Masih ingat Muhammad Adhim Ramadhan?
Namanya pernah menghiasi perjalanan Sixteen di berbagai kompetisi. Termasuk Honda DBL East Java Series 2019-North Region.
Bahkan jauh sebelum mengenakan seragam Jawa Timur dan meraih medali di PON 2024, Adhim lebih dulu mengenal kerasnya kompetisi lewat Junior DBL (JRBL) saat masih duduk di bangku SMP.
Bagi Muhammad Adhim Ramadhan, basket bukan sekadar olahraga yang ia tekuni sejak bangku SMP. Dari kompetisi pertamanya di Junior DBL, dua musim DBL East Java-North bersama Sixteen, pengalaman di DBL Camp, hingga akhirnya meraih medali PON di 2024 bersama Jawa Timur, basket perlahan membawanya semakin jauh dari bayangannya ketika pertama kali mengenal olahraga tersebut.
Kini, Adhim berada di sisi lapangan yang berbeda. Bukan lagi mengenakan jersei dan mengejar angka di papan skor, melainkan berdiri sebagai asisten coach SMP Petra 3 Surabaya. Dari posisi itu, ia mencoba meneruskan pengalaman yang pernah ia dapat selama bertahun-tahun bermain basket.
Perkenalannya dengan kompetisi basket dimulai ketika masih duduk di SMPN 12 Surabaya. Pada tahun 2016, Adhim mendapat kesempatan tampil di JRBL. Saat itu, sekolahnya baru kembali mengikuti kompetisi setelah sempat terdegradasi. Ia pun baru merasakan JRBL sekali, tepat ketika duduk di kelas IX.
Baca juga: Ada Tempaan Berat di Balik Kesuksesan Adhim Menembus First Team
Dari sana, Adhim kemudian masuk SMAN 16 Surabaya dan mulai merasakan panggung DBL East Java-North. Dua musim berseragam Sixteen menjadi salah satu fase penting dalam perkembangan basketnya.
Pada musim pertamanya tepatnya tahun 2018, Adhim membawa Sixteen melaju hingga Big Four. Setahun kemudian, mereka kembali mencapai babak Fantastic Four sebelum langkahnya terhenti di hadapan SMA St. Louis 1 Surabaya.
Di Sixteen pula Adhim bertemu sosok yang hingga kini masih ia ingat sebagai salah satu pelatih yang paling memengaruhi dirinya, Coach Sagita.
Sejak awal bergabung dengan Sixteen, Adhim mendapat banyak pelajaran tentang kerja keras dan bagaimana bertahan ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan. Hubungan keduanya pun tidak berhenti setelah Adhim lulus SMA. Hingga kini, ia masih sesekali berkomunikasi dan datang ke latihan Sixteen.
"Mas Sagita itu dari awal aku main di Sixteen sampai sekarang masih jadi coach yang sangat berpengaruh buat aku. Beliau ngajarin kerja keras, jangan gampang nyerah. Sampai sekarang juga masih sering komunikasi," cerita Adhim.
Baca juga: 7 Bulan Pulihkan ACL, Jayden Ambisi Bawa SCS Champion!
Pengalaman di Sixteen kemudian membawanya ke level yang lebih tinggi. Pada 2019, Adhim mendapat kesempatan mengikuti DBL Camp. Di sana, ia bertemu pemain-pemain dari berbagai daerah di Indonesia dan merasakan langsung bagaimana standar latihan yang lebih tinggi.
Salah satu momen yang paling ia ingat adalah beep test. Sebelum mengikuti camp, Adhim sudah mempersiapkan diri karena ingin memberikan kemampuan terbaiknya. Hasilnya, ia mampu mencatat angka 141, melewati rekor 140 yang sebelumnya ia ingat pernah dibuat seorang student-athlete asal Kupang.
Tubuhnya memang sempat terasa sangat lelah setelah menjalani rangkaian latihan. Namun, pengalaman berada di antara pemain-pemain terbaik dari berbagai daerah membuat rasa lelah itu terbayar.
Dari DBL Camp, perjalanan Adhim terus berlanjut ke bangku kuliah di Universitas Surabaya. Ia memilih Informatika, salah satunya karena sang kakak lebih dulu mengambil jurusan yang sama. Pilihan itu membuatnya bisa tetap mengejar pendidikan sekaligus melanjutkan basket.
Namun, ada satu mimpi yang sejak lama ingin ia wujudkan.
Baca juga: Jadi Kapten, Ricardo Tjoa Bangga Pimpin Komposisi Berkualitas Putra Ciputra
Adhim masih mengingat ketika dirinya yang duduk di bangku SMP pernah melihat pertandingan basket PON. Suasana pertandingan, banyaknya orang yang menyaksikan, serta level pemain yang menurutnya berbeda membuat PON terlihat seperti panggung yang ingin ia datangi suatu hari nanti.
Mimpi itu akhirnya benar-benar tercapai pada PON 2024. Adhim mendapat kesempatan membela Jawa Timur di nomor 3x3.
Medali emas memang menjadi pencapaian terbesar dalam perjalanan basketnya. Namun, pertandingan semifinal justru menjadi salah satu momen yang paling melekat di kepalanya.
Jawa Timur tertinggal 19-20 dari Jawa Barat. Dalam format pertandingan 3x3 dengan target 21 poin, satu angka lagi berarti kekalahan. Di tengah situasi tersebut, Marcellino Bonfilio melepaskan tembakan tiga angka yang membuat Jawa Timur berbalik menang.
Momen itu menjadi salah satu titik ketika Adhim merasa mimpi yang dulu hanya ia lihat dari bangku penonton akhirnya benar-benar menjadi miliknya.
Basket juga membawanya ke tempat-tempat yang sebelumnya hanya menjadi angan. Ia pernah dua kali pergi ke Malaysia dan sekali ke Thailand melalui basket. Bahkan, ia mendapat kesempatan tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri.
Baca juga: Mental Fight Nichole Bawa Putri Ciputra Berjuang hingga Detik Terakhir
"Kalau dipikir-pikir, dari basket aku bisa pergi ke luar negeri. Dulu aku memang punya mimpi bisa ke luar negeri dan dapat spotlight. Ternyata basket yang bawa aku ke sana," ujarnya.
Setelah emas PON berada di tangannya, Adhim justru merasa perlu mencari mimpi baru.
Kesempatan untuk menjadi pemain profesional sebenarnya pernah datang ketika ia masih berada di sekitar masa transisi SMA menuju kuliah. Namun, sejak awal Adhim tidak pernah benar-benar memiliki keinginan kuat untuk menjadikan basket profesional sebagai tujuan akhir.
Kini, ketika diberi pilihan antara kembali mengejar karier sebagai pemain atau masuk lebih jauh ke dunia kepelatihan, jawabannya justru mengarah ke pinggir lapangan.
Ada alasan yang lebih personal di balik pilihan itu.
Adhim merasa masih banyak hal yang dulu tidak ia dapatkan ketika mulai bermain basket. Saat SMP dan SMA, pengetahuannya tentang basket masih terbatas karena ia belum banyak merasakan latihan di klub. Setelah memasuki lingkungan yang lebih luas, ia baru memahami banyak hal, mulai dari materi latihan, basketball IQ, taktik, mental, hingga pentingnya jam terbang.
Pengalaman itulah yang sekarang ingin ia berikan lebih awal kepada pemain-pemain muda khususnya student-athlete.
Baca juga: Arek Smada Supporter Bawa Dunia Aztec ke Tribun DBL!
"Aku pengin anak-anak itu enggak seperti aku dulu. Aku pengin ngajarin hal-hal yang dulu belum mereka rasakan," kata Adhim.
Baginya, pembentukan pemain tidak harus menunggu mereka dewasa. Justru semakin awal pengetahuan dan kebiasaan yang baik diberikan, semakin besar kesempatan mereka untuk berkembang.
"Kalau bisa ditanam dari biji, kenapa harus nunggu jadi pohon?" ujarnya.
Beberapa bulan terakhir, Adhim mulai menjalani peran tersebut bersama Petra 3. Ia ingin student-athlete yang didampinginya memiliki bekal yang lebih lengkap daripada yang ia miliki ketika seusia mereka.
Nilai lain yang ingin ia bawa berasal dari masa-masanya bersama Sixteen. Di sana, Adhim merasakan bagaimana hubungan antara pemain, pelatih, dan alumni bisa membentuk sebuah keluarga.
Suasana itulah yang ingin ia bangun kembali di tempatnya sekarang.
Bagi Adhim, basket tidak seharusnya berhenti pada siapa yang paling banyak mencetak angka. Ada kerja sama, rasa saling percaya, dan kemauan untuk berkembang bersama.
"Main sebagai tim, menang sebagai tim, juara juga sebagai tim," katanya.
Baca juga: Menit Bermain Naik, Abrisam Ahzam Bawa Pesan Kesembuhan untuk Rekan Setim!
Perjalanan Adhim bersama basket mungkin sudah melewati banyak panggung. Dari lapangan JRBL dan DBL, kerasnya DBL Camp, sampai PON yang dulu hanya ia impikan dari bangku penonton.
Kini, ia memilih tidak berhenti setelah mencapai mimpi terbesarnya.
Adhim hanya berganti posisi.
Dulu ia mengejar mimpi dengan bola di tangan. Sekarang, ia ingin membantu student-athlete menemukan mimpi mereka sendiri dari pinggir lapangan.
Perjalanan itu terasa dalam perannya bersama SMP Petra 3 Surabaya. Pada laga melawan SMPN 35 Surabaya, Adhim sukses membawa timnya menang 15-10. Kemenangan tersebut sekaligus mengantarkan Petra 3 melaju ke babak Big 8 Junior DBL 2026 Surabaya.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)