Dulu, Rasyah Anargya Rayhan terbiasa melihat Nafeesha Ayudhia Inara berada di sekitar lapangan basket. Sang adik masih kecil, sekadar mengikuti permainan kakak-kakaknya, mengambil bola, atau mengejar rebound.
Situasinya berubah pada Rabu, 30 September 2026. Rasyah justru duduk di tribun DBL Arena Surabaya, menyaksikan Nafeesha tampil gemilang di partai final Junior DBL 2026 Surabaya bersama SMPN 6 Surabaya (Spensix).
Ada alasan khusus di balik kehadiran Rasyah hari itu. Ia sengaja datang dari Prancis karena sedang libur dan ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk melihat langsung sang adik bermain di panggung final.
Kesempatan ini menjadi pengalaman yang berbeda bagi Rasyah. Dalam beberapa tahun terakhir, jarak membuatnya tidak bisa selalu mengikuti pertandingan Nafeesha secara langsung. Kali ini, waktunya bertepatan dengan agenda Junior DBL sekaligus partai puncak yang mempertemukan Spensix dengan SMP Nation Star Academy Surabaya (NSA).
"Sengaja datang karena sekarang lagi DBL dan saya kebetulan lagi libur. Jadi saya sempatkan untuk datang. Biasanya saya memang enggak sempat menemani dia tanding, tapi kali ini kebetulan waktunya pas. Apalagi ini final, jadi saya pengin lihat langsung," ujar Rasyah.
Baca juga: Last Dance Nafeesha Berujung Gelar MVP Junior DBL 2026 Surabaya
Kehadiran Rasyah kemudian membawa cerita ke masa ketika basket baru mulai dikenal Nafeesha. Olahraga tersebut bukan sesuatu yang asing bagi keluarganya. Dua kakaknya lebih dulu menekuni basket dan membuat permainan itu dekat dengan keseharian mereka.
Arvela Rayhan, kakak pertama Nafeesha, pernah membela SMAN 16 Surabaya dan menembus DBL Camp, sementara Rasyah pernah menjadi bagian dari SMAN 5 Surabaya di DBL hingga mencapai Big Eight.
Di rumah, ketiganya juga memiliki ruang untuk bermain bersama. Ada ring basket yang menjadi tempat Rasyah dan Arvela menghabiskan waktu dengan Nafeesha ketika sang adik masih kecil. Belum ada target atau latihan khusus. Nafeesha hanya ikut dalam permainan kakak-kakaknya.

Potret masa kecil Nafeesha Ayudhia Inara bersama kakak-kakaknya, foto kiri saat bersama Arvela Rayhan pada tahun 2018 dan foto kanan bersama Rasyah Anargya Rayhan pada tahun 2019 (Foto: Dokumentasi pribadi Nafeesha Ayudhia Inara).
"Waktu masih kecil kita suka ngisengin adik. Di rumah itu ada kayak ring basket dulu jadi kita lompat-lompatin buat slempang-slempang, dia diam. Terus sekarang dulu masih ya basket cuma passing-passing in kakak-kakaknya, ambil rebound gitu-gitu," cerita Rasyah.
Memasuki usia sekolah dasar, Nafeesha mulai belajar basket dengan proses yang tidak langsung mudah. Rasyah masih mengingat bagaimana sang adik sempat menangis ketika pertama kali menjalani latihan. Namun, pengalaman itu tidak membuat Nafeesha berhenti. Perlahan, ia justru mulai menikmati permainan tersebut dan semakin serius menekuninya.
Baca juga: 3 Tahun Menunggu, Nafeesha Akhirnya Bawa Spensix ke Final Junior DBL
Rasyah pun tidak menyangka ketertarikan itu akan berkembang sejauh ini. Sebagai kakak, ia dan Arvela awalnya bahkan sempat meminta Nafeesha mencoba kegiatan lain karena memahami basket sebagai olahraga yang cukup menguras fisik.
"Saya itu enggak expect banget kalau adik saya nih basket sampai setekun itu. Dulu kami sebagai kakaknya sempat enggak mau adiknya main basket. Karena basket kan fisiknya keras. Kami bilang, janganlah, main yang lain saja. Tapi ternyata dia suka basket, enggak ada paksaan. Makin senang aja kita. Ternyata makin lega ngajarinya, makin bisa all out," ujar Rasyah.
