ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

MAINMAIN

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Penyelenggaraan Developmental Basketball League (DBL) menuntut standar gedung pertandingan tertinggi di Indonesia. Belajar dari kesulitan-kesulitan di gedung-gedung “lama,” muncullah DBL Arena. Dari proses gambar sampai jadi, gedung itu kelar hanya dalam tujuh bulan! 

Pertandingan pertama dalam sejarah DBL diselenggarakan di GOR Kampus C Universitas Airlangga Surabaya, 17 Juli 2004. Gedung berkapasitas sekitar 1.000 penonton itu memang bukan yang terbesar di Surabaya. Tapi, ketika itu, belum pernah ada kompetisi basket yang mampu memenuhinya. Apalagi kalau penyelenggaraannya tidak gratis.

Azrul Ananda, commissioner DBL, ingat betul suasana hari itu. “Kami seluruh tim sangat bangga. Meski harga tiket masih sangat murah, sekitar Rp 3.000 per orang, kami mampu membuat gedung itu penuh,” kenangnya.

Azrul juga ingat malam sebelum final pertama DBL, di GOR Kertajaya Surabaya, 7 Agustus 2004. Waktu itu, seluruh tim DBL sedang sibuk “menghias” gedung berkapasitas hampir 3.000 orang tersebut.

“Ada seorang bapak yang baru selesai latihan basket bertanya kepada saya, ‘Ini acara apa?’. Setelah dijelaskan ini DBL, dia bertanya, ‘Harga tiketnya berapa?’. Setelah dijawab kalau harga per tiket Rp 5.000, bapak itu langsung mencibir. Dia bilang, Memang ada yang mau nonton?” kenang Azrul. 

Karena memang tidak punya pengalaman bikin pertandingan basket di gedung besar, panitia waktu itu hanya bisa diam. Dan memang, panitia tak perlu bicara banyak. Yang penting hasilnya. Final perdana itu jauh melebihi ekspektasi. Saking banyaknya penonton, gedung sampai harus “isi ulang.”

Usai pertandingan final putri, para suporter diminta segera pulang. Agar bisa memberi ruang duduk bagi rombongan suporter final putra.

Total, lebih dari 5.500 penonton menghadiri final perdana itu. Menurut Ridwan Prayogo, kala itu ketua harian Pengprov Perbasi Jawa Timur, jumlah penonton final DBL 2004 itu memecahkan rekor pertandingan final basket Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2000, yang juga diselenggarakan di GOR Kertajaya.

Sukses final perdana itu sebenarnya sudah memberi pertanda. Bahwa perlu fasilitas gedung yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan DBL. Masalah “isi ulang suporter” terus mewarnai kompetisi. Dan bukan hanya saat final. Ketika penyisihan pun sering terjadi pergantian penonton. 

Pada 2006, sudah muncul keinginan punya gedung basket sendiri. Namanya pun sudah ada: DBL Arena. Memakai kata “Arena,” seperti gedung-gedung basket di Amerika Serikat.

“Gedung itu harus memenuhi berbagai kebutuhan yang tidak bisa kami dapatkan sebelumnya. Harus nyaman untuk empat elemen: panitia, penonton, pemain, dan sponsor,” kata Azrul Ananda.

Sebenarnya, pada 2006 itu juga, rencana pembangunan sudah berjalan. Tanah pun sempat diputuskan. Yaitu di kawasan Bundaran Waru, yang membatasi Surabaya dan Sidoarjo. Sayang, tanah itu lantas harus digunakan untuk pembangunan tol (yang sampai 2009 ternyata tak kunjung selesai). 

Rencana ini pun tertunda setahun.

Pada 2007 akhir, sempat muncul lagi rencana membangun di sekitar Bandara Juanda Surabaya. Ada banyak tanah di sana, dan yang dipilih adalah yang terletak di sebelah jalan tol baru menuju Bandara Juanda.

“Sayang, kami lantas menghadapi masalah pembangunan akses jalan dan lain-lain,” ungkap Azrul.

Pada akhirnya, sekitar November 2007, diputuskan bahwa DBL Arena dibangun di kompleks Graha Pena Jawa Pos, di Jalan Ahmad Yani Surabaya. “Tanahnya memang tidak terlalu luas, hanya sekitar 6.000 meter persegi, tapi cukup untuk apa yang kami butuhkan,” tutur Azrul.

Tanah sudah, lanjut ke desain. Azrul menegaskan, desainernya tidak boleh mereka yang sudah sering membuat gedung olahraga di Indonesia. Alasannya, nanti hasilnya sama saja seperti gedung-gedung lain. Harus ada pendekatan baru. Tidak harus mewah megah. Makin sederhana makin baik. Yang penting harus fungsional sesuai kebutuhan DBL atau pertandingan internasional.

“Lebih baik tim baru yang tidak terjebak pola-pola lama. Namun punya visi praktis dan simple,” tandas Azrul.

Trikarya Graha Utama (TGU) kemudian muncul sebagai desainer sekaligus konsultan pembangunan DBL Arena. Bulan Desember 2007, gambar mulai tersusun. Bulan itu juga, pembangunan mulai berjalan.

Semula, gedung ini direncanakan rampung pada Agustus 2008. Rencananya, pemakaian pertamanya adalah final Honda DBL East Java 2008, pada akhir Agustus tahun tersebut.

Beda dengan gedung-gedung lain di Indonesia, lapangan basket DBL Arena terletak di lantai tiga, dikelilingi tribun yang sanggup menampung 4.400 penonton. Di belakang tribun itu lorong keliling berdinding kaca, sehingga orang bisa santai menikmati stan-stan sponsor bila lelah nonton di tribun.

Di salah satu sisi bagian atas, juga ada dua VVIP Suite. Tamu terpenting bisa nonton dari sana, dimanjakan dengan layanan makanan dan minuman. Untuk mencapainya pun tak perlu ikut rombongan penonton lain. Bisa naik ke atas lewat lift, langsung dari parkiran mobil di lantai dasar.

Bagian dasar DBL Arena memang untuk parkir. Di atasnya, ada atrium seluas hampir 2.000 meter per segi. Ketika DBL, atrium itu menjadi tempat pengunjung bersantai menikmati stan-stan sponsor atau food court. Ketika beli tiket pun nyaman, karena loket dirancang memanjang ala bioskop mewah.

Kalau tidak dipakai pertandingan basket, atrium itu bisa digunakan untuk berbagai fungsi. Mulai wedding sampai kegiatan komersial lain.

Akses masuk pemain pun terpisah dari penonton. Pemain masuk lewat belakang. Ada enam ruang locker tersedia. Masing-masing dilengkapi AC dan shower air panas. Memudahkan persiapan tim untuk DBL, yang dalam sehari bisa menyelenggarakan lebih dari delapan pertandingan. 

Tidak ketinggalan sebuah ruang besar di belakang atrium. Semula, ruang itu dirancang untuk menjadi museum basket. Kemudian, berubah fungsi menjadi ruang konferensi pers atau kebutuhan gathering kecil lain.

Soal lapangan juga tidak tanggung-tanggung. Lantai berbahan Pulastic dari Belanda menjadi pilihan. Bahan sintetis (karet) ini tebalnya 11 milimeter, nyaman dan aman bagi pemain. Bahan ini dipilih karena lebih cocok untuk situasi dan cuaca. Kalau kayu, pemasangan awal mungkin lebih murah, tapi perawatannya jauh lebih berat.

Kalau sesuai rencana, berarti DBL Arena sudah termasuk ajaib. Karena dari gambar sampai rampung hanya dalam delapan bulan. Namun, perkembangan situasi lantas memaksa pembangunan harus dikebut lebih cepat lagi.

Alasannya: Kerja sama bersejarah antara DBL dan liga paling bergengsi di dunia, NBA.

Kerja sama DBL dan NBA baru terlaksana pada bulan Maret-April 2008. Pembangunan DBL Arena sudah berjalan cukup jauh. Hanya saja, sebelum penampilan bintang NBA pada Agustus 2008, harus ada pengecekan dulu dari liga tersebut sekitar sebulan sebelumnya. 

Akhirnya, deadline penyelesaian DBL Arena pun dimajukan hingga 26 Juli 2008. Pembukaan babak utama tingkat SMA Honda DBL East Java 2008 langsung dibarengkan dengan peresmian DBL Arena. Sebab, pada hari pembukaan itu, wakil dari NBA datang ke Surabaya.

Sebenarnya, Honda DBL East Java 2008 sudah berjalan dua pekan sebelumnya. Sambil menunggu, pertandingan-pertandingan lain itu masih diselenggarakan di gedung-gedung lama Surabaya.

Kehadiran NBA juga memberi konsekuensi ekstra untuk DBL Arena. Pertama, ada tuntutan standar keamanan ala hotel. Maksudnya, harus ada pemeriksaan menggunakan metal detector bagi pengunjung.

Kemudian, ketika konferensi pers, pemain NBA tak boleh “diserang” doorstop interview (dicegat wartawan di pintu keluar).

Jadi, museum atau ruang jumpa pers pun dibongkar di bagian samping, dibuatkan pintu tambahan. Wartawan masuk lewat depan, pemain masuk dan keluar lewat samping. Tidak ketinggalan sejumlah detail yang lain.

Pada akhirnya, gedung ini benar-benar selesai on time. Bahkan, benar-benar baru selesai sehari sebelum pembukaan. Beberapa bagian detail baru dilanjutkan setelah Honda DBL East Java 2008 berakhir di penghujung bulan Agustus. 

Ke depannya, DBL Arena masih punya banyak ruang untuk pengembangan. “Kami ada rencana menambahkan AC di sekitar tribun dan lapangan basket. Juga ada rencana penambahan kapasitas tribun, agar bisa menampung lebih dari 5.000 orang. Semoga saja semua itu bisa terwujud,” kata Azrul Ananda.(*)

  RELATED ARTICLES
Comments (0)