Setiap kali berbicara tentang olahraga, perhatian kita sering kali berhenti pada satu hal: prestasi.
Pertanyaan lanjutan pun bergulir: Siapa yang menjadi juara. Siapa yang meraih medali. Siapa yang mencetak rekor. Siapa yang akhirnya berdiri paling tinggi di podium.
Padahal, jauh sebelum seorang atlet menjadi juara, ada satu hal yang harus terjadi terlebih dahulu yakni bagaimana seseorang harus mau bermain. Berpartisipasi!
Harus ada anak yang mau datang ke lapangan. Ada orang tua yang mendukung dari rumah. Ada guru yang membuka ruang-ruang kelas agar anak didiknya punya kesempatan terlibat dalam kegiatan non akademik. Ada pelatih yang bersedia membina. Ada sekolah yang memberi kesempatan. Ada teman-teman yang ikut memberikan semangat.
Dari sanalah olahraga tumbuh itu tumbuh. Dari satu kata bernama partisipasi.
Pesan itu terasa sangat relevan dalam peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026. Sebab, memasuki tahun ke-43, Haornas membawa tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar”.
Tema tersebut mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat komitmen untuk menjadikan olahraga sebagai bagian dari keseharian masyarakat. Pemerintah sedang membuka kran partisipasi dalam olahraga.
Pesan tersebut sekaligus membawa kita kembali pada makna olahraga yang lebih luas. Olahraga bukan sekadar pertandingan dan papan skor. Ia adalah aktivitas yang bisa hadir dalam kehidupan sehari-hari, membentuk kebiasaan, menjaga kebugaran, sekaligus membangun manusia.
Jika ditarik ke perjalanan DBL, gagasan tentang memperbesar partisipasi sebagai fondasi olahraga sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Sejak awal founder DBL Indonesia, Azrul Ananda memiliki sebuah filosofi yang menjadi salah satu fondasi perjalanan liga basket pelajar ini. Filosofi yang ditulis besar-besar di kantor DBL Indonesia: “Partisipasi adalah income, prestasi adalah cost. Jika partisipasi terus dikembangkan, maka partisipasi akan membiayai prestasi.”
Filosofi itu menjelaskan bagaimana DBL melihat olahraga sejak awal.
Prestasi memang penting. Juara tentu membanggakan. Tetapi untuk membangun olahraga yang berkelanjutan, yang harus diperbesar terlebih dahulu adalah partisipasinya.
Semakin banyak anak yang bermain, semakin banyak sekolah yang terlibat. Semakin banyak guru, orang tua, pelatih, suporter, alumni, dan masyarakat yang ikut bergerak, semakin besar pula ekosistem olahraga yang terbentuk.
Dari ekosistem itulah prestasi kemudian tumbuh. Dan pada akhirnya, partisipasi berhasil membiayai prestasi.
Jadi, ketika Haornas 2026 mengajak masyarakat menjadikan olahraga sebagai bagian dari keseharian, DBL sebenarnya sejak awal sudah dibangun dengan keyakinan bahwa olahraga harus melibatkan sebanyak mungkin orang. Karena prestasi tidak bisa berdiri sendiri. Presasi membutuhkan ekosistem. Dan ekosistem itu tidak akan lahir tanpa partisipasi.
Karena itu, dalam peringatan Haornas 2026 ini refleksi yang bisa kita ambil adalah pemahaman bahwa olahraga tak seharusnya hanya dilihat dari apa yang terjadi di papan skor. Sebab dalam olahraga ada investasi yang berlangsung jauh sebelum pertandingan dimulai dan jauh setelah pertandingan selesai.
Dalam perjalanannya selama 22 tahun mengawal mimpi-mimpi anak muda Indonesia melalui kompetisi basket dan dance, ada begitu banyak cerita lahir dari panggung DBL. Cerita tentang bagaimana seharusnya olahraga tak sekadar dilihat dari hasil akhir di papan skor.
Salah satunya datang dari Coach Didiet dan tim basket putri SMAN 19 Surabaya.
Ketika mulai membangun tim basket putri SMAN 19 Surabaya pada 2010, tidak semua hal berjalan mudah. Kemampuan dasar pemain belum kuat, bahkan dukungan orang tua pun belum sepenuhnya didapat. Latihan pernah dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dengan perlengkapan seadanya.
Kini, 16 tahun kemudian, Nexix’s telah menjadi bagian dari perjalanan panjang DBL. Mereka pernah menembus Fantastic Four, mengirim pemain ke DBL Camp, hingga membawa pengalaman bertanding ke luar negeri.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa prestasi tidak muncul dalam semalam. Ada partisipasi, ketekunan, dan investasi waktu yang panjang di belakangnya.
Cerita serupa datang dari SMAN 1 Bululawang (Smabul). Sebagai sekolah dari Kabupaten Malang, mereka sempat berhadapan dengan rasa minder ketika menghadapi tim-tim yang dianggap lebih berpengalaman. Kekalahan di fase grup justru menjadi titik balik.
Mereka kemudian menyingkirkan tim kuat dan langganan juara, SMAK Kolese Santo Yusup (Kosayu) di Sweet Sixteen, melaju hingga final, dan akhirnya meraih gelar juara DBL East Java-South 2026 untuk pertama kalinya. Mengalahkan juara bertahan, SMAN 1 Blitar
Di SMAN 1 Bululawang, olahraga memberikan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah trofi: keberanian untuk percaya bahwa kesempatan tidak hanya milik mereka yang berasal dari pusat kota.
Baca Juga: Tepis Rasa Minder, Smabul Buktikan Anak Daerah Bisa Bawa Pulang Gelar Juara DBL!
Lalu ada cerita dari pelatih Riska Pebrianti dan sekolahnya, SMA Permai Jakarta.
Bagi Riska, tugas pelatih bukan hanya membuat pemain menjadi lebih jago atau menjadi pemenang. Ia juga harus membentuk lingkungan yang sehat, mengajarkan pemain untuk bermain keras tanpa bermain kasar, menghormati lawan, dan menghargai keputusan wasit.
Sebab kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah tim.
Baca Juga: Saat Sportivitas Jadi Bagian Penting dari Perjalanan Riska Pebrianti dan Permai
Ada pula kisah Gipih Jaya Muktananda dari SMAN 1 Mataram.
Ia pernah gagal memanfaatkan dua free throw penting yang membuat timnya kalah satu poin. Kegagalan itu bahkan membuatnya terpuruk selama lebih dari seminggu.
Ditambah cedera yang membuatnya harus menepi selama tiga bulan, Gipih belajar bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu tentang menang.
Basket justru mengajarinya tentang disiplin, kesabaran, bangkit dari kegagalan, dan menikmati proses.
Pada musim terakhirnya di DBL, Gipih akhirnya ikut membawa SMAN 1 Mataram meraih gelar juara West Nusa Tenggara.
Cerita lain datang dari Coach Prasetya Citra Sukoco di Malang.
Jauh sebelum melihat anaknya, Abigail Natalenta Sachi Sukoco (Sachi), meraih threepeat bersama Kosayu, Coach Citra telah membangun fondasi basket sejak usia dini. Ia membina pemain lintas jenjang, dari sekolah dasar hingga SMA.
Pada masa ketika fasilitas belum memadai, perjalanan bertanding bahkan harus diurus dengan angkot, motor, dan kereta ekonomi.
Hari ini, fondasi yang dibangunnya terus tumbuh dan melahirkan generasi baru.
Begitu pula Coach Sagita yang telah 17 tahun mendampingi basket SMAN 16 Surabaya.
Ketika pertama kali datang, minat siswa terhadap basket masih rendah. Bahkan ia pernah ditinggal pemain hingga hanya tersisa enam orang di lapangan.
Ia tidak berhenti.
Perlahan, hasil pertandingan digunakan untuk menarik lebih banyak siswa bergabung. Dari sana, ekosistem basket Sixteen tumbuh hingga akhirnya menghasilkan pemain-pemain yang masuk DBL Camp.
Bagi Coach Sagita, basket pada akhirnya bukan hanya tentang apakah seorang pemain akan meneruskan karier di dunia olahraga.
Baca Juga: Lebih dari Sekedar Basket, Coach Sagita Jalani Misi Mulia untuk Sixteen
Founder DBL Indonesia Azrul Ananda selalu menanamkan keyakinan bahwa kompetisi DBL tidak untuk mencetak atlet. Sebab tidak semua pemain DBL akan menjadi atlet profesional. Tetapi semua pemain bisa membawa sesuatu dari olahraga ke kehidupannya.
Itulah mengapa partisipasi menjadi begitu penting.
Maka dalam semangat Haornas 2026, cerita-cerita tentang mereka yang memilih untuk bergerak, berlatih, bertahan, gagal, bangkit, dan terus bertumbuh menjadi pengingat bahwa olahraga tidak pernah hanya tentang siapa yang berdiri di podium.
Olahraga adalah tentang berapa banyak orang yang kita ajak untuk ikut bergerak dan berpartisipasi.
Dari partisipasi itu akan tumbuh ekosistem. Dari ekosistem, lahirlah prestasi.
Dan dari proses panjang itulah, olahraga benar-benar menjadi investasi bagi masa depan. Selamat merayakan Haornas 2026. Salam olahraga.(*)