SMAN 9 Bandung bukan lagi "singa yang tertidur". Di bawah tangan dingin Gian Gumilar, sekolah yang punya sejarah panjang di DBL West Java ini kembali mengaum keras.
Tak tanggung-tanggung, Coach Gian sukses memutus dominasi rival lama, SMAN 2 Bandung, dan mengukuhkan diri sebagai Honda DBL with Kopi Good Day 2025 West Java-East.
Meskipun harus kembali tunduk, dan berpuas di posisi runner up Honda DBL with Kopi Good Day 2025 West Java.
Hal itupun membawa namanya terpilih sebagai Kopi Good Day First Team 2025 West Java hingga Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026 di musim debutnya.
Keberhasilan ini bukanlah sebuah kebetulan. Sebagai alumnus SMAN 9 Bandung yang pernah merasakan kejayaan masa lalu, saat sekolah ini menjadi tim unggulan sejak awal 2000-an, Coach Gian membawa misi besar untuk menghidupkan kembali kultur juara yang sempat meredup.
Namun, misi tersebut tidaklah mudah. Coach Gian harus menelan kenyataan pahit saat pertama kali memutuskan untuk kembali melatih almamaternya.
Baca Juga: Daniel Tedjo, Gelas Kosong, dan Keinginan untuk Terus Belajar
Pasca pandemi Covid-19, basket di SMAN 9 berada di titik terendah, tanpa pelatih, tanpa pengurus, bahkan kehilangan daya tarik bagi pemain berbakat untuk bergabung ke sana.
"Waktu awal saya masuk, basket SMAN 9 sedang drop. Saya datang ke sekolah meminta izin untuk melatih. Saat itu saya kumpulkan 10 anak yang bukan dari Bandung, ada dari Cimahi, Bandung Barat, hingga Purwakarta, yang penting mereka mau dulu untuk memulai lagi," kenang Coach Gian.
Perjuangan membangun dari nol itu kini berbuah manis setelah empat musim. Berkat prestasi yang kembali melejit, kini peminat dari Kota Bandung mulai kembali berbondong-bondong ingin membela SMAN 9 Bandung.
Gian Gumilar (berdiri lima dari kiri) bersama tim basket SMAN 9 Bandung usai menjuarai DBL West Java-East 2025
Berstatus mantan pemain profesional Bandung Utama, Coach Gian tidak memaksakan kemampuan dan porsi latihan profesional untuk anak-anak SMA. Ia justru lebih fokus menyelaraskan kedisiplinan dan profesionalisme non-teknis.
"Kultur angkatan saya dulu yang saya bawa kembali ke mereka. Intina disiplin nomor satu. Attitude di dalam dan luar lapangan harus baik," ujar Coach Gian.
Dukungan penuh dari sekolah dalam segala kegiatan basket pun menjadi angin segar bagi Coach Gian untuk terus berinovasi, termasuk menerapkan standar profesional seperti sesi evaluasi melalui video.
"Kami mengevaluasi diri lewat video setelah latihan atau tanding. Saya ingin mereka terus belajar dan tidak pernah puas," tambahnya.
Jika banyak pelatih menuntut kemenangan, Coach Gian justru punya kata pamungkas yang berbeda. "Bermain Maksimal". Baginya, urusan menang atau kalah adalah hasil akhir, namun proses maksimal di lapangan adalah kewajiban.
"Lakukan segala sesuatunya dengan maksimal, itu yang selalu saya tekankan. Saya selalu tanya ke mereka, 'Kamu sudah merasa maksimal apa belum untuk game ini?'. Selain itu, jangan pernah takut lawan. Main dengan enjoy, keluarkan kemampuan kalian, dan saya yakin akan kalian," ungkapnya.
Baca Juga: Hampir Pensiun Dini, Efrael Lengkapi Puzzle Buksi dan Segel Tiket DBL All-Star
Jika banyak pelatih senior harus menunggu bertahun-tahun untuk bisa menembus jajaran All-Star, Coach Gian langsung mendapatkannya di tahun pertama.
Menariknya, ia mengaku sempat merasa minder ketika harus bersaing dengan pelatih hebat lainnya di DBL Camp.
"Jujur, di awal sempat drop melihat pelatih senior di sana. Tapi saya balik lagi ke niat awal, saya ke sini bukan untuk bersaing, tapi untuk belajar. Saya mau cari ilmu sebanyak-banyaknya untuk saya bawa pulang ke sekolah saya," kata Coach Gian dengan rendah hati.
Niat tulus itulah yang membawanya terbang lebih jauh. Mengenai tiket Amerika Serikat, ia mengaku sudah tidak sabar untuk menyerap ilmu baru di negeri kiblat basket tersebut.
"Saya antusias sekali melihat metode latihan di sana yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kesempatan ini sangat berharga dan saya ingin merasakan hal baru untuk terus berkembang," pungkasnya.
Coach Gian sedang memberikan arahan kepada Top 30 Campers saat sesi scrimmage game DBL Camp 2026 di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta
Kopi Good Day DBL Camp 2026 telah diselenggarakan pada 27 April hingga 3 Mei 2026. Berbeda dari sebelumnya, DBL Camp musim ini menyapa tiga venue sekaligus, yakni DBL Academy Jakarta East (27 April-2 Mei 2026) dan GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta Selatan & Grand Atrium Mall Kota Kasablanka (1-3 Mei 2026).
Ratusan campers terpilih telah menjadi orang pertama yang menjajal lapangan baru di DBL Academy Jakarta East. Lapangan berstandar internasional ini berlokasi di Genova Asya Commercial GC03-GC07, di Jalan Lake Garden Boulevard Jakarta Garden City, Cakung, Jakarta Timur.
Di sana, mereka juga kembali merasakan pengalaman dilatih para coach dari DBL Academy juga World Basketball Academy. Tak hanya itu, di sana campers juga merasakan bagaimana metode pelatihan baru serta penggunaan alat-alat berbasis sports science.
Rangkaian DBL Camp juga kembali menghadirkan Kopi Good Day DBL Festival 2026 di Grand Atrium Kota Kasablanka pada 30 April-3 Mei 2026. Di tempat itu pula diumumkan campers terbaik akan menyandang gelar Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026.
Mereka inilah yang berkesempatan terbang ke luar negeri untuk menimba ilmu basket hingga berkompetisi di turnamen level pelajar bergengsi.(*)
Baca Juga: Mengenal Kopi Good Day, Produk Kopi Anak Muda yang Banyak Rasa
Profil pelatih ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa lakukan scroll dengan double tap)