayaan, dan arti menjadi bagian dari tim.
Musim terakhirnya pun menjadi kesempatan bagi Panji untuk melihat kembali perjalanan yang sudah ia lalui dan pelajaran yang ingin ia bawa setelahnya.
Baca juga: Sixers Menang Perdana di DBL East Java-North, Skuad Pilih Fokus Game-by-Game
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil Panji Barunateja bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).
Hasil akhir pertandingan SMAN 4 Sidoarjo vs SMAN 6 Surabaya bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).