Siapa sangka, perjalanan karier basket seorang Richie Betrand Linardi dimulai dari sebuah "insiden" kesehatan.
Di usia 9 tahun, alumnus SMA Gloria 1 Surabaya ini didiagnosis menderita lazy eyes (mata malas) akibat kecanduan bermain gadget.
Dokter memberikan pilihan sulit atas diagnosa ini, operasi atau mulai aktif melakukan kegiatan di luar ruangan (outdoor activity).
"Dulu aku cuma main hp terus, malas-malasan. Motivasi awal ke DBL Academy hanya ingin olahraga rutin karena disarankan dokter," kenang Richie.
Namun, memulai basket pun tak langsung berjalan mulus. Sang ayah, Toni Martono, menceritakan momen emosional saat Richie kecil menangis di tengah lapangan karena tidak diberi kesempatan mencetak poin saat latih tanding.
"Saat itu saya bilang ke Richie, kalau memang mau serius, ayo kembangkan skill di tempat yang benar. Itulah awal kami memilih DBL Academy," ujar Toni.
Selama 8 tahun menimba ilmu di DBL Academy, Richie tidak hanya belajar cara dribble ataupun shooting.
Baca Juga: DBL Academy Hadir di Jakarta Timur, Siap Gelar Open House dan Free Trial Class
Ia merasakan transformasi besar dari sisi kepribadian. Program seperti Character Building dan Nutrition Class jadi pembeda yang sangat dirasakan manfaatnya oleh orang tua. Bagi sang ayah, investasi di DBL Academy jauh lebih berharga daripada sekadar materi.
"Di sana anak saya dilatih tanggung jawab, leadership, teamwork, hingga konsistensi. Mempelajari karakter itu kalau saya cari di luar, mungkin harus bayar puluhan juta dan cuma didapat beberapa hari. Di DBL Academy, itu jadi makanan sehari-hari," tambah Toni Martono.

Richie Betrand Linardi (tengah) dan kedua orang tuanya turut mendampingi saat DBL Academy Selection Team
Richie sendiri mengaku bahwa kedisiplinan dan time management yang ia miliki sekarang adalah warisan terbesar dari DBL Academy.
Meski ia telah tiga kali menembus DBL Camp, bahkan sempat menembus DBL Indonesia All-Star 2024, Richie sadar bahwa basket hanyalah salah satu jalannya.
"I guess soft skills yang dikembangkan di DBL Academy will take me far in life, jadi meskipun skill basket hilang, tapi life skills will stay with me for life," ungkap Richie.
Kesuksesan transformasi Richie Betrand kini siap dirasakan oleh para orang tua dan pelajar di Ibu Kota.
Merayakan perjalanan 10 tahun pembinaan basket di usia muda, DBL Academy resmi membuka cabang keempatnya di kawasan Asya, Jakarta Timur.
Ini merupakan cabang pertama di Jakarta setelah sebelumnya hadir di Surabaya dan Yogyakarta.
Baca Juga: Open House DBL Academy Jakarta Hadirkan Free Trial Class, Bisa Cobain Apa Aja?
Dengan standar internasional yang menggabungkan pembentukan karakter hingga edukasi nutrisi, DBL Academy Jakarta hadir untuk menjawab kebutuhan orang tua yang ingin anaknya tumbuh lebih disiplin dan memiliki mental pemenang seperti Richie.
Karena di DBL Academy, kita tidak hanya mencetak pemain basket, tapi kita sedang mempersiapkan masa depan. Where Champions Begin! (*)