ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Wajah-wajah kecil itu kini ikut berlari di lapangan DBL Arena. Foto masa kecil para pemain putri SMAN 20 Surabaya tercetak di kaus yang mereka kenakan bersama selama Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North.

Ide itu datang dari Zalfa Sheela Salsabila. Ia sempat memikirkan konsep lain sebelum akhirnya memilih kaus sebagai bentuk kekompakan tim. Proses pembuatannya pun tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar dua hingga tiga hari.

“Aku awalnya kepikiran konsep lain, tapi akhirnya pilih baju karena lebih cepat dibuat. Terus aku yang edit juga. Teman-teman tinggal kirim foto waktu kecilnya,” cerita Zalfa.

Mengumpulkan foto ternyata menjadi pekerjaan tersendiri. Beberapa pemain belum langsung mengirimkan foto sehingga Zalfa harus menghubungi mereka satu per satu.

Setelah semuanya terkumpul, foto-foto tersebut justru menjadi sumber candaan baru. Mereka melihat kembali wajah masing-masing sebelum tumbuh menjadi pemain basket seperti sekarang.

Ada yang terlihat sangat berbeda. Ada pula yang fotonya langsung menjadi bahan ledekan teman satu tim.

“Pas sudah jadi malah ketawa-ketawa sendiri. Ada yang fotonya kelihatan kayak cowok juga, jadi saling ngeledekin. Tapi memang seru karena bisa lihat teman-teman waktu masih kecil,” ujar Zalfa.

Dari sana, kaus itu membawa cerita ke masa yang lebih jauh. Wajah-wajah kecil tersebut adalah versi mereka yang belum mengenal pertandingan basket, proses latihan, atau lapangan DBL Arena.

Termasuk Nabilah Salsa dan Zalfa.

Keduanya kini bermain untuk SMAN 20 Surabaya, tetapi basket bukan olahraga yang sejak kecil mereka bayangkan akan ditekuni.

Nabilah lebih dulu mengenal pencak silat. Sekitar kelas 5 SD, ia mulai mengikuti olahraga tersebut karena pilihan ekstrakurikuler di sekolahnya terbatas.

Ketika SMP, jalannya berubah. Ia meninggalkan silat, sempat mencoba panjat tebing, lalu mulai memilih basket.

Pilihan itu datang dari dirinya sendiri. Namun, perjalanan tersebut tidak langsung mendapat dukungan penuh dari orang tua. Kekhawatiran tentang latihan yang berlangsung sampai sore dan waktu belajar sempat membuat Nabilah harus meyakinkan keluarganya.

“Terobos aja. Soalnya memang ini pilihan aku. Dari kelas 7 yang awalnya enggak bisa apa-apa, aku terus latihan. Aku jalanin terus sampai akhirnya bisa seperti sekarang,” katanya.

Latihan demi latihan kemudian membawanya ke DBL. Musim 2025 menjadi pengalaman pertamanya tampil di panggung tersebut.

Rasa gugup masih terasa kuat. Nabilah sempat takut menyerang, melakukan shooting, bahkan mengambil free throw karena khawatir melakukan kesalahan.

Salah satu kejadian yang paling ia ingat justru terasa lucu sekarang. Ia pernah melakukan drive dan melepaskan tembakan yang dikiranya masuk.

Nabilah langsung berbalik untuk merayakan poin, sebelum menyadari bola tersebut ternyata tidak masuk.

Pengalaman itu ikut mengubah caranya melihat pertandingan. Memasuki musim kedua, ia mulai lebih berani mengambil kesempatan yang datang.

“Kalau tahun lalu aku masih takut, kayak takut nyerang atau shooting karena takut salah. Sekarang kalau ada kesempatan ya ambil saja. Free throw juga sekarang lebih berani, jadi aku enggak terlalu kepikiran sama takut salahnya,” ujar Nabilah.

Jalur Zalfa menuju basket justru bermula dari olahraga yang berbeda.

Sejak SMP, ia sudah mengikuti cheerleading. Ketika masuk SMA, ia sebenarnya ingin melanjutkan kegiatan tersebut, tetapi tidak mendapat izin.
Ia kemudian mencari pilihan lain. Basket dipilih hampir tanpa rencana panjang.

“Aku sebenarnya enggak tahu mau ikut apa. Awalnya pengin cheer lagi, tapi enggak dibolehin. Terus pas daftar aku pilih basket aja,” tutur Zalfa.