Ketika Nafeesha mulai menunjukkan keseriusan, hubungan mereka di lapangan pun ikut berubah. Rasyah tidak hanya menjadi kakak yang bermain bersamanya, tetapi juga tempat Nafeesha bertanya tentang basket dan berbagai pengalaman yang pernah ia jalani.
Kesempatan berlatih bersama biasanya mereka dapatkan ketika Rasyah masih berada di Surabaya. Ada lapangan di dekat rumah yang menjadi tempat keduanya bermain. Dari sana, Rasyah membagikan pengalaman yang ia punya selama menjadi pemain.
Kebersamaan itu tidak berlangsung setiap hari. Rasyah berangkat ke Prancis pada 2022, sedangkan Arvela lebih dulu pergi ke negara yang sama pada 2021. Jarak membuat keduanya harus mengikuti perkembangan Nafeesha dari jauh.
"Saya ke Prancis 2022. Kakak itu 2021. Jadi sudah lumayan lama. Kalau bareng-bareng memang enggak ada waktu dia masih kecil. Tapi kalau pulang, pasti main basket bareng. Dia juga banyak tanya. Jadi apa yang bisa kami kasih ya pengalaman dari kakak-kakaknya," kata Rasyah.
Baca juga: Siap ke Fantastic Four, Danish Terus Mengasah Permainan Lewat Evaluasi Diri
Meski berjauhan, perkembangan Nafeesha tetap menjadi perhatian kedua kakaknya. Karena itu, kesempatan menyaksikan langsung pertandingan di DBL terasa spesial bagi Rasyah. Apalagi kali ini Spensix berhasil mencapai final Junior DBL untuk pertama kalinya.
Sebagai alumni SMPN 6 Surabaya, pencapaian tersebut juga membawa kebanggaan tersendiri bagi Rasyah. Namun, ia tidak ingin hasil pertandingan menjadi satu-satunya hal yang dilihat dari perjalanan Nafeesha dan rekan-rekannya.
Baginya, keberanian untuk bermain sepenuh hati, terus berusaha, dan memberikan kemampuan terbaik jauh lebih penting.

Aksi Nafeesha Ayudhia Inara (nomor punggung 10) saat melakukan layup di bawah pengawalan ketat pemain SMP Nation Star Academy Surabaya dalam laga penentuan Junior DBL 2026 Surabaya.
"Terlepas dari hasil, menang apa kalah, itu jujur saya enggak seberapa peduli. Yang penting anak-anaknya juga mainnya sepenuh hati, berusaha, semangat main. Yang penting all out," tuturnya.
Arvela memang tidak dapat hadir langsung di DBL Arena. Meski begitu, ia tetap mengikuti perjalanan Nafeesha dari jauh. Setelah pertandingan, Arvela juga menitipkan pesan untuk sang adik.
Baca juga: Penjagaan Ketat yang Membuat Hafiy Harus Mencari Cara Lain
Pesan tersebut berisi apresiasi atas perkembangan Nafeesha sekaligus dorongan untuk terus memperbaiki permainan. Ia mengingatkan Nafeesha agar tetap berkembang dalam bertahan, membaca permainan, menjaga kondisi tubuh, serta terus membangun kerja sama dengan rekan setim.
Perhatian kedua kakaknya membuat Rasyah melihat perjalanan Nafeesha dengan cara yang berbeda. Anak yang dulu hanya ikut bermain ketika kakaknya memegang bola kini sudah mampu berdiri di lapangan dan menjalani pertandingan di panggung final.
"Kalau saya ngelihatnya tetap saya ngelihat adik saya kecil dulu aja. Paling bedanya tinggi aja sekarang," ujar Rasyah.
Kalimat itu seperti merangkum perjalanan mereka. Bertahun-tahun lalu, Rasyah dan Arvela yang lebih dulu berada di lapangan, sementara Nafeesha hanya mengikuti dari dekat. Kini, posisi mereka berganti. Rasyah duduk di tribun, sedangkan Nafeesha menjadi pemain yang ia saksikan berjuang di partai final Junior DBL.
Bagi Rasyah, bukan hanya hasil pertandingan yang ia bawa pulang dari DBL Arena hari itu. Ada satu hal yang jauh lebih personal, yaitu kesempatan melihat sendiri bagaimana adik kecil yang dulu sering mengikuti permainan kakaknya kini tumbuh menjadi pemain yang berani tampil di panggung sebesar Junior DBL.
Baca juga: Bukan Sekadar Cetak Poin, Javas Belajar Menjaga Spensix Tetap Kompak
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema “100% Indonesia”. Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)