ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Potret srikandi Petra 1 Surabaya, Kayleen Rosebelle Susanto saat menjalani debutnya di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North

Ada satu kebiasaan yang masih diingat Kayleen Rosebelle Susanto hingga sekarang. Saat usianya 10 tahun, ia rutin datang ke lapangan pada Sabtu pagi. Bukan sekadar latihan basket bersama pelatih, Kayleen saat itu mendapat sesi khusus dari sang papa.

Sebagai seorang bigman, Kayleen ditempa lewat latihan post play. Waktunya pun bukan pada jam latihan biasa, melainkan sejak pukul 06.00 hingga 08.00. Latihan itu tidak selalu berjalan mudah. Bahkan, Kayleen mengaku pernah menangis saat menjalani latihan bersama papanya.

“Papa setiap Sabtu pagi jam 06.00 sampai 08.00 ngajarin aku post play di lapangan outdoor. Itu aku ingat sampai nangis-nangis diajarin, tapi sekarang untungnya jadi seperti ini,” kenang Kayleen.

Kini, latihan keras tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang membawanya sampai ke Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North. Siswi kelas X SMA Petra 1 Surabaya itu akhirnya menjalani debutnya di DBL musim ini setelah sebelumnya harus absen pada laga pertama karena cedera ankle kanan.

Baca juga: Cedera Ankle, Maria Yemima Banting Setir dari Basket ke Tim Dance

Kembali ke lapangan, Kayleen langsung membantu Petra 1 meraih kemenangan telak 68-0 atas SMAN 1 Sidoarjo. Ia menyumbangkan 15 poin, 3 rebound, dan 2 assist. Kemenangan tersebut sekaligus memastikan Petra 1 turut mendapatkan tiket menuju Round 2.

Bagi Kayleen, laga tersebut bukan sekadar pertandingan pertamanya di DBL East Java-North. Ia akhirnya bisa merasakan sendiri atmosfer kompetisi yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan basketnya.

“Buat aku, karena aku enggak ikut pertandingan pertama, pertandingan hari ini jadi kesempatan buat merasakan suasana di DBL. Ini juga tahun pertama aku di DBL tingkat SMA, jadi aku dapat experience baru,” ujarnya.

Perjalanan Kayleen bersama basket sebenarnya dimulai jauh sebelum mengenakan jersei Petra 1. Ia mengenal basket sejak usia 7 tahun. Namun, sempat ada fase ketika Kayleen memilih berhenti karena merasa kemampuannya tidak berkembang.

Sampai akhirnya sang kakak, Kennard Reagan Susanto, yang juga seorang pemain basket, membuatnya kembali tertarik. Melihat sang kakak bertanding ke berbagai kota membuat Kayleen ingin merasakan pengalaman serupa.

“Aku mau kayak pengin luar kota, pengin usaha keras, pengin dapat sertifikat buat cari sekolah bagus,” katanya.

Dari sana, Kayleen kembali menekuni basket dan bergabung dengan klub. Ia sempat berlatih bersama Coach Felix di Mahameru sebelum mengikutinya ke The Lion.

Keluarga kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Sang papa bukan hanya menjadi penonton di tribun, tetapi juga sosok yang ikut membentuk kemampuan Kayleen sejak kecil. Begitu pula kakaknya yang kini masih aktif sebagai student-athlete.

Baca juga: Castle Mania Sulap Tribun DBL Jadi Medan Perjuangan Spartan

Setiap selesai bertanding, keduanya tak segan memberikan evaluasi.

“Iya, pasti karena dia pengin aku jadi versi terbaikku,” tutur Kayleen ketika menceritakan kebiasaan sang kakak memberikan komentar setelah pertandingan.

Ikatan itu bahkan terbawa hingga nomor punggung. Kayleen, sang kakak, dan papanya sama-sama identik dengan nomor 14. Bagi Kayleen, nomor tersebut menjadi simbol kedekatan di antara mereka.

“Nomor 14 itu biar samaan sama papa. Papa 14, berarti kita juga 14. Jadi kayak ada bond khusus,” ucapnya.

Sebelum sampai di level SMA, Kayleen juga sudah merasakan proses panjang bersama Petra 1. Saat masih SMP, ia dua kali membawa Petra 1 menjadi runner-up di Junior Exhibition tepatnya pada tahun 2023 dan 2024. Kegagalan tersebut justru menjadi bahan bakar untuk berkembang hingga akhirnya berhasil menjadi juara pada tahun terakhirnya.

Menurut Kayleen, perubahan terbesar datang ketika dirinya dan rekan-rekan setim mulai membangun rasa saling percaya.

“Kita saling trust, terus kita enggak mau salah-salahan, terus bantu satu sama lain dan menutup kesalahannya satu sama lain,” jelasnya.

Kini, pengalaman itu dibawanya ke panggung yang lebih besar. Debutnya bersama Petra 1 datang dengan satu ambisi yakni bukan hanya mengejar pencapaian pribadi, tetapi membawa nama Petra sejauh mungkin.

“Aku berharap semoga-moga masuk final karena aku mau mengubah season ini. Bukan jadi Sinlui-Gloria lagi, tapi harus ada Petranya,” tegas Kayleen.

Ia sadar perjalanan menuju target tersebut tidak akan mudah. Apalagi, pencapaian individu seperti MVP Kejurprov (Kejuaraan Provinsi) yang diraihnya tahun ini tidak membuatnya merasa sudah cukup.

“Basket tetap sebagai tantangan. Satu penghargaan itu belum tentu menjadi jalur untuk seterusnya dapat penghargaan itu. Masih banyak penghargaan yang belum aku capai dan mau aku usahakan,” katanya.

Kini, Kayleen punya kesempatan untuk menulis cerita baru bersama Petra 1. Setelah menjalani latihan intens dengan sang papa di lapangan outdoor, ia ingin membuktikan satu hal di DBL, Petra 1 juga layak bermimpi tentang final.

Baca juga: Alumnus Trisila 2004-2006, Uni Riza Kangen Bertanding di Panggung DBL!

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS