Ada sesuatu yang tidak biasa di babak Fantastic Four Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-Championship. SMA St. Louis 1 Surabaya (Sinlui) dibuat kesulitan.
Bukan sekadar kesulitan biasa. Sang juara bertahan bahkan harus mengejar SMAN 1 Jember (Sketsa) hampir sepanjang pertandingan semifinal.
Sinlui tetaplah Sinlui. Tim putra mereka datang dengan status pemegang tujuh gelar East Java Championship secara beruntun sejak 2018. Dominasi mereka di Jawa Timur sudah berlangsung begitu lama.
Di Final Party Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North saja, SMA Gloria 1 Surabaya harus mengakui keunggulan Sinlui dengan skor 44-61.
Namun, cerita berbeda ditunjukkan Sketsa. Wakil Jember tersebut membuka pertandingan dengan keunggulan 6-13. Mereka kemudian terus memberikan tekanan. Bahkan, Sinlui baru mampu mengejar pada kuarter keempat.
Kuarter kedua ditutup dengan 21-27 unggul Sketsa. Kuarter ketiga diakhiri dengan 37-43. Masih unggul Sketsa. Pertandingan semakin seru. Angka views live streaming di YouTube DBL Play hampir mencapai 50 ribu.
Meskipun Sketsa memang harus mengakui kemenangan Sinlui dengan skor 60-55, lima poin itu terasa berbeda. Terutama bagi satu sosok yang berdiri di pinggir lapangan sejak awal hingga buzzer terakhir berbunyi. Namanya Arif Angga Yudha. Atau anak-anak Sketsa biasa memanggilnya Coach Angga.
Sudah 9 tahun Coach Angga membangun tim basket putra SMAN 1 Jember. Sudah berkali-kali pula ia membawa anak-anaknya datang ke East Java Championship.
Namun, belum pernah mereka sedekat ini dengan mimpi yang terus dibawanya setiap tahun: Juara DBL East Java Championship.
“Ini merupakan pencapaian terbesar saya secara pribadi untuk tim DBL. Dengan melihat skor yang kita dapatkan, meskipun kalah, ini perlawanan paling luar biasa selama saya membawa tim DBL, terutama di Championship,” kata Coach Angga.
Coach Angga sebenarnya tidak pernah meminta anak-anaknya mengalahkan Sinlui hari ini.

Arif Angga Yudha saat memberikan arahan kepada Sketsa di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java Championship
Baca Juga: Hasil DBL East Java Championship: Putra Sketsa dan Sinlui ke Fantastic Four!
Ia tahu betul siapa yang berdiri di hadapan mereka. Dalam pandangannya, Sinlui masih menjadi salah satu tim terbaik Jawa Timur. Mereka telah berhadapan dengan tim-tim kuat dan berkali-kali membuktikan kapasitasnya.
Karena itu, sebelum pertandingan, permintaan Coach Angga kepada pasukannya justru sederhana: Tampilkan versi terbaik.
“Nggak mengharuskan kalian buat menang. Kasih yang terbaik yang kalian punya, keluarkan hari ini. Apa pun hasilnya, saya bangga kalau kalian bisa main dengan versi terbaik kalian,” begitu pesan yang ia sampaikan kepada anak-anaknya.
Ternyata, versi terbaik itu membuat kejutan. Sketsa membuka pertandingan dengan laju 0-12. Defense mereka merepotkan Sinlui. Serangan mereka berjalan. Anak-anak Jember seolah tidak peduli dengan sederet prestasi yang dibawa lawannya ke lapangan.
Coach Angga juga demikian. Ia tidak ingin terlalu sibuk memikirkan apa yang akan dilakukan Sinlui. Fokusnya hanya satu: memastikan anak-anaknya tetap berjalan di jalur permainan yang sudah mereka persiapkan.
“Main seperti biasanya saja. Biasanya main dengan defense yang press, ya lakukan. Meskipun itu Sinlui, lakukan saja,” tegasnya.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah ia lupakan. Sinlui adalah Sinlui. “Pasti mereka punya banyak cara untuk tetap memenangkan pertandingan,” tambahnya.
Benar saja. Sketsa mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan memasuki kuarter terakhir. Namun, tenaga mereka perlahan terkuras.

Baca Juga: Putra Sketsa Raih Quintuple, Lima Gelar Beruntun di East Java-East
Pilihan pemain yang dimiliki Coach Angga tidak sebanyak Sinlui. Rotasi lawannya lebih merata. Sementara itu, ia harus memaksimalkan pemain-pemain yang ada di bangku cadangannya.
Sinlui akhirnya menemukan jalan. Mereka membalikkan keadaan dan mengakhiri pertandingan dengan kemenangan 60-55.
***
Kompetisi DBL tidak memiliki region East Java-East (Jember) seperti sekarang. Tim-tim dari kawasan tersebut harus mencoba masuk melalui kompetisi di East Java-South (Malang). Kuota yang terbatas membuat Sketsa berulang kali masuk waiting list.
Ada beberapa waktu mereka bahkan tidak mendapat kesempatan bermain. Saat itu, prestasi akhirnya hanya bisa dikejar melalui kompetisi-kompetisi lokal lainnya.
Situasi tersebut turut membuat SMAN 1 Jember belum menjadi tujuan utama bagi anak-anak basket di daerahnya. Menurut Coach Angga, nama sekolah lain ketika itu lebih lekat dengan basket Jember.
Baca Juga: Kilas Balik Final DBL Surabaya: Jalan Penuh Liku Putra Sinlui Menuju Final
SMAN 1 Jember juga dikenal kuat dengan prestasi akademiknya. Basket belum menjadi sesuatu yang mendapatkan perhatian sebesar sekarang.
Namun, Coach Angga tidak menyerah begitu saja. Ia akhirnya memilih membangun semuanya secara perlahan. Kebetulan, ia juga melatih student-athlete di beberapa SMP. Beberapa anak didik itulah yang kemudian diyakinkannya untuk melanjutkan perjalanan bersama di SMAN 1 Jember.
“Kita bawa SMAN 1 Jember ini jadi tim baru yang nanti bisa kasih kejutan untuk basket Jember,” kenangnya.
Kesempatan yang mereka tunggu kemudian datang. DBL hadir di Jember pada 2022. Dengan nama DBL East Java-East. Pada kesempatan pertama, Sketsa langsung menjadi juara. Satu gelar berubah menjadi dua. Kemudian tiga, empat, hingga lima secara beruntun.
Sejak memiliki region sendiri di East Java-East, Sketsa tak pernah absen membawa nama Jember menuju East Java Championship. Basket pun perlahan memperoleh tempat yang berbeda di sekolah. Di hati penggemar basket Jember. Di hati para guru. Pun banyak pihak lainnya.
Prestasi para pemain mulai mendapatkan apresiasi. Plakat-plakat mereka terpampang di lorong sekolah. Dukungan terhadap tim juga terus tumbuh. Coach Angga tidak melupakan orang-orang yang ikut membuat perjalanan tersebut mungkin.
Terutama para orangtua.
Sebagai tim dari sekolah negeri, perjalanan mengikuti kompetisi membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Transportasi, penginapan, hingga bekal, berbagai kebutuhan pemain harus dipenuhi.
“Pembiayaan itu dari orang tua. Jadi saya harus sampaikan terima kasih kepada orang tua yang support kita,” ungkapnya.
Sedikit demi sedikit, sesuatu yang 9 tahun lalu hanya dibangun dari keyakinan mulai menghasilkan bentuk.
***
Begitu sampai di Championship, ceritanya berbeda. Tim-tim Surabaya menjadi tembok yang berulang kali menghentikan perjalanan mereka.
Dari situlah target Coach Angga berubah. Bukan lagi sekadar menjadi yang terbaik di Jember. Sketsa harus bisa bersaing dengan daerah lain.
“Saya terus tanamkan ke anak-anak, targetnya bukan di level Jember lagi. Motivasinya bagaimana caranya kamu bisa bersaing di Surabaya. Kamu harus lihat mainnya Surabaya. Saya pun belajar, terus belajar setiap tahunnya,” jelasnya.
Coach Angga melihat satu perbedaan besar. Fisik.
Baca Juga: Fokus Latihan Fisik, Undika Zaka Siap All Out di DBL Camp 2026
Tim-tim Surabaya terbiasa bermain dengan tekanan tinggi. Defense ketat bisa diberikan bahkan sejak lawan belum melewati garis tengah.
Situasi seperti itu tidak selalu ditemui Sketsa di kompetisi regional. Maka latihan mereka pun dimodifikasi. Anak-anak harus dibiasakan menghadapi pressure. Pemain bertahan diminta benar-benar menekan ketika scrimmage. Pemain menyerang dipaksa berpikir dan berkreasi mencari jalan keluar.
Press breaker dibentuk. Set play diasah. Semua dilakukan bukan dalam hitungan hari. Satu tahun program latihan mereka disusun dengan DBL sebagai target utama.
Turnamen lain dijadikan sebuah latihan. DBL-lah yang ingin mereka kejar.
Dan pada semifinal East Java Championship 2026, hasil dari perjalanan panjang itu mulai terlihat. Dua pemain menjadi motor serangan Sketsa. Romeo Benzevansyah jadi keran poin hingga mencetak 25 poin. Undika Zaka Reka Wardoyo menambahkan 16 poin.
Keduanya membantu Sketsa melakukan sesuatu yang tidak banyak tim mampu lakukan musim ini: berada di depan Sinlui hampir sepanjang pertandingan. Untuk sesaat, mimpi Coach Angga terasa begitu dekat.
Dari berkali-kali dihentikan tim Surabaya di Championship, menjadi tim yang membuat Sinlui baru bisa bernapas lega pada kuarter terakhir.
“Coach Angga cuma punya satu mimpi. Semoga juga jadi mimpi kalian semua. Coach Angga cuma ingin suatu saat, entah kapan, kita tampil di final East Java,” tuturnya.
Ia tidak meminta gelar juara. Bisa membawa Sketsa berdiri di panggung final saja sudah cukup untuk melengkapi perjalanannya sebagai seorang pelatih.
Hari itu, mimpi tersebut nyaris menjadi kenyataan. Namun sirna. Tentu ada rasa sedih. Namun, Coach Angga percaya perjalanan mereka memang belum ditakdirkan selesai sekarang. Ia justru memilih melihat apa yang sudah dilakukan anak-anaknya.
“Kalian luar biasa. Kalian hebat. Kalian generasi terbaik yang Coach Angga punya sampai hari ini. Ini pencapaian yang terbaik,” katanya.
Sketsa memang tidak pulang membawa tiket final. Mereka juga tidak berhasil meruntuhkan tujuh tahun dominasi Sinlui di East Java Championship. Namun, skor 55-60 telah meninggalkan sesuatu.
Sebuah pertanda bahwa mimpi yang selama bertahun-tahun terasa begitu jauh, kini berjarak hanya lima poin. Dan Sketsa sudah menampilkan yang terbaik hari ini.
Sampai jumpa di tahun depan, Sketsa.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil pelatih SMAN 1 Jember di atas bisa dilihat di bawah ini: