Pertandingan antara tim putri SMAN 19 Surabaya (Nexix’s) melawan SMA Gloria 2 Surabaya menghadirkan ketegangan yang sudah lama tidak dirasakan Dhanendra Kusuma Wardhana.
Pelatih Nexix’s yang akrab disapa Coach Didiet itu terlihat ekspresif sepanjang pertandingan. Bagaimana tidak, laga tersebut membutuhkan double overtime untuk menentukan siapa pemenangnya.
Nexix’s harus melalui perjuangan berat dan panjang untuk bertahan dari serangan Gloria 2. Saat pertandingan berakhir, mereka berhasil keluar sebagai pemenang dengan skor 23-19.
Coach Didiet merasa lega. Meski timnya belum bisa melangkah ke Round 2 di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, setidaknya mereka pulang dengan kemenangan manis sekaligus dramatis.
“Dari awal saya cuma bilang kalau setiap masuk lapangan, jangan meremehkan, main ikut aturan coach, dan wajib good defense,” sebut Coach Didiet.
Baca juga: Targetkan Tembus Final, Putri Cita Hati West Uji Kekuatan Lawan Kosayu!
Merasakan tekanan yang tidak sembarangan di babak tambahan pun sudah bukan hal yang baru bagi Coach Didiet. Sebab, 12 tahun lalu, ia juga pernah berada di atmosfer yang serupa bersama anak-anak Nexix’s.
Di gelaran musim 2014, Nexix’s yang baru menjalani musim keduanya di panggung DBL berhasil melesat ke babak Sweet Sixteen. Kala itu, mereka langsung berhadapan dengan musuh yang kuat, yaitu SMAN 1 Waru Sidoarjo (Smantaru).
Smantaru sukses melangkah ke Fantastic Four pada musim 2013. Meski begitu, Nexix’s tidak takut terhadap kehadiran mereka. Skuad yang diasuh Coach Didiet saat itu memiliki stamina yang kuat, sehingga mereka bisa bermain dengan tempo cepat secara konsisten.
Benar saja, pertandingan itu berlangsung sengit sampai membutuhkan overtime. Sayang, performa Nexix’s yang kurang optimal dalam mengambil free throw harus membuat mereka tereliminasi di babak tersebut.
“Dapat free throw (pada detik-detik akhir kuarter empat). Padahal anak-anak Smantaru sudah nangis di lapangan kalau masuk satu saja kita menang ternyata gak masuk. Saat overtime dapat lagi free throw yang menentukan, gagal lagi dan Smantaru lolos,” cerita Coach Didiet.
Pertandingan seru Nexix’s versi Coach Didiet juga pernah jadi pada 2017. Saat itu, mereka berhasil melaju ke Big Eight dan berhadapan dengan SMA IPH East Surabaya.
Namun, lagi-lagi perjuangan Nexix’s harus berakhir dengan skor tipis. Kali ini karena serangan bertubi-tubi dari musuh pada waktu krusial.
“Kita sudah ditunggu SMA St. Louis 1 Surabaya di Fantastic Four, kena tembakan tiga angka dua kali pada menit terakhir. Kita kalah 32-31,” terang Coach Didiet.
Baca juga: Langkah Panjang Audi Aryasatya Menjemput Mimpi yang Ia Percaya

Momen tim putri SMAN 19 Surabaya berhasil menjuarai turnamen untuk pertama kalinya (Foto: dokumentasi pribadi Dhanendra Kusuma Wardhana)
Perjalanan panjang Nexix’s yang penuh warna di DBL ini dimulai dari awal yang sederhana. Coach Didiet lah yang menjadi pionir kesuksesan tim basket tersebut.
Coach Didiet mulai bertugas sebagai pelatih tim basket putri SMAN 19 Surabaya pada 2010 lalu. Saat itu, pihak sekolah memiliki visi untuk menjadi sekolah negeri yang berkualitas dan bertaraf internasional.
Maka dari itu, meraih banyak prestasi di bidang nonakademik juga masuk ke dalam salah satu strategi mereka. “Kebetulan saat itu saya bersama beberapa teman alumnus SMA Kompleks lagi buat klub basket untuk usia dini, maka saya terima tawaran melatih di SMAN 19,” cerita Coach Didiet.
Perjuangan yang dilalui Coach Didiet untuk membina anak-anak muda Nexix’s pun harus melalui sejumlah tantangan. Saat itu, banyak dari mereka masih belum memiliki kemampuan dasar yang solid dalam olahraga basket.
Bukan hanya itu, restu dari orangtua pemain juga menjadi salah satu hal yang terbilang sulit untuk didapatkan. Sebab menurut para orangtua pada saat itu, fokus basket hanya akan membuang waktu anak-anak mereka.
Meski begitu, Coach Didiet tidak pernah menyerah. Ia selalu berusaha untuk mencari cara apa pun agar anak-anaknya bisa menjalani latihan.
“Saya ajak anak basket putri waktu itu buat latihan sembunyi-sembunyi setelah pulang sekolah dengan target tahun kedua wajib juara. Sepatu dan baju-baju basket nitip di rumah teman yang boleh basketan,” ingat Coach Didiet.
Latihan pun berlangsung intens mulai dari sekitar pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB. “Anak-anak waktu itu sepakat urunan seadanya, sisanya saya yang nutup,” tambahnya.
Baca juga: Titip Doa di Panti, Tradisi Smada Jelang DBL East Java-North
Pengorbanan Coach Didiet dan Nexix’s pun akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Mereka berhasil menjuarai suatu turnamen basket saat itu. Coach Didiet akhirnya mendapatkan persetujuan dari para orangtua pemain.
“Apalagi setelah angkatan pertama lulus dan mereka bisa keterima kuliah jalur prestasi, jadi seterusnya aman,” tegas Coach Didiet.
Selain tim putri, Coach Didiet juga sebenarnya memegang tim putra SMAN 19 Surabaya dan juga berhasil menjadi juara pada tahun yang sama. Namun, ia akhirnya memilih untuk fokus kepada tim putri saja mulai tahun ketiganya.
“Saya coba buat tim putri SMAN 19 punya nama sendiri,” kata Coach Didiet.

Momen tim putri SMAN 19 Surabaya mengikuti ajang DBL untuk pertama kalinya pada 2013 (Foto: dokumentasi pribadi Dhanendra Kusuma Wardhana)
Coach Didiet dan Nexix’s akhirnya memberanikan diri untuk bertanding di DBL pada 2013. Persaingan jauh lebih berat dan ketat. Kendati demikian, mereka juga memiliki skuad yang tidak bisa diremehkan.
Seiring berjalannya waktu, Nexix’s akhirnya memiliki reputasi sebagai tim basket putri yang kuat dan perlu diwaspadai. Bahkan, di gelaran musim 2019, mereka berhasil mengukir sejarah baru, yaitu tembus Fantastic Four untuk pertama kalinya.
Saat itu, salah satu anak didik Coach Didiet, Ulfariyah, juga berhasil meraih pencapaian yang luar biasa. Ia menjadi pemain pertama dari Nexix’s yang turut berpartisipasi di DBL Camp.
Coach Didiet dan Nexix’s juga menjalani persiapan yang sangat serius menjelang musim kejayaan mereka itu. Mereka diundang untuk mengikuti ajang di Malaysia!
Dari yang awalnya latihan secara diam-diam, Coach Didiet dan Nexix’s akhirnya bisa bermain di negara lain.
“Kebetulan mereka lihat saya saat megang tim Surabaya meraih medali emas di Kejurprov (Kejuaraan Provinsi) KU 18 terus nawarin saya ajukan SMAN 19. Mereka kasih undangan dan kebetulan juga ada sponsor dari salah satu orangtua pemain buat berangkat,” jelas Coach Didiet.
Baca juga: Tak Mau Jadi Runner-up Lagi, Sachio Kejar Champion Bersama SCS
.jpg)
Ulfariyah dan Dhanendra Kusuma Wardhana berfoto bersama setelah gelaran DBL 2019 berakhir (Foto: dokumentasi pribadi Dhanendra Kusuma Wardhana)
Setelah Ulfariyah, Coach Didiet akhirnya mendapatkan kesempatannya sendiri untuk merasakan panggung DBL Camp. Ia terpilih masuk ke dalam jajaran First Team sektor putri pada 2022 lalu.
Kini, Coach Didiet tidak pernah berhenti untuk memberikan motivasi kepada anak-anak Nexix’s untuk terus berjuang dan meraih prestasi setinggi langit seperti para pendahulu mereka.
Perjalanan Nexix’s di DBL East Java-North 2026 memang tidak berakhir sesuai ekspektasi mereka. Meski begitu, perjuangan yang telah mereka lalui musim ini tetap memiliki arti untuk langkah mereka kedepannya.
Sebab, menurut Coach Didiet, permainan basket di tingkat SMA banyak membantu perkembangan tumbuh kembang anak, baik secara mental, fisik, kecerdasan, tanggung jawab, maupun disiplin.
“Terbukti sekarang semua elemen sekolah dari kepala sekolah, guru, sampai satpam sekolah bisa datang mendukung anak-anak supaya berprestasi, terutama yang ikut ekskul basket,” tutup Coach Didiet.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Baca juga: 2 Dekade Lebih Melatih, Coach Amin Pilih Tak Menekan Anak Didiknya
Profil pelatih ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)