ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

MAINMAIN

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Coach Empie Murino (tengah) ketika memimpin timnya di Honda DBL West Sumatera Series 2019 (DBL Indonesia)

Selamat Hari Olahraga Nasional DBL Lovers dan seluruh insan olahraga di Indonesia! Itu ucapan yang serupa, dengan perayaan Haornas di tahun 2020 lalu. Tapi, harus dimaknai secara mendalam loh! Serius...

Tidak terasa, tahun sudah bertambah. Setahun terakhir Hari Olahraga Nasional (Haornas) berlalu tanpa adanya kompetisi olahraga. Akibat pandemi yang melanda. Tapi, setiap tahunnya, kita harus tetap larut dalam euforia Haornas. Tujuannya simpel, biar jiwa olahraga nggak teredam, akibat pandemi yang ternyata banyak merugikan.

Bicara olahraga, bertepatan dengan Haornas, tim redaksi DBL.id berkesempatan  ngobrol bareng salah seorang pelatih, yang berasal dari pulau Sumatera. Dia adalah coach Empie Murino, pelatih SMAN 2 Padang. Kisahnya cukup bikin terenyuh. Lewat olahraga basket, ia bisa menyentuh sisi rohani pemain.

Sebenarnya, coach Empie bukan ‘asli’ orang olahraga. Namun, banyak dikelilingi olahragawan. Kedua orang tuanya, seorang yang berprestasi di bidang olahraga. Ayahnya, merupakan seorang atlet atletik. Ibunya, atlet panahan nasional yang sempat eksis di tahun 60-70an silam.

Belum lagi, kakak paling tuanya juga merupakan atlet panahan, di Sumatera Barat. Pun, kakak nomor tiganya. Berkecimpung di lingkaran olahraga. Yaitu wasit panahan internasional. Adiknya? Tentu juga lekat dengan olahraga. Sebagai pelatih basket di Padang.

Sementara coach Empie sendiri bukan orang yang ‘niat’ besar di olahraga. Dia merupakan lulusan dari Fakultas Teknik. Meskipun sempat ‘diracuni’ basket sewaktu kecil. Tapi, memang dasarnya ia punya kesenangan untuk mendidik. “Saya orang yang senang bersosialisasi, senang berhubungan dengan orang, termasuk mendidik anak-anak,” ucapnya.

Ungkapan buah tak jatuh dari pohonnya, nyatanya benar. Meski sudah melanglang buana ke luar dunia olahraga, kini coach Empie malah kembali berkecimpung di dunia olahraga. Beruntungnya satu, ia punya hobi mendidik dan berbagi ilmu itu tadi. Jadi, baginya bukan hal yang sukar jika ia dipercaya menjadi pelatih basket satu tim sekolah.

Di SMAN 2 sendiri, coach Empie mulai melatih pada awal tahun 2001. Di sana, ia melatih basket seperti pada umumnya. Singkat cerita, hingga pada tahun 2011, timnya SMAN 2 ikut serta pada kejuaraan di salah satu sekolah berlatar belakang agama. Dari situ, ia mulai menegaskan pada anak didiknya untuk coba memakai hijab bagi siswi muslim.

“Jika saya bisa mampu ‘memaksa’ mereka berlari untuk sprint dan latihann fisik lainnya, kenapa saya tidak bisa ‘memaksa’ mereka mencintai agama mereka. Saya takut ditanya Tuhan kenapa tidak disentuh sisi rohaninya,” ucap coach Empie. 

Coach Empie memang sudah seperti guru ngaji buat anak-anak SMAN 2. Ia mewajibkan berhenti, jika mendengar adzan ketika latihan. “Saya meminta mereka, stop, duduk, dengar dan jawab adzan,” tuturnya. Begitupun, ketika puasa. “Saya tanya ke mereka, puasanya bolong nggak hari ini, setelah bulan puasa, saya tanya udah bayar utang puasanya belum kemarin,” lanjutnya.

Baginya, ini jadi satu kewajiban penting selain membuat mereka pandai di basket. Sama halnya seperti guru, yang merupakan orang tua di sekolah. Coach Empie menempatkan diri sebagai orang tua anak-anak di lapangan. Ia tak ingin, apa yang ditorehkan di basket, jadi seakan sia-sia. Ia pun begitu yakin kalau punya pondasi sisi rohani yang kuat, juga akan berpengaruh di kehidupan. “Percuma mereka juara di dunia, tapi jadi pecundang di akhirat,” tegasnya.

Kisah coach Empie sendiri nyatanya membuktikan, lewat olahraga semua bisa berpengaruh. Termasuk mengenai sisi rohani seseorang. Coach Empie mengajarkan, bagaimana sebenarnya olahraga sangat memiliki makna besar, jika benar-benar dimaknai lebih dalam. (*)

  RELATED ARTICLES
Comments (0)