DBL ACADEMY

Junior DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Bicara soal pendidikan olahraga di lingkungan sekolah tidak semata-mata berbicara tentang kekuatan dan kebugaran fisik, tapi juga pembentukan karakter dan nilai-nilai kehidupan. Itulah yang dilakukan oleh Dewanta Aji Putra guru sekaligus manajer basket asal SMA Olifant Yogyakarta. 

Aji -sapaan karibnya- adalah nama yang tak asing didengar. Nama itu sudah berkiprah di ekosistem DBL sejak 2014. Bahkan, Aji pernah menjadi pelatih yang terpilih di skuad DBL Indonesia All-Star di tahun 2016. Pengalaman panjang itu membuat Aji terus ingin berkontribusi di dunia olahraga khususnya basket. 

Potret Dewanta Aji Putra saat Menjadi DBL Indonesia All-Star 2016 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Berangkat dari ‘kekayaan’ pengalaman itu, Aji memanfaatkannya untuk dapat menyelaraskan antara akademik dan nonakademik. Sebagai guru Pendidikan Jasmani dan Olahraga (PJOK), Aji berfokus untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan olahraga dan menjaga kebugaran fisik. Sementara itu, sebagai manajer tim basket, Aji bertugas untuk mengelola kebutuhkan nonteknis tim. Seperti mengkoordinasikan jadwal latihan, administrasi, hingga komunikasi. 

Baca Juga: DBL Super Teacher: Nova Riama Menghidupkan Sains di Tanah Papua

Bagi Aji, setiap student-athlete memiliki dua tanggung jawab yang penting, yaitu menyelesaikan pendidikan dengan baik sekaligus tetap berkembang dan berprestasi di basket. “Pengalaman sebagai guru membantu saya memahami kebutuhan siswa sebagai pelajar, sedangkan pengalaman mengelola tim basket membuat saya lebih memahami tantangan yang mereka hadapi dalam menjalani pembinaan basket yang kompetitif,” tuturnya. Oleh karena itu, Aji yakin bahwa konsistensi prestasi bukan hasil kerja satu orang, melainkan hasil kerja semua pihak yang terlibat. Mulai dari sekolah, pelatih, pemain, dan orang tua.

Visi Aji ternyata selaras dengan komitmen SMA Olifant untuk membangun program pembinaan yang berkelanjutan. Hal itu terlihat dari sejarah Olifant yang ‘langganan’ mendapatkan predikat juara. Bagi Aji, keberhasilan pembinaan olahraga di sekolah tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan kolektif. Pembangunan budaya disiplin, komunikasi yang jernih, dan kerja sama tim menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan program basket yang bermutu.

“Kami berusaha membangun budaya disiplin dan tanggung jawab. Pemain perlu memahami bahwa prestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bermain basket, tetapi juga oleh sikap, komitmen, dan konsistensi dalam berlatih,” ujarnya. 

Dewanta Aji bersama dengan Tim Basket Putra SMA Olifant Berhasil Mendapatkan Glar Runner-Up di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Yogyakarta

Kendati demikian, di balik perjuangan Aji yang tampak mulus, tetap ada kerikil kecil yang harus dihadapi. Aji berterus terang bahwa kendala waktu masih menjadi persoalan yang utama.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Tsaniyah, Guru MAN 2 Kota Malang yang Mendidik lewat Riset

“Sebagai guru, saya harus memastikan proses pembelajaran berjalan dengan baik dan kebutuhan siswa di kelas terpenuhi. Di sisi lain, sebagai manager tim, saya juga harus mengoordinasikan kebutuhan tim, terutama ketika memasuki periode persiapan kompetisi dengan jadwal latihan dan pertandingan yang cukup padat,” tambahnya.

Tak berhenti di situ, Aji juga punya tantangan untuk membantu pemain menyeimbangkan tuntutan akademik dengan prestasi basket. Jadwal padat yang berdekatan dengan ujian, tugas, atau kegiatan sekolah lainnya, membuat Aji harus tetap memutar otak agar tetap dapat melangsungkan keduanya dengan baik.

Dengan mengikuti kegiatan DBL Super Teacher, Aji ingin mengembangkan pembelajaran PJOK yang tidak hanya berfokus pada keterampilan fisik dan pemahaman teori, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai yang diperoleh siswa melalui olahraga ke dalam kehidupan akademik dan keseharian mereka.

Menurut Aji, akademik dan nonakademik bisa dijalankan beriringan. Olahraga justru dapat menjadi media pembelajaran yang sangat baik untuk mengembangkan keterampilan yang juga dibutuhkan dalam proses belajar, seperti disiplin, manajemen waktu, komunikasi, pemecahan masalah, kerja sama, dan kepemimpinan.

Potret Dewanta Aji saat Mengajar Materi PJOK di Sekolah (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Hal tersebut terlihat dalam pembelajaran PJOK, ketika siswa tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan melakukan suatu keterampilan olahraga. Namun juga dapat belajar menyusun strategi, mengevaluasi performa, bekerja dalam kelompok, dan merefleksikan proses yang mereka jalani. Nilai-nilai tersebut, dapat mereka terapkan ketika mengerjakan tugas, menghadapi ujian, maupun berkolaborasi dalam kegiatan akademik.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Ameliasari Kesuma, Guru Ekonomi yang Rawat Budaya Menulis

Tumbuh di ekosistem DBL, membuat Aji merasa Ajang DBL Super Teacher adalah wadah yang tepat untuk menyerap inspirasi baru. DBL dinilai berhasil mengintegrasikan nilai akademis dan pencapaian kompetitif secara seimbang. Melalui interaksi dengan sesama pendidik, ada harapan besar bagi Aji untuk membawa pulang pengalaman berharga demi memajukan kualitas pengajaran di sekolahnya. 

Dewanta Aji Putra adalah satu dari Top 72 guru “Super” yang berhasil lolos DBL Super Teacher. Ia akan menjalani rangkaian selanjutnya untuk bisa masuk ke Top 24.

DBL Super Teacher adalah program pelatihan, pengembangan kapasitas, dan apresiasi bagi guru pendamping yang digagas oleh DBL Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Program ini ditujukan bagi tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi dan meyakini bahwa proses belajar tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Guru-guru terpilih juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan hingga belajar (short course) ke luar negeri.

Program yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini gratis dan terbuka bagi seluruh guru di Indonesia. (*)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS