ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Final Party Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java, Jumat, 9 Oktober 2026, menjadi akhir perjalanan SMA Gloria 1 Surabaya dalam perebutan gelar juara musim ini.

Tim putri Gloria 1 harus mengakui keunggulan SMA St. Louis 1 Surabaya (Sinlui). Meski hasil akhir belum sesuai harapan, Ocha Patnira masih menyimpan mimpi untuk kembali berjuang pada musim berikutnya.

Bagi Ocha, kesempatan itu bukan sekadar soal mengejar gelar juara. Sebagai salah satu pemain yang akan menjalani musim terakhir bersama Gloria 1, ia ingin bekerja lebih keras sekaligus membimbing adik-adik kelasnya agar lebih siap menghadapi pertandingan.

Baca juga: Helena Meysha dan Nungaro Samuel Prediksi Champion DBL East Java 2026

Keinginan itu tumbuh dari perjalanan yang tidak selalu mudah. Sebelum kembali berdiri di lapangan dan berjuang bersama timnya, Ocha pernah berada di titik ketika ia hampir memilih meninggalkan basket.

Cerita Ocha bersama basket bermula sejak kelas 2 SD. Saat itu, Lusy Arona, sang Mama, menjadi orang yang lebih dulu mendorongnya untuk menekuni olahraga tersebut.

Bukan demi mengejar prestasi, Mama hanya ingin putrinya memiliki kegiatan fisik yang bermanfaat bagi kesehatannya hingga dewasa.

"Awalnya sih memang saya yang maksa. Saya ingin dia punya kegiatan olahraga, karena itu kan investasi di masa tua. Kalau masih kecil mungkin rasanya kayak paksaan. Nanti kalau badan sehat, tegap, itu kan rasanya sehat sekali," cerita Mama.

Baca juga: Kilas Balik Finalis DBL East Java: Putri Gloria 1 Kembali Memburu Takhta

Seiring waktu, basket tumbuh menjadi pilihan Ocha sendiri. Ia berani melanjutkan pendidikan di SMA Gloria 1 Surabaya dengan meninggalkan Blitar. Kesempatan itu juga membawanya memperoleh beasiswa melalui usahanya sendiri.

Bagi Mama, pencapaian tersebut tentu membanggakan. Namun, ia tidak ingin prestasi membuat Ocha merasa harus selalu menjadi yang terbaik atau memenuhi tuntutan tertentu.

"Saya bukan orang tua yang harus menuntut anaknya begini atau begitu. Buat saya, basket ya di luar. Ketika kembali ke rumah, dia tetap menjadi sosok Ocha," tutur Mama.

Sebelum mantap menekuni basket, Ocha juga aktif di dunia modern dance. Ketika harus menentukan fokus, ia akhirnya memilih basket dan melanjutkan perjalanannya bersama olahraga tersebut.

Baca juga: Suryadinata Putera Hartono dan Perjalanan Panjang Menuju Final Bersama Gloria 1

Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Cedera ankle yang dialaminya membuat Ocha harus mengurangi latihan bersama tim sejak Februari. Pemulihan yang berlangsung lebih lama dari perkiraannya perlahan menguras tenaga dan semangatnya.

Di saat bersamaan, persoalan pribadi turut memengaruhi kondisi emosionalnya. Ocha mulai merasa lelah dengan keadaan yang dihadapinya, hingga sempat terpikir untuk meninggalkan Gloria 1 dan menjauh dari media sosial.

"Sebenarnya bukan kebosen. Lebih capek dan nyerah sama diri sendiri. Sempat ada titik di mana aku memutuskan hampir tidak di sekolah Gloria lagi, berhenti dari semuanya, dan enggak bakal muncul ke media sosial lagi," ungkap Ocha.

Ia sempat mencoba kembali berlatih selama sekitar dua minggu. Namun, keinginan untuk melanjutkan perjalanan bersama basket belum sepenuhnya kembali. Ocha kembali menutup diri, bahkan tidak membalas pesan dari Mama.

Baca juga: 

Setelah sekian lama tidak menjalani rutinitas latihan, berada jauh dari basket sempat terasa nyaman baginya. Keputusan untuk berhenti pun semakin mendekati kenyataan.

Perlahan, dukungan teman-temannya di klub Lion membantu Ocha melihat situasinya dari sudut pandang berbeda. Salah seorang temannya rutin menanyakan kabar dan mengingatkannya agar tidak menyerah sebelum menuntaskan masa sekolah.

Dukungan itu menjadi salah satu hal yang membuat Ocha kembali memikirkan keputusannya. Ia mulai meyakinkan diri bahwa perjalanan yang sudah dimulai tidak harus berakhir ketika keadaan terasa sulit.

"Alasan untuk kembali bangkit karena aku ngeyakinin diriku, kalau aku stop di sini aku mau jadi apa? Aku ngeyakinin diriku, kamu bisa bertahan," tuturnya.

Baca juga: 

Di tengah masa sulit tersebut, Mama juga berusaha mendampingi Ocha dengan caranya sendiri. Ia mengakui terkadang perlu bersikap tegas ketika putrinya ingin menyerah.

Bagi Mama, membiarkan Ocha berhenti saat sedang terpuruk bukan selalu menjadi pilihan terbaik. Ia ingin putrinya melewati masa sulit itu agar kelak tidak menyesali keputusan yang dibuat ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

"Saya mending dia menangis sekarang ketimbang nanti menangisi yang sudah berlalu," ujar Mama.

Meski mendapat dukungan keluarga, Ocha mengaku terkadang merasa tertekan ketika Mama dan Papa datang menonton pertandingan secara langsung. Ada kekhawatiran bahwa penampilannya tidak akan memenuhi harapan mereka.

Baca juga: 

Perasaan itu menjadi bagian dari pergulatan Ocha dalam menjalani basket. Namun, di balik tekanan yang terkadang ia rasakan, dukungan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam perjalanannya.

Kekalahan di Final Party pun menyisakan kesedihan tersendiri bagi Ocha. Meski demikian, ia tetap bangga melihat perjuangan rekan-rekannya yang mampu menjaga kepercayaan diri dan tidak menyerah sepanjang pertandingan.

"Aku ngerasa bangga sama teman-teman. Mereka enggak menyerah, benar-benar percaya diri dari awal. Kuarter satu juga sempat unggul, walaupun akhirnya kami enggak bisa menang," kata Ocha.

Hasil tersebut belum membawa Gloria 1 meraih gelar juara. Namun, Ocha tidak ingin perjalanan musim ini menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Ia justru ingin menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal untuk menghadapi musim terakhirnya bersama tim.

"Tahun depan harus kerja lebih keras, harus bimbing mereka semua lebih baik lagi. Target tahun depan, of course champion final. Kita balikin gelar yang udah dua tahun ini berhenti, balik lagi ke kita," tegasnya.

Baca juga: 

Harapan Ocha untuk musim depan berjalan beriringan dengan pesan Mama setelah pertandingan. Baginya, menang dan kalah merupakan bagian dari kompetisi. Yang terpenting, hasil pertandingan tidak membuat Ocha kehilangan keberanian untuk melanjutkan langkahnya.

"Semangat aja ya untuk selanjutnya. Kalah menang itu pasti. Semua juga pasti pengin menang. Cuma kalau kalah, enggak boleh terpuruk. Enggak boleh terpuruk, berhenti di sini," pesan Mama.

Ocha masih memiliki mimpi yang ingin diperjuangkan bersama Gloria 1. Sementara itu, Mama Lusy tidak menjadikan gelar juara sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan putrinya.

Baginya, melihat Ocha berani bangkit setelah masa sulit dan terus mencoba sudah menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. 

Sebab, kemenangan bukan satu-satunya hal yang bisa dibawa pulang dari lapangan; ada pula keberanian untuk menghadapi kegagalan dan mencoba sekali lagi.

Baca juga: 

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp. 

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil Ocha Patnira bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS