Tembok Keraguan yang Diruntuhkan Dirham dengan Tekad Baja

| Penulis : 

Pagi itu, Rabu, 28 Oktober 2026, Dirham Ramadhan Karaeng bangun dengan semangat yang berbeda.

Ia siap untuk membuat harinya menjadi semakin seru dan menyenangkan. Sebab, pada pukul 20.00 WIB, ia dan skuad SMA Pangudi Luhur Jakarta (Brabas) akan berlaga di panggung Fantastic Four Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Jakarta Championship. 

Mimpi Dirham dan Brabas benar-benar sudah di depan mata. Musim ini, mereka hanya memasang satu target. “Main di Indonesia Arena dan menang,” ucap Dirham.

Sederhana, tetapi tujuannya sangat serius.

Cuaca cerah mewarnai langit SMA Pangudi Luhur Jakarta saat itu. Dirham mengisi harinya dengan belajar dan bermain bersama teman-temannya. Suasananya terbilang sempurna. 

Meski akan kembali berhadapan dengan Raffles Christian School Jakarta (Knights) untuk ketiga kalinya pada musim ini, Dirham justru tidak merasa tertekan. Dengan segala perjuangan yang telah mereka lalui, Dirham dan Brabas sungguh percaya diri bahwa mereka bisa mengukir sejarah pada hari itu.

***

Musim lalu, Dirham telah menyaksikan tim kebanggaannya mengguncang DBL Jakarta. Pada 27 Oktober 2025, Brabas berhasil mencuri kemenangan dramatis dari SMA Bukit Sion Jakarta (juara bertahan DBL Jakarta saat itu) lewat tripoin Rasya Octo Kurnia pada detik-detik akhir.

Kemenangan itu sekaligus membuat kedua tim harus menjalani if necessary game pertama dalam sejarah DBL. 

Kekuatan Brabas memang akhirnya belum cukup untuk sepenuhnya menundukkan SMA Bukit Sion Jakarta. Mereka harus menelan kekalahan 71-46 di if necessary game dan melihat mereka kembali mengangkat trofi juara di Indonesia Arena.

Namun, Brabas memberi akhir cerita yang berbeda untuk mereka pada musim ini. Setelah bangkit dari ketertinggalan 12 poin pada 4 menit terakhir dan kembali menang dramatis dengan skor 46-45 di laga pertama Playoffs, Brabas berhasil mengeliminasi SMA Bukit Sion Jakarta di laga perebutan tiket Fantastic Four dengan skor 33-28.

Baca Juga: Sengit Lagi! Pangudi Luhur Kembali Paksa Buksi Terima Kekalahan Dramatis

Dirham Ramadhan Karaeng mengendalikan bola ketika SMA Pangudi Luhur Jakarta berhadapan dengan SMA Bukit Sion Jakarta di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Jakarta Championship

Memulangkan sang juara 2 musim beruntun tentu bukanlah hal yang mudah. Bagaimanapun, rintangan yang harus dihadapi Brabas menuju Final DBL Jakarta ternyata tidak berhenti sampai situ saja. 

Brabas masih belum menemukan jawaban yang efektif untuk membendung permainan Knights. Dalam pertemuan mereka di final DBL South Jakarta dan Playoffs musim ini, Knights selalu keluar sebagai pemenang. 

Perubahan strategi apa yang akan dilakukan oleh Brabas di Fantastic Four ini? Siapa yang akan menjadi pembeda?

***

Setelah seluruh jam pelajaran di SMA Pangudi Luhur Jakarta berakhir, para penggawa Brabas segera berkumpul untuk mempersiapkan diri. Tinggal beberapa jam tersisa sebelum pertandingan mereka dimulai.

Dirham dan teman-temannya lantas melakukan teknik deep breathing. Mereka bersama-sama menarik napas dan membuangnya secara perlahan. Itu membuat mereka semakin tenang dan rileks menjelang laga.

Sembari melakoni deep breathing, Dirham juga menutup matanya. Membayangkan apa yang akan ia lakukan di gim mendatang. Bersinar. Penuh energi. Bermain habis-habisan.

“Saya hanya ingin fight dan menang. Saya lakukan segalanya yang saya bisa untuk menang,” sebut Dirham.

Baca Juga: Melihat Perjalanan Rafiqi Ghazali dari Mata Sang Ibu

Tiba saatnya bagi Dirham dan Brabas untuk berangkat ke GOR Bulungan, Jakarta Selatan. Jaraknya cukup dekat dari sekolah. Hanya sekitar 2,5 kilometer atau 10 menit perjalanan menggunakan mobil.

Seperti biasa, Dirham datang dengan penampilan yang mentereng. Ia merupakan satu-satunya pemain Brabas dengan rambut yang dikepang. Gaya rambut itu bukan sekedar untuk membuatnya percaya diri di lapangan.

“Abang saya, Dafa, yang ngepangin rambut saya selama pertandingan. Kadang di salon juga. Karena rambut saya gondrong jadi dikepang agar lebih rapi dan memudahkan saat bermain,” jelas Dirham.

Sebelum Dirham dan Brabas bertanding, tim putra SMA Jubilee Jakarta dan Kolese Kanisius Jakarta menjalani laga intens. Kedua tim saling bergantian mengambil alih kedudukan hingga kuarter terakhir. 

Itu sudah cukup menjadi sinyal bahwa pertandingan mereka juga akan berlangsung sengit. Apa pun bisa terjadi di babak Fantastic Four ini.

Baca Juga: Hasil DBL Jakarta Championship: Deretan Drama Hiasi Babak Fantastic Four!

Sebelum masuk ke lapangan, cowok bertinggi badan 165 cm itu selalu menanam mindset yang sama dalam pikirannya. “Selalu fokus untuk setiap gim. Pernah diremehkan karena tinggi badan, tetapi saya memilih untuk tidak memikirkan dan tidak terpengaruh oleh omongan seperti itu,” tegas Dirham.

Kini, Dirham dan Brabas memiliki misi untuk merebut tiket menuju Final DBL Jakarta di Indonesia Arena. Ratusan orang hadir di GOR Bulungan untuk menyaksikan aksi mereka yang selalu menjadi topik pembicaraan pada musim ini.

Bagaimanapun, ada masanya ketika bermain di lapangan DBL merupakan salah satu mimpi terbesar yang ingin Dirham raih.

***

Basket sebetulnya belum lama menjadi salah satu olahraga yang diminati Dirham. Ia baru pertama kali bermain saat berada di kelas VII SMP. Tepatnya saat semester kedua.

“Saya coba ikut ekskul basket dan ternyata basket itu seru dan menyenangkan,” ceritanya.

Dirham akhirnya memilih untuk serius menggeluti basket. Rasa cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Bahkan, Dirham sampai meminta kepada sang ibunda untuk mendaftarkan dirinya ke sebuah klub basket.

Seiring berjalannya waktu, Dirham terus berkembang menjadi seorang guard yang solid dan lincah. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMA Pangudi Luhur Jakarta dan mengejar mimpi untuk bermain di DBL bersama skuad Brabas.

Namun, ternyata perjalanan Dirham tidak selamanya berjalan mulus. Bahkan, mimpi itu sempat harus tertunda. Nama Dirham tidak masuk ke dalam daftar pemain Brabas pada tahun pertamanya.

“Tahun lalu saya gak ikut. Menurut saya, banyak teman-teman yang lebih baik dan bagus mainnya,” tutur Dirham.

Baca Juga: Kilas Balik Finalis DBL South Jakarta: Kesempatan Pangudi Luhur Naik Kelas

Dirham Ramadhan Karaeng saat membela SMA Pangudi Luhur Jakarta di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Jakarta Championship

Namun, kenyataan itu tidak membuat Dirham menyerah begitu saja. Ia justru menjadi lebih semangat untuk mengasah dan membuktikan kemampuannya. Mentalitas Dirham semakin terbentuk dalam perjalanannya.

Tentunya Dirham tidak melalui perjalanan ini sendirian. Ada kedua orangtua dan keluarga tercinta yang setia menemani langkahnya melalui doa-doa dan semangat yang diberikan.

“Mereka selalu memotivasi dan mengingatkan untuk tetap rendah hati,” sebut Dirham.

Bukan hanya mereka, ada juga para guru, pelatih, alumni, dan sahabat-sahabat Dirham yang tidak pernah absen untuk memberi dukungan. Mimpi itu diperjuangkan bersama-sama. 

Kesempatan untuk bermain bersama Brabas di DBL akhirnya tiba pada tahun keduanya. Semua kerja kerasnya membuahkan hasil yang memuaskan. “Sangat bersyukur bisa masuk ke tim dan bermain di DBL tahun ini,” ucap Dirham.

Setelah terpilih, Dirham langsung menjalani latihan enam kali dalam seminggu. “Latihan fisik dan teknik di sekolah masing-masing dua kali, di klub juga dua kali. Semakin dekat dengan DBL, latihan akan semakin intens,” katanya.

Selain itu, Dirham juga aktif melakukan sesi latihan tambahan untuk semakin memperkuat fisik dan shooting-nya. Sebagai pemain yang tergolong pendek, itu merupakan aspek terpenting yang harus dikuasai. 

Dengan demikian, Dirham hadir di GOR Bulungan dengan kekuatan dan persiapan penuh. Meski baru 4 tahun menggeluti basket, kontribusinya di lapangan sudah seperti seseorang yang telah bermain lebih dari 10 tahun. 

***

Pemain pendek bisa tampil gemilang di lapangan basket mana pun.

Sudah ada nama-nama yang berhasil membuktikan hal tersebut di panggung NBA. Muggsy Bouges contohnya. Tingginya hanya 160 cm. Namun, ia bisa bersaing dengan pemain sekelas Michael Jordan dan mampu bertahan hingga 14 tahun di NBA.

Ada juga Nate Robinson. Dengan tinggi 175 cm, ia mampu menjuarai NBA Slam Dunk Contest hingga tiga kali, terbanyak dalam sejarah. Bahkan, Isaiah Thomas, dengan tinggi yang sama, mampu mencatat rata-rata 28,9 poin, dinobatkan sebagai NBA All-Star, dan sempat menjadi salah satu kandidat MVP.

Kita pun sebenarnya tidak perlu melihat jauh-jauh ke Amerika Serikat. Andakara Prastawa (172 cm) dan Yudha Saputera (175 cm) berhasil menjadi andalan Timnas Basket Indonesia. 

Tidak berhenti sampai situ, Andreas Marcellino Bonfilio, mantan bintang SMA St Louis 1 Surabaya, sukses menyabet gelar juara DBL East Java, MVP, dan DBL All-Star secara beruntun (2018 dan 2019) dengan postur 165 cm.

Baca Juga: 7 Tahun Berlalu, Marcellino Bonfilio Kembali ke Sinlui

Maka dari itu, kehebatan di lapangan bukan soal tinggi badan, tetapi soal keberanian. “Heart over height”, kalau kata pepatah. 

Tekad itu tidak pernah hilang dalam diri Dirham. Meski berstatus sebagai pemain cadangan, ia tetap percaya diri bahwa kehebatannya di lapangan patut diperhitungkan.

Terlebih, di laga ini Brabas harus kehilangan salah satu guard andalan mereka, Muhammad Rayhan Putra Pratama, karena cedera. Harus ada seseorang yang mampu bermain lebih produktif untuk mengisi kekosongan itu.

Orang itu bernama Dirham Ramadhan Karaeng.

Dengan sisa waktu 2 menit 45 detik pada kuarter pertama, Dirham akhirnya dipercaya Coach Rimbun Sidahuruk untuk masuk ke lapangan. Brabas hanya tertinggal dua poin dari Knights (16-14). Waktunya memberikan yang terbaik.

Bagaimanapun, ternyata Knights mampu menjaga momentum pertandingan dengan sangat baik. Mereka bahkan sampai unggul 29-21 pada awal kuarter kedua. 

Melihat situasi ini, Dirham tidak tinggal diam. Setelah memanfaatkan pick-and-roll, posisinya terbuka lebar di luar garis busur besar. Tripoinnya melesat mulus untuk memperkecil kedudukan menjadi lima poin (29-24).

Dirham Ramadhan Karaeng mengendalikan bola untuk SMA Pangudi Luhur Jakarta di Fantastic Four Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Jakarta Championship

Baca Juga: Manifesting Berhasil, Srikandi Al Maruf Resmi Melangkah ke Indonesia Arena!

Perjuangan Dirham dan Brabas memang masih panjang. Namun, itu merupakan salah satu tembakan paling krusial di laga ini. Dengan tembakan tersebut, Brabas mampu menstabilkan permainan dan mencegah Knights untuk semakin menjauh. 

Dirham kembali tampil impresif dengan sisa waktu sekitar 4 menit. Setelah melakukan steal, tripoinnya kembali masuk tepat sasaran. Kali ini untuk mengambil alih kedudukan (34-33).

Hal serupa juga terjadi ketika kuarter kedua tersisa 8 detik saja. Dirham sudah dijaga ketat di tengah lapangan. Namun, ia berhasil membuat jarak dengan musuhnya melalui perubahan tempo dalam pergerakan. Ibarat sebuah mobil kencang yang tiba-tiba mengoper ke gigi paling kecil. 

Dirham lantas melakukan step back, dan lagi-lagi berhasil mengeksekusi tripoinnya untuk membuat Brabas unggul dua poin (42-40). Jika diakumulasi, ia telah mengumpulkan 11 poin hanya pada kuarter kedua.

Dirham masih memiliki beragam cara untuk memamerkan ketangkasannya. Dengan sisa waktu 2 menit 30 detik, Dirham memilih untuk melakukan drive ke arah ring.

Pemain yang menjaganya adalah Sebastian Maxwell Chandra. Tingginya 180 cm. Dirham melakukan side step dan gerakan tipuan. Itu berhasil memancing musuhnya untuk melompat. 

Tanpa berlama-lama, Dirham langsung masuk ke paint area. Di sana, ada Nathanael Bonardo Situmorang yang siap mengisi celah dalam pertahanan Knights. Posturnya 22 cm lebih tinggi dari Dirham (187 cm).

Perbedaan tersebut sama sekali tidak membuat Dirham merasa takut. Ia tetap meloncat dan adu fisik dengannya. Bola dilempar menggunakan tangan kiri ke arah papan. Masuk! Brabas unggul 57-51 atas Knights. Pertemuan antara kedua tim ini memiliki potensi untuk lanjut ke if necessary game. 

Baca Juga: Al Maruf Tahan Laju Sapta Eka, If Necessary Pertama di Sektor Putri Tercipta!

Tekad Dirham yang berapi-api ini juga ia tunjukkan di sisi bertahan. Ketika Knights memiliki peluang untuk menyamakan kedudukan, Dirham berusaha keras untuk menjauhkan bintang mereka, Miracle Christiano, dari bola. 

Dirham Ramadhan Karaeng ketika menjaga Miracle Christiano di Fantastic Four Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Jakarta Championship

Bahkan, ketika bola dioper ke arah Miracle, Dirham sudah satu langkah di depan dan mampu mencuri bola tersebut. Aksi-aksi kecil seperti itu menjadi faktor utama Brabas bisa bersaing di laga krusial ini.

Pertandingan akhirnya berlangsung semakin ketat. Dengan sisa waktu 2 menit, Knights dan Brabas memiliki skor seri 71-71. Dirham pun selalu bermain sepanjang kuarter penghujung itu.

Dari yang tahun lalu merasa kurang hebat dibanding teman-temannya, kini Dirham justru menjadi sosok yang sangat diandalkan oleh timnya di panggung yang tinggi dan penuh sorotan.

Mimpi untuk bermain di Final DBL Jakarta dan Indonesia Arena itu bisa diwujudkan pada musim ini. Kemenangan di laga ini bisa mengubah segalanya.

Bola berada di tangan Miracle. Pada detik-detik akhir, ia berencana untuk melakukan isolation dan menjadi penentu pertandingan ini. Di depannya, ada Dirham yang menjaga. Semuanya bermuara pada momen ini. 

Miracle Christiano menembus pertahanan Dirham Ramadhan Karaeng dan SMA Pangudi Luhur Jakarta pada detik-detik akhir

Miracle akhirnya memutuskan untuk menerobos masuk. Dengan begitu, selain Dirham, ia mencoba untuk menarik dua pemain Brabas lain untuk mengepungnya. Miracle akhirnya mendapatkan foul. Satu free throw berhasil ia masukkan. Knights unggul 72-71 dengan sisa waktu 1 detik.

Baca Juga: Coach Liana dan Miracle, Ibu-anak yang Siap Berjuang di Indonesia Arena

Brabas sudah kehabisan timeout. Artinya, mereka harus memasukkan bola dari area belakang lapangan. Bola dioper ke Dirham. Tidak ada pilihan lain. Waktu semakin terbatas. 

Dirham lantas menembak bola jauh dari garis tengah lapangan.

Tembakan itu berhasil diblok oleh Miracle.

Sudah berakhir? Apakah mimpi Dirham dan Brabas musim ini harus sirna begitu saja?

***

Sampai saat ini, momen itu masih membekas dalam pikiran Dirham. Bagaimana tidak, 1 detik itu berhasil mengubah segalanya.

Knights akhirnya berhasil bertahan dari Brabas lagi. Dirham sendiri mencetak total 16 poin, 4 assist, 3 rebound, dan 2 steal. Akurasi tripoinnya 75 persen.

Capaian terbaik Dirham justru diraih dalam pertandingan sebesar ini. Sebelumnya, ia tidak pernah mengumpulkan lebih dari delapan poin di setiap laga.

Saat buzzer terakhir berbunyi, Dirham berjalan sendirian ke ujung lapangan sambil terdiam. Air matanya mulai menetes secara perlahan. Sungguh epilog yang menyayat hati untuk musim pertamanya di DBL.

Perasaan sedih itu semakin tidak terbendung ketika para seniornya mendekat dan memberinya pelukan. Dengan kekalahan ini, ia tahu kakak kelasnya tidak akan bisa merasakan lapangan Final DBL Jakarta di Indonesia Arena.

Dirham Ramadhan Karaeng bersama kakak kelasnya setelah pertandingan Fantastic Four Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Jakarta Championship berakhir

Baca Juga: Bani Afiansyah: Dari Tribun Penonton Menuju Lantai Indonesia Arena

Namun, itu bukan berarti mimpi Brabas langsung padam. Laga ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk perkembangan mereka sebagai tim. Bekal bermanfaat bagi Dirham dan Brabas untuk meneruskan mimpi ke Indonesia Arena pada musim depan.

Dirham telah menunjukkan bahwa kita bisa meraih apa yang kita inginkan asalkan kita berani untuk bermimpi. Terkadang hasilnya memang tidak sesuai ekspektasi. Namun, perjalanan itu juga akan memberikan hal-hal penting yang tidak pernah kita sangka sebelumnya.

Terima kasih atas perjuangan kerasnya, Dirham! Tetap semangat untuk terus mengejar mimpi pada musim berikutnya!

DBL Jakarta Championship 2026 termasuk dalam rangkaian Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 yang mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp. 

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema “100% Indonesia”. Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final.

Baca Juga: Perjalanan Penuh Liku Janice Gentindatu hingga Bermimpi ke Indonesia Arena

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Populer

Roro Ayu Almira dan Mimpi yang Belum Usai Bersama Almode
Bawa Pulang Gelar MVP, Doa Richelle Terjawab Lebih dari Harapannya
Ayasha-Aqylla, Dua Sahabat yang Bertemu Sebagai Rival di Final DBL South Jakarta
DBL Super Teacher: Solekah dan Misi Mentransformasi PJOK Lewat Strength Training
Brandon De Angelo: Dancer Indonesia Punya Peluang Besar ke Kancah Internasional!