Keputusan sederhana itu membuat Zalfa harus memulai dari titik yang benar-benar baru. Ia bahkan menyebut kemampuan basketnya saat itu masih “nol banget”.

Dua bulan pertama latihan lebih banyak diisi dengan latihan fisik. Setelah itu, ia mulai mengenal dasar permainan seperti dribble dan shooting.

“Waktu awal itu benar-benar nol banget. Aku cuma coba trial, terus ternyata keterima. Dari situ baru mulai belajar basket. Dua bulan pertama juga lebih banyak fisik, jadi memang harus kuat dulu,” lanjut Zalfa.

Lari menjadi salah satu bagian yang harus ia biasakan. Meski pengalaman cheerleading sudah membantunya secara fisik, basket tetap memberikan tantangan berbeda.

Kini, musim 2026 menjadi pengalaman pertama Zalfa bermain di DBL. Ia yang sebelumnya hanya mengenal basket dari luar lapangan akhirnya merasakan sendiri bagaimana berada di dalam pertandingan.

Dua perjalanan berbeda itu akhirnya bertemu di satu tempat.

Nabilah datang setelah meninggalkan pencak silat. Zalfa menemukan basket setelah cheerleading. Keduanya tidak membawa mimpi menjadi pemain basket sejak kecil, tetapi justru menemukan keinginan untuk terus bermain setelah menjalaninya.

Bahkan, Nabilah sudah membayangkan basket sebagai bagian dari kehidupannya setelah lulus SMA.

“Aku pengin lanjut basket kalau nanti kuliah. Kalau ada kesempatan ikut klub, aku juga mau coba. Soalnya aku suka chemistry dalam tim. Kalau satu tim saling dukung, kita juga bisa berkembang bareng,” kata Nabilah.

Bagi mereka, proses bertumbuh itu tidak hanya terjadi ketika berada di lapangan. Kedekatan dengan teman satu tim dan pelatih juga menjadi bagian dari perjalanan.

Kaus dengan foto masa kecil akhirnya menjadi salah satu bentuk kecil dari kedekatan tersebut. Awalnya dibuat untuk terlihat kompak, tetapi perlahan menjadi pengingat tentang perjalanan masing-masing.

Anak-anak dalam foto itu belum tahu akan memilih olahraga apa. Mereka belum tahu akan bertanding di DBL Arena atau mengenakan kaus bersama teman-temannya.

Sekarang, mereka sudah sampai di titik tersebut.

Cerita Nabilah dan Zalfa pun terasa dekat dengan semangat Home of the Dreamers yang dibawa Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027. Musim ini, DBL membawa semangat sebagai rumah bagi para pelajar untuk bermain, belajar, bertumbuh, dan mengejar mimpi.

Mimpi bagi keduanya memang tidak datang sejak kecil. Nabilah menemukannya setelah mencoba basket usai pencak silat. Zalfa justru menemukannya dari keputusan sederhana ketika memilih “basket aja”.

Ketika diminta menyampaikan sesuatu kepada dirinya saat masih kecil, Nabilah tidak punya pesan yang rumit.

“Kalau dari kecil aku tahu basket, mungkin aku bakal ikut basket dari dulu. Tapi sekarang sudah tahu, jadi tinggal terus latihan, jangan gampang menyerah, dan jalanin sampai nanti,” ucapnya.

Zalfa pun melihat masa kecilnya dari sudut yang sama. Ia dulu membayangkan senam sebagai olahraga yang ingin ditekuni, tetapi perjalanan membawanya ke basket.

“Kalau dari kecil tahu basket, mungkin aku bakal ikut dari dulu. Ternyata basket itu seru dan cocok buat aku, walaupun awalnya aku benar-benar enggak tahu apa-apa,” katanya.

Kini, wajah-wajah kecil di kaus itu menjadi bagian dari perjalanan mereka. Ada masa ketika mereka belum mengenal basket, ada masa ketika mereka harus belajar dari nol, dan ada masa ketika mereka mulai tahu ke mana ingin melangkah.

Tidak semua mimpi harus ditemukan sejak kecil.

Kadang, mimpi justru muncul setelah seseorang berani mencoba sesuatu yang sebelumnya tidak pernah direncanakan. Bagi Nabilah dan Zalfa, basket adalah salah satunya.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp. 

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil SMAN 20 Surabaya bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).

 

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS