DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

MAINMAIN

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Launching Honda DBL 2009
Spontan Keliling Indonesia
Administrator - 04 July 2008
LAUNCHING HONDA DBL 2009: Semakin tahun, kompetisi dikemas semakin profesional. Dari kiri, Victor Chu (NBA Asia), Prajna Murdaya (League), Judhy Goutama (Astra Honda Motor), Azrul Ananda (DBL), Noviantika Na- sution (Ketua PB Perbasi), Thomas More Soeharto (Pro- team), dan Martin Newbery (pemerintah Australia Barat).

Setelah empat tahun sukses di Jawa Timur, Developmental Basketball League mengembangkan sayap ke berbagai daerah lain di Indonesia. Keputusannya dibuat secara spontan, mengejutkan banyak orang.

Tanpa berkembang ke luar dari Jawa Timur, Developmental Basketball League (DBL) mungkin tetap layak disebut sebagai kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia. Bagaimana tidak, pada 2007 saja, jumlah peserta sudah mencapai 220 tim, beranggotakan lebih dari 4.000 orang.

Padahal, itu masih diselenggarakan di Surabaya. Meski peserta sudah berasal dari belasan kota di Jatim, namun penyelenggaraan masih terbatas di Surabaya.

Sebagai perbandingan, ada kompetisi lain yang mengklaim diri sebagai kompetisi nasional. Tapi, kompetisi itu hanya mengunjungi lima kota, menampilkan 30 tim di masing-masing kota. Total pesertanya “hanya” 150 tim.

Ketika DBL 2007 berakhir pada Agustus tahun tersebut, sebenarnya masih belum ada rencana untuk melebarkan kompetisi berkonsep Student Athlete ini keluar dari Jawa Timur. Waktu itu, di pertandingan final di GOR Kertajaya Surabaya, Commissioner Azrul Ananda hanya mengumumkan kalau kompetisi ini hanya membesar di dalam provinsi.

Bahwa Jatim dibagi menjadi dua wilayah untuk season 2008. Sebagian bertanding di Surabaya, sebagian lagi di Malang. 

“Bagi kami, itu saja sebenarnya sudah termasuk perubahan besar,” kenang Azrul Ananda.

Selang beberapa waktu, muncul pembicaraan untuk memperluas kompetisi ini ke wilayah-wilayah lain. Beberapa media di bawah bendera Jawa Pos Group telah mengutarakan keinginan untuk ikut menyelenggarakan DBL.

Kata Azrul, yang menjadi pemikirannya waktu itu adalah kemampuan untuk berkembang. “Ada ungkapan barat, don’t bite more than you can chew. Artinya, jangan terlalu terburu nafsu. Harus sabar dan maju selangkah demi selangkah. Berpikir jangka panjang, bukan jangka pendek,” tuturnya.

Akhirnya, Azrul memutuskan bahwa DBL berkembang ke total sepuluh kota, termasuk Surabaya dan Malang. Berarti, ada delapan kota tambahan untuk 2008. “Waktu itu, kami langsung sadar kalau DBL kembali ke titik nol. Segalanya harus diulang lagi. Karena pola kerja, investasi, dan lain-lainnya berubah total,” jelasnya.

Kru DBL juga sempat syok. Setahu mereka DBL 2008 hanya diselenggarakan di Surabaya dan Malang. “Terus terang kami kaget. Saya sempat bicara dengan teman-teman lain, semua kaget. Tapi DBL harus terus jalan dan berkembang. Setiap tahun memang harus ada perkembangannya,” kenang Donny Rahardian, manager basketball operation DBL Indonesia, yang merupakan ketua panitia ketika DBL kali pertama diselenggarakan pada 2004.

Keputusan sudah dibuat. Tekad sudah bulat. DBL harus berkembang. Penyebaran konsep keluar dari Jatim ini diberi nama “DBL Movement”.

Dari awal, semua kru DBL sadar bahwa DBL Movement bukanlah program yang mudah. Juga bukan program yang murah.

Sejak awal, kemasan event ini memang dibuat seprofesional mungkin. Bahkan dianggap lebih profesional dari even profesional yang ada.

Kendala lain: DBL dari awal punya komitmen tidak menerima sponsor rokok, minuman berenergi, dan minuman beralkohol. Padahal, kebanyakan liga olahraga di Indonesia dimanjakan oleh uang rokok. 

“Bukan hanya itu, selama ini liga dengan skala sebesar ini biasanya dimulai dari Jakarta. Sementara kami dari Surabaya, dan kami tidak punya rencana menyelenggarakan DBL di Jakarta,” kata Azrul. 

Beruntung, ada Astra Honda Motor (AHM).

Sejak 2007, DBL sebenarnya sudah mendapat support dari Honda. Pihak MPM Motor, main dealer Honda di Jawa Timur, sudah rutin menjadi pendukung event-event Jawa Pos. Namun, untuk mengembangkan liga ini ke kota-kota lain, harus ada komitmen jauh lebih besar.

“Dalam hal ini, kami sangat berterima kasih kepada Pak Suwito dan Dendy Sean T dari MPM Motor. Mereka yang serius bercerita ke Jakarta mempromosikan program kami. Mereka yang membantu membukakan pintu,” kenang Azrul.

Suwito, direktur MPM Motor, ikut mengenang momen “tunangan” antara DBL dan Honda pada 2007 lalu. “Ketika itu kami mengundang teman-teman dari AHM untuk ikut menyaksikan final DBL. Menunjukkan bahwa di Surabaya ada even yang luar biasa, yang mengajak anak muda untuk terlibat secara penuh. Ternyata, final 2007 itu membuat teman-teman AHM merinding. Dan ternyata, ada keinginan dari DBL untuk mengembangkan event ini ke seluruh Indonesia. Jadi langsung ada kecocokan,” tutur Suwito.

