Latihan gymnastics setelah pulang sekolah sudah menjadi rutinitas bagi Callysta Diamantha Rahman. Namun, beberapa tahun lalu, ia tidak pernah menyangka aktivitas yang awalnya hanya karena ajakan orang tua itu akan membawanya sampai ke berbagai kompetisi internasional.
Kini, Callysta menjalani dunia yang sedikit berbeda. Selain masih aktif di rhythmic gymnastics, siswi SMAN 16 Surabaya (Sixteen) itu juga menjadi bagian dari tim dance sekolahnya.
Gymnastics datang lebih dulu dalam hidup Callysta. Ia mulai mengenalnya sejak kelas III - IV SD. Saat itu, alasannya sederhana memiliki kegiatan di luar sekolah.
"Awalnya karena disuruh orang tua. Aku ikut cuma biar ada kegiatan di luar sekolah, tapi ternyata lama-lama aku senang di situ dan bisa lanjut sampai sekarang,” ujar Callysta.
Baca juga: SDS Jelajah Sabang-Merauke, Aglow Angkat Budaya Bali
Rasa suka itu tumbuh ketika ia mulai mampu melakukan gerakan-gerakan yang sebelumnya terasa sulit. Front walkover dan split menjadi beberapa kemampuan yang membuatnya merasa berkembang. Medali dari perlombaan kemudian menjadi pemantik lain.
Dari sana, Callysta mulai memiliki alasan sendiri untuk terus berlatih.
Perjalanan tersebut membawanya meraih sejumlah prestasi. Pada 2024, ia mendapat posisi kedua all around kategori B dalam kompetisi gymnastics internasional di Hong Kong. Ia juga meraih dua medali perak pada nomor ball dan clubs di 7th Asia Pacific Cup HK International Rhythmic Gymnastics Tournament.

Callysta Diamantha Rahman tampil dalam nomor rhythmic gymnastics menggunakan alat pita pada Elastic International Competition di ATKP Surabaya.
Setahun berikutnya, podium kembali ia dapatkan ketika tampil di Singapore Rhythmic Gymnastics. Tetapi justru sebelum kompetisi itu, rasa percaya dirinya sempat turun.
Melihat peserta lain yang menurutnya jauh lebih hebat membuat Callysta meragukan kemampuannya sendiri. Padahal, selama latihan ia sudah berusaha mempersiapkan diri.
“Aku sempat minder karena melihat lawan-lawan di kategoriku hebat-hebat banget. Mereka kayak sudah expert, jadi aku minder sama kemampuan aku,” katanya.
Keraguan itu akhirnya terjawab ketika pertandingan selesai. Namanya dipanggil untuk naik ke podium dan ia membawa pulang posisi ketiga all around kategori C.
“Selama latihan aku sering melakukan banyak kesalahan. Tapi saat bertanding diberi kelancaran. Pas nama aku disebut naik podium, jujur aku kaget. Aku sampai ngomong dalam hati, ternyata aku bisa,” tuturnya.
Baca juga: Queensha, Dancer dengan Segudang Prestasi dan Mimpi Jadi Engineer
Kalimat itu kemudian seperti menjadi pengingat bagi Callysta setiap kali rasa tidak percaya diri datang lagi.
Sebab dalam gymnastics, tidak semua latihan berakhir dengan gerakan yang berhasil. Ada hari ketika tubuh sudah lelah karena baru pulang sekolah, tetapi masih harus mengulang materi yang sama berkali-kali.
Callysta punya caranya sendiri untuk menghadapi situasi tersebut. Ia memilih berhenti sejenak, menenangkan diri, kemudian melihat kembali bagian yang membuatnya gagal.
“Biasanya aku diam dulu, tenangin emosi. Aku juga biasa kompres muka pakai handuk yang aku kasih air es. Sambil refleksi kenapa nggak bisa terus, yang bikin nggak bisa di mana,” ucapnya.
Kebiasaan itu ternyata ikut berguna ketika Callysta memasuki dunia dance. Ia tidak perlu memulai semuanya dari nol. Banyak gerakan yang sudah dipelajarinya dalam gymnastics justru membantu ketika harus mengikuti koreografi.
Baca juga: Tak Pernah Monoton, Diamond Fox Crew Pamer 3 Kostum Berbeda di AQUA DBL Dance
Bagi Callysta, gymnastics dan dance akhirnya bertemu di satu hal gerak.
Bedanya, kali ini ia tidak hanya membawa kemampuan yang dimiliki sendiri. Di panggung bersama Sixteen, Callysta harus menyatukan gerakannya dengan anggota tim lain.
Kesempatan menjadi bagian dari dance Sixteen pun sempat membuatnya ragu. Seleksi menjadi salah satu momen ketika ia kembali berhadapan dengan pertanyaan yang pernah muncul di arena gymnastics apakah dirinya cukup mampu?
Jawabannya baru ia dapatkan setelah berani mencoba.
“Dulu pas seleksi dance DBL aku ragu bakal keterima atau tidak. Tapi akhirnya mimpi yang aku inginkan bisa terwujud,” katanya.
Bagi Callysta, pengalaman itu membuat tema Home of The Dreamers terasa dekat. Baginya, mimpi tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang langsung terlihat besar. Kadang, mimpi dimulai dari keberanian untuk mencoba ketika diri sendiri masih dipenuhi keraguan.
“Aku jadi sadar sebuah mimpi itu bukan cuma mimpi. Kalau kita memang niat, dari usaha dan tekad diri sendiri itu pasti bisa diwujudkan,” ujarnya.
Menariknya, mimpi Callysta saat ini bukan menjadi student-athlete atau dancer profesional. Ia justru sedang mengejar cita-cita sebagai diplomat.
Keinginannya untuk melihat dunia sudah tumbuh sejak kecil. Dulu ia ingin menjadi pramugari karena ingin traveling around the world. Ketertarikannya pada bahasa asing, terutama bahasa Inggris, pun masih ia bawa sampai sekarang.
Baca juga: Cedera Ankle, Maria Yemima Banting Setir dari Basket ke Tim Dance
Gymnastics mungkin mengajarinya tentang keberanian mencoba gerakan baru. Dance memberinya pengalaman bekerja bersama orang lain. Sementara mimpi menjadi diplomat membuka arah lain yang ingin ia tuju.
Semua berjalan di jalurnya masing-masing.
Dan jika suatu hari kesempatan untuk kembali mengejar prestasi besar di gymnastics datang, Callysta tidak ingin buru-buru menutup pintu.
“Kalau misalnya dikasih kesempatan Olympics, aku sih mau aja,” katanya.
Untuk sekarang, ia masih akan terus bergerak. Dari latihan gymnastics setelah sekolah, ke panggung dance bersama Sixteen, lalu kembali mengejar mimpi yang lebih jauh.
Mungkin Callysta belum selalu percaya pada dirinya sendiri. Namun, seperti yang sudah berkali-kali ia buktikan, terkadang keyakinan memang baru muncul setelah seseorang berani melangkah lebih dulu.
"Believe in yourself, don't let anyone tell you otherwise."
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil SMAN 16 Surabaya bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).