ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Yolanda Aprieta bersama Scarecrow usai menerima gelar juara Azarine DBL Dance Competition 2025-2026 East Kalimantan, pada Sabtu, 14 Februari 2026, di GOR Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur

Di balik dominasi tim dance SMAN 1 Samarinda di panggung Azarine DBL Dance Competition 2025-2026 East Kalimantan, ada satu sosok yang perjalanannya tak hanya soal koreografi dan piala. 

Namanya Yolanda Aprieta atau yang akrab disapa Yolie. Bagi banyak orang, ia adalah pelatih dance dari SMAN 1 Samarinda (Scarecrow). Namun bagi Scarecrow, Yolie adalah cerita tentang perjuangan.

Scarecrow bukan tim 'kemarin sore' di DBL Dance Samarinda. Sejak 2019, mereka tak pernah turun takhta sebagai juara. Kecuali saat kompetisi absen karena Pandemi Covid-19 pada 2020-2021. Dan sejak Yolie kembali ke sekolahnya sebagai pelatih selepas lulus, ia ikut menjaga nyala tradisi itu tetap hidup.

Semua bermula jauh sebelum ia mengerti arti kompetisi. “Aku mulai ngedance sejak TK,” kenangnya. “Waktu itu mama yang suruh ikut club dance. Ternyata aku punya bakat.”

Baca Juga: Cantik! Ini Best 3 Azarine DBL Dance Competition 2025-2026 East Kalimantan

Sejak saat itu, ibunya menjadi motor di balik perjalanan Yolie, mengantar lomba ke luar kota, mencarikan kebutuhan dance, hingga membantu membuka studio kecil di rumah pada 2019. Sebuah ruang sederhana, tapi penuh mimpi.

Namun tak lama setelah studio itu berdiri, hidup Yolie berubah. Ibunya meninggal dunia dua tahun kemudian. Sementara sang ayah telah lebih dulu berpulang saat ia SMP. Sejak saat itu, dance bukan lagi sekadar passion. Ia menjadi janji.

“Aku bener-bener ngejalanin dance ini untuk bikin mamah dan papah bangga. Gak mau sia-siain semua usaha mereka," katanya. 

Yolie bersama sang ibu

Baca Juga: Best 5 Azarine DBL Dance Competition 2025-2026 East Kalimantan, Ada Favoritmu?

Ketika memutuskan menjadi pelatih di SMAN 1 Samarinda, Yolie baru berusia 18 tahun. Terlalu muda, kata sebagian orang. Di tengah pelatih-pelatih senior Samarinda yang lebih berpengalaman, rasa insecure kerap datang. Tapi ia memilih fokus pada karya.

“Tantangan terbesarnya itu melawan diri sendiri, kadang merasa rendah diri," ujarnya

Di usia 19 tahun, Yolie meraih trofi DBL pertamanya sebagai pelatih. Dan sejak itu, perjalanan Scarecrow di bawah arahannya menjelma menjadi rentetan kemenangan. Hingga kini ia mengoleksi enam gelar beruntun. Namun baginya, DBL bukan semata soal podium.

“Kompetisi ini ngajarin anak-anak SMA untuk bertumbuh dalam proses. Mereka belajar kerja sama, peduli satu sama lain, dan punya rasa berjuang," katanya. 

Mungkin itu sebabnya Scarecrow bukan hanya tim juara, tetapi juga ruang bertumbuh. Setiap tahun, Yolie dan tim latihan siang-malam tanpa henti. Mereka juga harus melakukan brainstorm konsep yang tentunya tak sebentar. Mendesain dan membuat kostum serta properti. "Bahkan kita survei kebutuhan sendiri, mulai dari kain dan pearalatan sendiri," terangnya. 

Scarecrow saat merancang properti dan kostum bersama.

Baca Juga: Ini Tema DBL Dance Competition 2025-2026, Catat Penjelasannya!

Salah satu musim paling membekas justru datang dari luka. Pada DBL 2023-2024, satu bulan sebelum kompetisi dimulai, tim kehilangan salah satu anggota yang meninggal dunia akibat kecelakaan sepulang latihan. Tapi di tengah kehilangan itu, mereka memilih bertahan bersama.

“Kami semakin saling menguatkan,” kata Yolie. “Latihan tiap hari sampai malam, bikin properti sampai subuh.”

Mereka menari bukan hanya untuk menang, tapi untuk seseorang yang telah pergi. Dan saat itu, Scarecrow kembali berdiri di puncak.

Bagi Yolie, DBL Dance juga bukan sekadar panggung kompetisi, melainkan juga tempat pembentukan karakter bagi para siswa. Ia melihat bagaimana proses panjang menuju penampilan mampu menumbuhkan rasa juang, kerja sama, serta kepedulian antaranggota tim. Anak-anak belajar menekan ego demi tujuan bersama, sekaligus memahami arti sportivitas dalam berkompetisi. 

Nilai-nilai inilah yang, menurutnya, menjadikan DBL Dance sebagai salah satu ajang paling bergengsi di tingkat SMA se-Indonesia. Nilai-nilai itu juga yang dibawa Yolie untuk terus mengembangkan kariernya. 

Yolanda Aprieta dan DBL Dance Samarinda

Hari ini, Yolie tak hanya melatih tim sekolah. Ia mengajar sekitar 150 murid dari jenjang TK hingga SMA. Membuka ruang bagi generasi baru untuk menemukan diri lewat gerak. Ia memang lulusan pendidikan Bahasa Inggris, tetapi justru ilmu mengajar itulah yang membantunya membangun pendekatan pada murid-muridnya. Baginya, DBL juga membuka jalan. 

“Karena DBL, orang jadi kenal aku dan percaya untuk belajar dance," tutupnya. 

Kompetisi DBL merupakan event olahraga anak muda terbesar di Indonesia. Di dalamnya ada kompetisi basket, dance, suporter, dan berbagai kreativitas anak muda lainnya.

Azarine DBL Dance Competition 2025-2026 East Kalimantan merupakan bagian dari liga basket pelajar DBL. Kompetisi basketnya sendiri punya nama lengkap Honda DBL with Kopi Good Day, digelar di 31 kota dan 22 provinsi se-Indonesia. Setiap tahunnya, DBL Indonesia memilih student athlete terbaik dari masing-masing kota untuk diseleksi menjadi DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026 juga menampilkan AZA 3X3 Competition dan Azarine DBL Dance Competition, yang kini menjadi kompetisi dance terbesar di Indonesia. Semua pertandingan Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026 disiarkan live di channel YouTube DBL Play. Dua musim ini DBL didukung oleh produk kopi anak muda, Kopi Good Day.

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL PARTNERS
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS
MANAGED BY