Dari Kotamobagu, Princess Chevy Wong, penggawa Manado Independent School (MIS), memilih hijrah ke Manado dengan memikul sebuah mimpi besar. 

Tak ada sedikit pun keraguan dalam diri Chevy, begitu ia disapa, saat memutuskan untuk menempuh jalan tersebut. 

Mengingat, ada ambisi besar dalam dirinya untuk terus mengasah kemampuan sebagai seorang student athlete

“Saya terlahir di kota yang basketnya kurang berkembang sehingga agak sudah untuk latihan dan upgrade diri. Jadi, rela pindah kota untuk melanjutkan keinginan bermain basket ini,” ujar Chevy. 

Bisa dibilang, minatnya pada olahraga ini seakan menjadi cara untuk meneruskan mimpi sang ayah yang dulu harus mengubur keinginan bermain basket.

Baca Juga: Sempat Ragu, Mohammad Fahar Kini Raih Posisi 3 Besar Berkat Dukungan Orang Tua

“Papa saya suka banget main basket, tapi tidak didukung oleh orang tuanya. Awalnya, aku belum ada keinginan juga untuk terjun ke basket. Tapi setelah kurang lebih satu atau dua tahun jadi penonton, muncullah keinginan dan niat untuk fokus latihan,” cerita Chevy. 

Ditambah lagi, ketertarikan itu kian tumbuh setelah Chevy menyaksikan kedua kakaknya yang sudah lebih dulu membela skuad MIS dalam gelaran DBL Medan. 

Adalah Sunshiney Wijoyo yang turun melantai pada musim 2022 dan 2023, serta Moonclaire Wijoyo yang tampil pada musim 2023 hingga 2025. 

“Makanya, orang tua aku juga menyarankan buat merantau, terutama dari papaku sih awalnya. Aku juga suka soalnya pindah ke kota yang lebih maju basketnya,” tuturnya. 

Rangkaian DBL Medan 2025 pun menjadi saksi bisu atas debut Chevy bersama srikandi MIS. Di musim perdana ini, gadis dengan tinggi 158 sentimeter itu pun berhasil mengantarkan timnya kembali menguasai singgasana juara. 

Kendati demikian, rentetan mimpi milik Chevy belum sepenuhnya terwujud. Sebab, ia menyimpan keinginan untuk merasakan atmosfer DBL Camp. Karena itulah, dirinya mencoba peruntungan melalui program DBL Play Road to Kopi Good Day DBL Camp 2026.     

“Aku memang masih kelas 10. Tapi, aku sudah cukup lama ngikutin DBL dan sering ngikutin player yang lolos ke Amerika. And, siapa sih yang enggak mau belajar sama pelatih terbaik, juga berlatih sama pemain-pemain terbaik dari berbagai daerah yang keren dan hebat,” ucap Chevy. 

“Pokoknya, pengin terus ningkatin skill serta pemahaman dalam dunia basket di wadah yang tepat, yaitu DBL Camp 2026 ini,” sambungnya. 

Baca Juga: DBL Play Road to DBL Camp Jadi Ajang Pembuktian Kavindra Mahaputri

Sejak periode voting dibuka, nama Chevy sendiri beberapa kali memasuki jajaran lima besar. Berdasarkan update voting per 7 Maret 2026, pukul 14.00 WIB, dirinya harus turun ke posisi keenam dengan memperoleh 4.713 votes

Meski begitu, peluangnya untuk kembali melejit masih terbuka lebar. Apalagi, dukungan dari orang-orang terdekat terus mengalir deras. 

“Dari hari pertama, orang tuaku share link voting lewat media sosial. Itu sangat membantu, sih. Ada juga dukungan dari orang terdekat kayak orang tua, teman, dan komunitas sekitar. Walaupun rank saya naik turun, tapi belum hilang harapan untuk lebih maju lagi. Masih ada beberapa hari untuk tetap semangat dan tetap berdoa,” tegasnya. 

Yap, sesi voting DBL Play Road to DBL Camp 2026 masih berlangsung hingga Senin, 9 Maret 2026. 

Ia berharap agar upaya kerasnya lewat program DBL Camp 2026 bisa mengantarkannya ke Jakarta dan bertemu ratusan campers lainnya. 

“Jika diterima ke DBL Camp, saya ingin memaksimalkan setiap kesempatan yang ada untuk belajar dari pelatih dan pemain terbaik. Serta, bisa meningkatkan kemampuan yang belum ke-unlock dan membawa pengalaman itu untuk membantu tim dan sekolah,” tutupnya. 

DBL Play Road to DBL Camp merupakan program tambahan yang membuka kesempatan lebih luas bagi pelajar, terutama dari kota-kota di luar jangkauan penyelenggaraan DBL, untuk mendapatkan exposure dan pengalaman mengikuti camp.

Voting dalam program DBL Play Road to DBL Camp merupakan mekanisme partisipasi publik yang terintegrasi dengan platform digital DBL Play. Namun demikian, peserta tetap harus melalui proses verifikasi serta memenuhi seluruh persyaratan administratif dan akademik yang berlaku dalam ekosistem DBL.

Para peserta juga harus memenuhi sejumlah persyaratan yang sama dengan pemain DBL lainnya. Di antaranya tidak pernah tidak naik kelas, memenuhi standar usia serta nilai rapor untuk mata pelajaran utama. Selain itu, bagi peserta yang juga bermain di kompetisi DBL, mereka tidak pernah mendapatkan Disqualifying Foul. Dengan demikian, konsep student-athlete tetap menjadi prinsip utama dalam program ini, sebagaimana yang selama ini diterapkan dalam seluruh ekosistem DBL.

Saat mendaftar, para peserta juga mencantumkan rekam jejak dan prestasi mereka di dunia basket. Sehingga publik dapat melihat latar belakang serta kompetensi masing-masing pemain sebelum memberikan dukungan.

Baca Juga: Mengenal Kopi Good Day, Produk Kopi Anak Muda yang Banyak Rasa

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa lakukan scroll dengan double tap)

Populer

Mendekati DBL Camp, Inka Sari Makin Overthinking!
5 Cara Menuju Indonesia Arena: Rute TransJakarta, MRT, dan KRL
Ukuran dan Tinggi Ring Basket Sesuai Aturan FIBA
Mengenal Pola Pertahanan dalam Permainan Basket dan Teknik Melakukannya
Mengenal Kopi Good Day, Produk Kopi Anak Muda yang Banyak Rasa