Lebih dari dua dekade berada di dunia basket membuat Lienik Samtono tak lagi melihat olahraga ini sebatas permainan. Bagi pelatih yang akrab disapa Coach Li Cu tersebut, basket juga menjadi ruang untuk membentuk student-athlete menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan bisa diandalkan.
Di usia 61 tahun, Coach Li Cu masih berada di pinggir lapangan mendampingi tim putri SMP Santa Clara Surabaya di Junior DBL 2026 Surabaya. Baginya, ada kepuasan tersendiri ketika melihat student-athlete yang dilatihnya berkembang.
“Saya itu senang lihat anak-anak. Lihat mereka bisa main basket dengan benar,” ujarnya.
Kecintaan Coach Li Cu terhadap basket sendiri sudah tumbuh sejak SMP. Saat bersekolah di SMP PPI, yang kini dikenal sebagai Nation Star Academy (NSA), ia mulai bermain basket. Sepulang sekolah, ia biasa mengayuh sepeda menuju kawasan Simolawang untuk mengikuti latihan.
Baca juga: Tahun Terakhir di Junior DBL, Aisyah Kini Berani Ambil Peran untuk NSA
Dari kebiasaan itu, basket kemudian menjadi bagian panjang dalam hidupnya. Ia bermain, melatih, dan bertemu dengan banyak anak dari berbagai generasi.
Namun, semakin lama berada di dunia basket, Coach Li Cu justru melihat ada hal lain yang tak kalah penting dari kemampuan bermain.
Menurutnya, latihan basket bisa menjadi tempat anak belajar menghadapi tanggung jawab. Ada disiplin yang harus dijaga, komitmen terhadap latihan, hingga kemauan untuk menjalankan peran sebagai bagian dari tim.
“Basket itu bukan cuma mengajarkan basket, tapi juga tentang kehidupan. Dengan bisa disiplin, terus bisa komitmen, bisa tanggung jawab,” katanya.
Karena itu, Coach Li Cu tidak hanya memperhatikan bagaimana seorang pemain menggiring bola, melakukan tembakan, atau menjalankan strategi. Ia juga melihat bagaimana sikap mereka ketika berada di dalam maupun di luar lapangan.
Baca juga: Angelina Natazza Mulai Menanam Mimpi Besar di DBL
Baginya, skill dan attitude tidak bisa dipisahkan.
Pemain dengan kemampuan bagus tetapi sulit menerima masukan tetap memiliki pekerjaan rumah. Begitu pula pemain dengan sikap baik tetapi kemampuan basketnya belum cukup, tetap harus didorong untuk berkembang.
“Attitude sama skill itu kan harus berimbang. Kalau attitude-nya bagus pun kalau skill-nya kurang, kita tetap harus push dia supaya skill-nya nambah,” jelasnya.
Cara Coach Li Cu menghadapi anak-anak juga tidak selalu sama. Sisi keibuannya membuat ia berusaha memahami karakter masing-masing student-athlete, terutama ketika berhadapan dengan anak yang sebenarnya punya potensi tetapi sulit menerima masukan.
Alih-alih hanya menegur, ia memilih mendekati mereka secara personal.
Baca juga: Mimpi yang Dulu Dikejar, Kini Muhammad Adhim Tumbuhkan
“Kita tetap pendekatan dari hati ke hati,” tuturnya.
Bagi Coach Li Cu, keberhasilan seorang pemain bukan hanya ketika mampu menjadi lebih baik di lapangan. Ia akan lebih senang jika anak yang pernah dilatihnya juga tumbuh menjadi pribadi yang baik dan dapat diandalkan.
Itulah yang membuatnya masih memilih berada di lapangan hingga sekarang.
Basket memang menjadi tempat student-athlete belajar tentang skill. Tetapi bagi Coach Li Cu, pelajaran yang dibawa pulang jauh lebih besar dari sekadar kemampuan bermain.
Di balik latihan dan pertandingan, ada disiplin yang dibentuk, tanggung jawab yang dipelajari, serta karakter yang perlahan tumbuh.
Dan bagi Coach Li Cu, di situlah basket punya arti yang sebenarnya.
Baca juga: Dari SD hingga SMA, Coach Ananta Bangun Regenerasi Basket Vita
Profil pelatih ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)