Ketika bertemu dengan AHM, ternyata memang tidak perlu waktu lama untuk menemukan kesamaan visi. Judhy Goutama, senior manager promotion and network development AHM, bersama timnya antusias dalam memberikan dukungan.

Honda pun menjadi partner Jawa Pos Group dalam mengembangkan DBL. Mulai 2008, kompetisi ini pun dikenal sebagai Honda DBL.

“Honda merupakan partner yang perfect untuk mengawali DBL Movement. Sebagai produsen motor nomor satu di Indonesia, mereka punya jaringan luas di seluruh wilayah Indonesia. Jaringan ini lantas bekerja sama dengan jaringan Jawa Pos Group, yang juga tersebar dari Aceh sampai Papua,” jelas Azrul.

Semula, Honda DBL 2008 hanya akan diselenggarakan di sepuluh kota, di sembilan provinsi. Yaitu di Mataram, Palembang, Pekanbaru, Banjarmasin, Pontianak, Manado, Makassar, Semarang, baru kemudian Malang dan Surabaya.

Setelah beberapa kali pertemuan dengan Astra Honda Motor, akhirnya diputuskan bahwa Honda DBL 2008 juga diselenggarakan di Jogjakarta. Berarti, total menjadi 11 kota di sepuluh provinsi. 

Dari awal, panitia sudah berniat memulai movement di Mataram, di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bagi kebanyakan orang, pilihan ini mungkin dianggap aneh. Namun bagi Azrul Ananda dan tim DBL, ini merupakan pilihan terbaik.

“Mataram kami gunakan sebagai training camp panitia inti. Semua kru berkumpul di Lombok, menyelesaikan event pertama bersama-sama. Pelajaran dari Mataram kami gunakan sebagai modal saat tim berpisah di kota-kota lain,” jelas Masany Audri, general manager DBL Indonesia.

Azrul menjelaskan, Mataram bukanlah kota yang terlalu besar, tapi memiliki fasilitas basket mumpuni. Peserta tidak terlalu banyak, tapi antusiasme cukup tinggi.

“Cocok untuk eksperimen konsep kami di luar Surabaya. Beban tidak terlalu besar, namun cukup memberi tantangan-tantangan yang kemudian memang benar-benar kami hadapi di kota-kota lain,” paparnya.

Selama keliling Indonesia, kru utama dari Surabaya tidaklah banyak. Hanya tiga sampai lima orang di setiap kota. Lainnya panitia lokal, dari koran Jawa Pos Group di daerah yang dikunjungi.

Kerja keras memang, tapi memang itulah esensi dari kesuksesan DBL sejak kali pertama diselenggarakan pada 2004. “Kami terbiasa mengerjakan segalanya sendiri. Jadi kami hapal betul bagaimana mengembangkan kompetisi dari hulu sampai hilir. Kami berterima kasih kepada teman-teman Jawa Pos Group dan main dealer Honda di kota-kota yang kami kunjungi. Semua telah memberi dukungan luar biasa,” ucap Elfira Ahsanti Mahda, yang kala itu menjabat sebagai manager event and entertainment DBL Indonesia.

Tidak terasa, Honda DBL 2008 berakhir di Surabaya. Jumlah peserta pun membeludak. Total mencapai 631 tim, beranggotakan 13.221 peserta. Jumlah penonton pun luar biasa, menembus angka 212 ribu orang.

Di Indonesia, belum pernah ada kompetisi pelajar sebesar ini. Bahkan mungkin, belum pernah ada kompetisi basket di tingkat apa pun yang sebesar ini.

Pada Juli 2008, sebelum kompetisi berakhir di Surabaya, pihak Astra Honda Motor dan DBL sudah sepakat untuk melanjutkan partnership hingga 2009. 

Honda DBL 2009 pun meluas. Belajar dari 2008, kompetisi ini kemudian berkembang ke lima kota tambahan. Dari Jayapura di ujung timur, Denpasar, Bandung, Bandar Lampung, dan Samarinda. Total peserta semula diperkirakan di angka 750 tim dan 16 ribuan peserta. Ternyata, jumlahnya justru berada di kisaran 850 tim dan 20 ribuan peserta, dengan penonton sekitar 350 ribu orang!

“Di Indonesia, belum pernah ada program pengembangan basket sebesar Honda DBL. Mungkin untuk kali pertama, ada standar kompetisi SMA yang sama dan konsisten di berbagai wilayah di Indonesia,” ucap Azrul.

Pada 7 Mei 2009 lalu, Honda DBL pun mendapatkan pengakuan. Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri) menganugerahkan penghargaan kompetisi pelajar terbesar kepada DBL Indonesia, Jawa Pos Group, dan Astra Honda Motor.

Penghargaan diumumkan oleh Jaya Suprana, ketua umum Muri, lalu diserahkan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault dalam acara khusus di Jakarta, kepada Azrul Ananda, Judhy Goutama, dan Kristianto (senior general manager corporate communication Astra Honda Motor). 

”Ternyata berita kehebohan Honda DBL 2009 sudah menjadi word of mouth di antara masyarakat, hingga dipromosikan dan sampai juga ke Bapak Jaya Suprana dari Muri, sehingga Muri berinisiatif memberikan penghargaan yang membanggakan ini,” ucap Judhy.

Dalam acara itu, Adhyaksa Dault menyampaikan apresiasinya terhadap upaya Honda DBL mengembangkan olahraga di tanah air.“Event DBL sudah tidak perlu diragukan lagi. Sangat membantu perkembangan olahraga, khususnya basket. Saya senang, karena DBL bisa berkembang dengan bantuan swasta, tidak menggantungkan pada pemerintah,” kata Adhyaksa Dault.(*)

  RELATED ARTICLES