Bukan sekadar olahraga. Bagi Ivana Setiani Gheriya Rahima Putri, basket sudah menjadi teman dekatnya untuk berbagi banyak cerita. Kisah perjalanannya belajar mulai dari nol sampai petualangannya menuju kota-kota baru untuk bertanding.
Perjalanan Ivana -sapaan karibnya- juga tidak mulus. Beberapa kali, basket mengajarkannya untuk tetap tabah dan tegar.
“Dulu itu aku nggak bisa ngapa-ngapain. Cuman bisa lari kenceng aja. Di basket juga aku awalnya nggak punya teman karena ya nggak jago,” katanya.
Dalam kesendirian itu ia berusaha mengejar ketertinggalannya. Pelan namun pasti berproses.
“Karena aku awalnya cuman coba-coba di basket dan sekarang aku jadi punya semangat buat nunjukkin kalau aku bisa berkembang lewat sini (basket),” ujarnya.
Dalam perjalanannya, basket membawa Ivana membuka banyak pintu cakrawala pengetahuan baru. Membantunya untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.
“Basket itu jadi tempatku menemukan target. Aku mau ngebuktiin kalau aku bisa jadi anak hebat dan nggak mau ngeberatin bunda,” ungkapnya.
Yap, sejak kecil Ivana tinggal berdua dengan sang mama. Ivana tumbuh tanpa sosok ayah. Mental dan kebesaran hatinya terasah lewat basket. Bagaimana ia menerima kegagalan, kekalahan, sampai berada di titik paling bawah.
“Aku sempat kepikiran buat berhenti basket karena aku ngerasa nggak bisa apa-apa. Tapi ada pelatih yang percaya kalau aku punya potensi. Aku nggak mau ngerusak kepercayaan itu,” ceritanya.
Dari sana lah tanggung jawab dan ketabahannya ditempa. Sedikit demi sedikit ia mengubah hal-hal yang membuatnya jatuh menjadi tambahan semangatnya untuk terus maju.
“Aku ngerasa cuman di sini (basket) aku bisa upgrade diri aku. Dan itu baru aku rasakan waktu SMA ini,” sambungnya.
Ivana selalu masuk dalam skuad SMAN 3 Blitar di DBL Malang pada tiga edisi yang berbeda (2023, 2024, dan 2025).
Sorotan baru mengarah pada dirinya ketika musim terakhirnya melantai. Ivana dan kawan-kawan berhasil membuktikan diri kalau SMAN 3 Blitar bukan tim sembarangan.
“Waktu gim lawan Sinlui (SMA St. Louis 1 Surabaya) sih yang jadi titik balik. Aku sadar kalau tim Smaga itu nggak seburuk yang orang bilang,” terangnya.
Ivana juga menambahkan, “Soalnya kan lawan Sinlui itu kita benar-benar all out dan nggak mau kalah. Dan itu juga jadi bukti kalau kita bisa sampai sana bukan cuman gara-gara hoki aja,”
Prestasi pribadinya musim ini adalah menembus jajaran skuad Kopi Good Day First and Second Team 2025 East Java. Pencapaian tersebut membuatnya berangkat menuju Kopi Good Day DBL Camp 2026.
“Aku nggak mau sia-siakan kesempatan terakhirku ini. Aku mau bikin bunda bangga lewat sini (DBL Camp),” tandasnya.
Basket menjadi teman perjalanan hidup Ivana. Kala suka dan duka, basket hadir untuk memberikan sebuah jalan. Solusi untuk bangkit dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Terus maju, Ivana!
Profil Ivana Setiani bisa kalian cek di bawah ini.