Di salah satu sudut ruang penyimpanan milik dr. Reyner Valiant Tumbelaka, ada barang yang nilainya tak akan pernah bisa diukur dengan materi.
Bukan, bukan karena trofi berlapis emas, melainkan sepasang sepatu basket usang pemberian DBL yang berhasil didapatkannya berkat perjuangan menembus babak Big Eight DBL Surabaya 2005 silam.
Bagi seorang dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi di Mayapada Hospital Surabaya ini, sepatu tersebut adalah benda "termahal" yang pernah dimilikinya karena hanya bisa ditebus lewat peluh keringat di lapangan.
.png)
Potret dr. Reyner bersama sepatu "termahal" miliknya yang diperoleh setelah menembus babak Big Eight DBL Surabaya 2005
Roda nasib memang berjalan begitu unik. Sekitar dua dekade lalu, dr. Reyner adalah kapten sekaligus guard andalan yang jatuh bangun membela SMA Frateran Surabaya pada DBL Surabaya 2005 hingga 2007. Kini, ia kembali ke "rumah" yang membesarkannya dengan peran yang berbeda.
Bukan lagi untuk melempar bola, melainkan sebagai salah satu dari 20 dokter elite yang didedikasikan RS Mayapada untuk menjaga fisik skuad Persebaya Surabaya, sekaligus menjadi tangan dingin yang menyembuhkan cedera para student athlete penerus mimpinya di lapangan DBL.
Membahas masa-masa SMA di awal bergulirnya kompetisi DBL selalu membuat dr. Reyner tersenyum lebar.
Baginya, atmosfer DBL kala itu memiliki magis tersendiri yang sangat membekas bagi anak-anak muda Surabaya.
"Atmosfer waktu itu memang tidak se-spektakuler sekarang, tetapi cukup untuk menanam kenangan baik sampai sekarang di kami. Apalagi waktu itu Frateran sempat mendapatkan gelar best supporter," kenang dr. Reyner.
Baca Juga: 22 Tahun DBL: Dari SAC Indonesia, Iqra Syahputra Terus Melangkah
Pada zamannya, media sosial belum menjamur seperti sekarang. Pengaruh DBL lewat media cetak sangat luar biasa masif.
"Begitulah, namanya anak SMA, senang sekali rasanya. Hebat sekali influence dari DBL,” ucapnya.
Menariknya, momen yang paling membekas di benak dr. Reyner bukanlah sebuah trofi juara di akhir musim, melainkan atmosfersaat laga Opening Party.
Kala itu, tim SMA Frateran Surabaya sukses mengamankan kemenangan di pertandingan pertama mereka.
Rasa bahagia dr. Reyner sebagai kapten tim semakin berlipat ganda karena setelah laga usai, Azrul Ananda, CEO DBL Indonesia, mendatangi timnya secara langsung di lapangan.
Bagi dr. Reyner, pelukan hangat dan suntikan semangat dari Azrul Ananda di tengah riuhnya suporter Frateran yang memenuhi tribun menjadi memori yang sangat membekas.
"Ingat satu masa waktu itu, kita menang pertandingan lalu Mas Azrul datangi kita dan memberi support ke teman-teman suporter yang sudah dukung. Itu berkesan sekali. Dari sana saya banyak belajar, bahwa proses perjuangan di lapangan dan merayakan kebersamaan bersama tim itu akhirnya lebih berkesan daripada kemenangan itu sendiri," ungkapnya.
Bukti cinta dr. Reyner terhadap DBL pun tidak main-main. Hingga detik ini, ia masih merawat klipingan koran zaman sekolah dulu bersama dengan sepatu bersejarahnya.
Meskipun lembaran klipingan koran penuh sejarah itu kini masih tersimpan rapat dan tertumpuk rapi di rumahnya, memori itu tidak akan pernah pudar.
Nilai-nilai kerja sama tim, dan prinsip dasar student-athlete yang didapat dr. Reyner dari lapangan basket ternyata menjadi modal utama dalam karier kedokterannya saat ini.
Sebagai bagian dari tim medis Persebaya Surabaya di Liga 1, dr. Reyner telah sukses memimpin operasi cedera benteng pertahanan asing mereka, Risto Mitrevski.
Namun di luar lapangan hijau profesional, dr. Reyner juga kerap turun tangan langsung mengoperasi cedera para student-athlete muda DBL yang mengalami masalah ligamen sendi, seperti ankle dan lutut (ACL). Salah satunya Rafael Panji, alumnus SMA St. Louis 1 Surabaya.
Baca Juga: 22 Tahun DBL: Perjalanan Aldy Frilenzo Tumbuh Bersama DBL Dance
Ikatan batin dr. Reyner dengan dunia basket memang sedalam itu. Saking cintanya dengan olahraga ini, ia bahkan menyimpan satu fakta unik yang jarang diketahui orang banyak.
"Fun fact, aku pernah ikut lisensi kepelatihan bola basket loh dari PERBASI, lisensi C," ungkap dr. Reyner disusul tawa.
"Meskipun tidak pernah melatih sampai sekarang, tetapi ikut kelas kepelatihan itu sangat menyenangkan sekaligus jadi sarana nostalgia yang luar biasa bagi aku," tambahnya.
.jpg)
dr. Reyner (tengah) usai mengikuti Diklat Pelatih Bola Basket Jawa Timur 2022
Di RS Mayapada, dr. Reyner dan tim Sport Injury Treatment and Performance Center selalu memberikan penanganan yang bersifat tailor made, alias disesuaikan dengan kondisi personal setiap atlet demi bisa mengembalikan performa terbaik mereka.
"Tantangan terbesar menangani atlet profesional tentu ada di harapan klub, fans, dan rekan setimnya. Tetapi tantangan sebenarnya bukan di tindakan operasinya, melainkan ke komunikasi. Karena di luar jersey dan nomor punggung yang dikenakan, setiap pasien atlet juga merupakan seorang jiwa yang butuh pengertian dan perhatian," jelasnya dengan bijak.
Sebagai alumnus yang sudah sukses menyeimbangkan antara pendidikan dan olahraga, dr. Reyner memberikan perhatian khusus pada fenomena atlet muda zaman sekarang.
Menurutnya, jadwal kompetisi yang terlalu padat dan spesialisasi dini membuat anak-anak SMA jaman sekarang rentan terkena cedera sendi.
Baca Juga: 22 Tahun DBL: Lewat Yad, Mimpi dari Kaki Rinjani Hadir di Lintasan Atletik
Menutup obrolan hangat, dr. Reyner menitipkan satu pesan penting yang harus selalu diingat oleh seluruh peserta Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027.
"Kompetisi basket satu hal, namun pendidikan dan kebugaran juga hal penting. Tipsnya adalah tidak memaksakan diri dan tahu batasannya. Jangan ragu atau malu untuk periksa ke dokter maupun jumpa tim medis jika diperlukan di lapangan," tutur dr. Reyner.
"Menjadi student athlete akan jadi salah satu masa paling berkesan dalam hidup. DBL membawakannya menjadi wadah yang luar biasa baik bagi kita. Ambil kesempatannya, berjuang, tapi jangan lupa 'student' harus berada di depan 'athlete'." (*)