Sejak pertandingan dimulai, Yasmina Ashfa Zahidah tak pernah benar-benar melepaskan pandangan dari lapangan. Sesekali ekspresinya berubah mengikuti jalannya permainan.
Ketika tempo pertandingan berjalan cepat, ia ikut tegang mengikuti setiap pergerakan pemain SMAN 1 Jember (Sketsa). Perhatiannya tertuju kepada satu nama, Nisrina Aqilah Maulidah, adiknya yang akrab dipanggil Icin.
Selasa, 6 Oktober 2026, Nisrina mendapat kepercayaan menjadi starter Sketsa saat menghadapi SMA Kolese Santo Yusup Malang (Kosayu) pada babak Big Eight Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java Championship. Pertandingan tersebut menjadi perebutan tiket menuju Fantastic Four.
Masih berstatus pemain kelas X, Nisrina harus membantu Sketsa melewati salah satu pertandingan penting dalam perjalanan mereka di East Java Championship. Di sisi lain, dari tribun, Yasmina mengikuti setiap momen permainan sang adik dengan perhatian penuh.
Sketsa harus mengakhiri langkahnya setelah kalah 41-23. Sementara itu, kemenangan tersebut mengantarkan Kosayu menuju Fantastic Four Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java Championship.
Bagi Yasmina, hasil pertandingan bukan satu-satunya hal yang ia bawa pulang dari DBL Arena. Ada rasa bangga yang jauh lebih besar karena bisa melihat langsung adiknya bertanding.
“Pertama-tama kita sebagai keluarga selalu bangga sama Nisrina sebagai pemain. Dia masih kelas X dan sudah starting. Mainnya tadi juga sudah luar biasa. Tim Sketsa juga sudah bermain luar biasa. Kami selalu bangga,” ujar Yasmina.
Kehadiran Yasmina di Surabaya juga bukan perkara sederhana. Sehari-hari ia bekerja di Jakarta dan harus mengambil cuti khusus agar bisa mengikuti perjalanan Nisrina selama DBL.
Sejak rangkaian pertandingan di Jember, Yasmina berusaha hadir memberikan dukungan. Ia bahkan selalu mengenakan bando yang sama ketika datang ke pertandingan sebagai caranya menunjukkan bahwa dirinya datang untuk Icin dan Sketsa.
“Aku sebenarnya kerjanya di Jakarta. Jadi khusus DBL ini karena memang momen dia pertama kali, aku datang ke Jember dari awal dia dari Jember region. Aku support dan selalu pakai bando ini. Jadi ya sudah, aku di sini buat support Icin dan support tim Sketsa juga,” tuturnya.
Jarak tujuh tahun di antara keduanya membuat Yasmina dan Nisrina tidak selalu berada dalam keseharian yang sama. Yasmina menetap di Jakarta, sedangkan Nisrina menjalani aktivitasnya di Jember.
Meski begitu, jarak tidak membuat keduanya kehilangan kedekatan. Yasmina justru berusaha mencari cara agar tetap terhubung dengan dunia sang adik.
Pesan singkat melalui WhatsApp, membalas story, hingga saling mengirim video TikTok menjadi cara sederhana yang mereka gunakan. Yasmina memilih mengikuti hal-hal yang dekat dengan keseharian Nisrina.
“Karena Icin masih teenager dan aku juga jauh di Jakarta, aku mencoba sebisa mungkin tetap connect ke dia melalui apa pun. Aku sering chat dia lewat WA atau reply story, lucu-lucuan juga. Aku mencoba menghubungkan diri dengan dia dengan cara menyesuaikan dunia dia,” katanya.
Cara tersebut terasa semakin penting karena karakter keduanya cukup berbeda. Yasmina mengaku lebih ekspresif, sementara Nisrina justru dikenal pendiam dan cenderung lempeng.
Perbedaan itu tidak membuat keduanya sulit dekat. Justru Yasmina berusaha menjadi sosok yang membuat Nisrina nyaman bercerita, terutama setelah menjalani pertandingan.
Basket memang menjadi salah satu topik yang paling sering dibawa Nisrina ketika berbincang dengan sang kakak. Ia kerap menceritakan pertandingan sekaligus bagian permainan yang menurutnya masih perlu diperbaiki.
Nisrina sendiri sudah mengenal basket sejak kelas III SD. Perjalanannya dimulai dari nol hingga olahraga tersebut menjadi bidang yang terus ia tekuni.
Ayah dan ibunya yang juga pernah bermain basket turut memberikan arahan di rumah. Sementara Yasmina mengambil peran berbeda sebagai sosok yang memberikan apresiasi dan semangat.
“Dia selalu cerita soal basket. Misalnya sehabis pertandingan dia bisa cerita kekurangannya apa. Sebagai kakak, apalagi aku jauh secara jarak, aku berusaha mendekatkan diri. Aku bilang game-nya sudah bagus, mungkin yang perlu di-improve ini dan itu. Aku selalu apresiasi dia karena main basket itu susah,” jelas Yasmina.
Dari berbagai cerita tersebut, keluarga juga melihat satu hal yang masih perlu dibangun dari permainan Nisrina. Bukan kemampuan teknis, melainkan keberanian untuk percaya pada dirinya sendiri ketika berada di lapangan.
“Kalau secara kemampuan dia bagus. Talent-nya sudah bagus. Cuma dia kalau main masih ada ragu. Jadi kita selalu motivasi dia untuk berani, berani, berani. Kalau untuk beraninya sudah terlatih, performanya juga akan semakin bagus,” ujarnya.
Hal itu pula yang membuat Yasmina ikut merasakan setiap momen pertandingan di tribun. Permainan cepat Sketsa dan Kosayu beberapa kali membuatnya tegang.
Salah satu momen yang paling ia ingat terjadi ketika Nisrina mendapat kesempatan melakukan free throw. Yasmina bahkan memilih tidak melihat langsung dan hanya menundukkan kepala sambil membaca doa.
Tembakan tersebut akhirnya masuk. Rasa lega pun muncul setelah sebelumnya ia dibuat tegang hanya karena melihat adiknya berdiri di garis free throw.
Momen itu menjadi salah satu potongan kecil dari perjalanan Yasmina mendampingi Nisrina. Ia memang tidak selalu bisa hadir karena jarak Jakarta dan Jember, tetapi ketika ada kesempatan, ia berusaha datang sedekat mungkin.
Bahkan setelah pertandingan berakhir, Yasmina masih harus kembali ke Jakarta pada malam yang sama. Dua hari cuti yang ia ambil khusus untuk DBL pun segera berakhir.
Sketsa memang harus berhenti di babak Big Eight. Namun, perjalanan Nisrina belum selesai. Sebagai pemain kelas X, masih ada waktu baginya untuk berkembang dan membangun keberanian yang selama ini terus didorong keluarganya.
Bagi Yasmina, pertandingan di DBL Arena bukan hanya tentang melihat adiknya bermain. Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya menjadi caranya menunjukkan bahwa ia tetap bisa hadir, meski jarak membuat keduanya tidak selalu berada di tempat yang sama.
Sebelum benar-benar meninggalkan DBL Arena, Yasmina menitipkan satu pesan untuk adiknya. Pesan dari seorang kakak yang selama ini memilih hadir dengan caranya sendiri, sekaligus pengingat bahwa hasil pertandingan bukan akhir dari perjalanan Nisrina.
“Icin, we are so proud of you. Teteh, Bunda, Ayah, dan sekeluarga besar kita bangga sama Icin. Icin sudah bermain semaksimal mungkin. Mungkin nanti memang ada room of improvement, tapi Icin sudah bermain semaksimal mungkin. Nanti kita coba bicarakan di rumah dan improve bareng-bareng,” ujar Yasmina.
Dua hari cuti yang diambil Yasmina akhirnya harus berakhir. Malam itu ia kembali menuju Jakarta, membawa cerita tentang pertandingan yang belum berakhir sesuai harapan Sketsa.
Sementara bagi Nisrina, kekalahan tersebut menjadi satu bagian dari perjalanan panjangnya di basket. Masih ada dua musim di depan, dan kali ini ia tahu ada keluarga yang akan terus mengingatkannya untuk bermain lebih berani.
Dari tribun DBL Arena, Yasmina mungkin hanya bisa melihat Icin berlari di lapangan. Namun, dukungan yang ia bawa dari Jakarta menjadi bukti bahwa jarak tujuh tahun dan perbedaan kota tidak pernah benar-benar menjauhkan keduanya.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil Nisrina Aqilah Maulidah bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).