Nama Asyer Grainne Handreas Mosse tentu sudah tidak asing dalam 2 musim terakhir Honda DBL with Kopi Good Day East Java-North.
Salah satu penggawa SMKN 2 Surabaya (Smekda) itu telah memberikan banyak kisah inspiratif. Bagaimanapun, ia masih memiliki cerita lain yang baru bisa diukir pada musim ini.
Cerita yang dimaksud adalah dominasinya di lapangan DBL Arena. Di gelaran tahun lalu, Asyer masih mendapatkan peran sebagai sixth man (pemain cadangan utama). Kini, ia dipercaya untuk tampil sebagai pemain inti bersama teman-teman seperjuangannya.
Performanya langsung mentereng di laga pertama. Melawan SMA Trimurti Surabaya, Asyer membukukan double-double 17 poin, 11 rebound, dan 4 steal. Smekda menang meyakinkan dengan skor akhir 45-16.
Itu ternyata masih menjadi permulaan dari aksi gemilangnya yang sesungguhnya. Berhadapan dengan SMAN 1 Manyar Gresik di pertandingan kedua, pemain bertinggi badan 184 cm itu tampil lebih ganas.
Asyer berhasil mencetak 20 poin, 8 rebound, dan 5 steal. Ini sekaligus menjadi pertama kalinya ia mengumpulkan setidaknya 20 poin dalam satu pertandingan. Bahkan, Asyer juga sukses mencatat akurasi tembakan hingga 81 persen. Sungguh efisien. Smekda akhirnya mengoleksi kemenangan kedua mereka dengan skor akhir 42-16.
“Senang dan bangga. Aku bangganya teman-temanku tuh bisa satu chemistry sama aku,” ujar Asyer.
Baca juga: Double-Double di Laga Perdana, Asyer Kembali Ditemani Oma Tercinta
Tidak terasa, Asyer sudah memasuki tahun terakhirnya di jenjang SMA. Ia sudah menjadi salah satu andalan Smekda di lapangan. Permainannya yang agresif, khususnya di dekat ring, selalu membuahkan hasil yang sempurna untuk menguatkan momentum Smekda.
Perkembangannya sebagai student-athlete terbilang sangat pesat. Sekarang Asyer dapat menemukan ritme bermain yang nyaman dengan cepat. Semangat yang berkobar-kobar selalu ia salurkan kepada seluruh rekan timnya.
Padahal, hanya beberapa tahun yang lalu, Asyer hanyalah seorang bocah biasa yang tidak punya ketertarikan terhadap olahraga basket.

Asyer Grainne Handreas Mosse saat membela SMKN 2 Surabaya di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North
Semuanya berawal pada 2023.
Kala itu, Asyer masih duduk di bangku kelas IX SMP. Futsal sudah menjadi olahraga favoritnya selama bertahun-tahun.
Namun, tibalah suatu hari yang nantinya akan mengubah hidup Asyer selamanya.
Asyer sedang berada di sekitar kompleks rumahnya. Menikmati cerahnya Kota Surabaya. Di dekat sana, ada anak-anak lainnya yang sedang bermain di lapangan basket.
Ia lantas mendekat ke lapangan itu. “Aku cuma lihat-lihat doang. Gak bisa apa-apa, Kak,” ceritanya.
Baca juga: Pesawat Tempur 4D WOLUMANIA Terbang Tinggi, Simbolkan Kebangkitan
Akhirnya, ada satu orang yang menghampiri Asyer. Mas Bram namanya. Dengan postur badan Asyer yang sudah mencapai 179 cm saat itu, Mas Bram langsung mengajaknya tanpa ragu-ragu.
“Ayo main, kamu kan tinggi,” ujar Mas Bram kepada Asyer.
Di momen itulah Asyer pertama kali bermain bola basket. Mas Bram paham betul bahwa Asyer memiliki potensi yang besar untuk menjadi pebasket hebat. Ia kemudian langsung membimbing Asyer untuk menguasai olahraga itu.
Awalnya, Mas Bram hanya mengajarkan fundamental di lapangan, seperti layup, free throw, dan juga mencetak skor di bawah ring yang kini menjadi salah satu senjata pamungkasnya.
Seiring berjalannya waktu, rasa cinta terhadap olahraga basket semakin tumbuh dalam diri Asyer. Ia akhirnya bisa bermain bebas dengan teman-temannya di lapangan kompleks itu. “Setiap hari aku main di sana,” jelasnya.
Setelah Mas Bram, muncul sosok lain yang tidak kalah penting dalam proses perkembangan Asyer sebagai pemain basket, yaitu Bang Acig. Menurut Asyer, Bang Acig adalah “sesepuh” di lapangan tersebut setelah Mas Bram.
“Bang Acig yang ngajarin aku lebih serius, kayak pattern dan segala macam. Move-move yang kayak forward gitu,” tutur Asyer.
Asyer pun memahami apabila ingin sungguh-sungguh menjadi pemain yang hebat, ia harus memiliki perlengkapan basket yang memadai. Setidaknya sepatu basket.
Baca juga: Asyer Grainne Mosse, Bertahan untuk Jaga Nyala Terang Mama dan Oma
Tidak ingin membebani sang Oma, Asyer akhirnya berjuang secara mandiri demi mendapatkan uang untuk membeli sepatu basket. Cara yang dia pilih adalah dengan mengorbankan akun gim kesayangannya, Free Fire (FF).
Sepatu basket lokal dengan harga sekitar Rp300.000,00 akhirnya berhasil Asyer gapai. Itu menjadi saksi bisu perjuangan Asyer saat awal-awal mengenal basket. Ketika potensinya masih diakui sedikit orang.
Tidak berhenti sampai situ, sepatu basket kedua Asyer juga ia dapatkan dengan metode yang sama. “Hasil (jual akun) FF juga! Akunnya aku kembangin lagi, habis itu aku jual lagi,” ungkapnya.
Sepatu-sepatu itu akhirnya juga ia gunakan untuk bermain di lapangan Smekda. Sejak kelas X, Asyer sudah aktif mengikuti ekstrakurikuler basket. Namun, ia tidak bisa langsung merasakan atmosfer DBL Arena.

Asyer Grainne Handreas Mosse duduk di ujung lapangan saat membela SMKN 2 Surabaya di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North
“Aku bisa main, cuma aku gak bisa menahan diriku sendiri (saat kelas X). Emosi belum kekontrol, tempo juga gak bisa dikontrol,” terangnya.
Tantangan itu akhirnya berhasil Asyer hadapi dengan terus melatih pikirannya agar tetap fokus dan menjadi dewasa. “Aku udah di sini, nih. Sudah bukan waktunya seperti tadi,” tegas Asyer.
Baca juga: Sempat Tertunda, Devano Akhirnya Debut di DBL pada Tahun Terakhirnya!
Dari awal yang sederhana, Asyer tetap setia terhadap proses yang ia jalani hingga bisa mencapai titik ini. Di balik segala capaian impresifnya pada musim ini, ada peran Mas Bram dan Bang Acig yang sungguh besar. Melalui mereka lah Asyer bisa menemukan jati dirinya.
Semangat juang yang Asyer bawa di lapangan juga merupakan semangat yang sama saat ia rela menghabiskan banyak waktu untuk mengembangkan dan menjual akun gim demi membeli sepatu basket.
Hingga saat ini, Asyer masih tidak melupakan lapangan kompleks itu. Ia tetap kembali dan bermain di sana bersama yang lainnya. “Aku merasa kalau aku harus balas budi di situ,” tutupnya.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Baca juga: Berawal Ikut-ikutan, Kanya Temukan Alasan untuk Terus Bermain Basket
Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)