ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

MAINMAIN

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Catatan Azrul Ananda
Mengapa DBL?
Administrator - 04 July 2009

 

MENGAPA DetEksi Basketball League alias DBL harus digelar? Apa gunanya buat para peserta, yang jumlahnya pada 2009 ini mendekati 1.000 tim, melibatkan lebih dari 20 ribu peserta di 16 kota di Indonesia?

Pertama karena prestasi Indonesia dalam hal bola basket sangat memprihatinkan. Bahkan, di Asia Tenggara pun belum terlalu masuk hitungan.

Ha ha ha..

Kedua, karena di dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula.

Ho ho ho...

Ketiga, untuk mengisi kegiatan di luar sekolah, biar anak-anak tidak melakukan hal-hal yang negatif.

Hi hi hi... 

Bukan, bukan itu tujuan utama digelarnya DBL. Ketiga alasan di atas baik semua, dan kalau itu digunakan untuk menjawab pertanyaan PPKn, Anda bakal mendapat nilai sepuluh.

Alasan dilangsungkannya basket antar sekolah ini tidak semuluk itu. Ya, mungkin nantinya sampai ke sana. Tapi itu jauuuuuuuuuh di sana. 

Alasannya tidak tinggi di langit, melainkan rendah di tanah. Ketika technical meeting pertama DBL pada 2004 dulu, saya selalu ingatkan bahwa DBL ini bukan hanya untuk menang-menangan, bukan hanya untuk jaga gengsi antar sekolah. Hebatnya pertandingan bukanlah selling point. Pemain bintang bukanlah tontonan utama.

Apa yang penting? Fun dan experience!

Tidak muluk-muluk bukan? Karena kalau targetnya jauh di langit, orang jadi memikirkan betapa jauhnya jarak yang memisahkan, dan itu membuat mereka enggan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk ke puncak.

Kalau targetnya rendah di darat. Makin banyak orang bisa mencobanya. Dan, semakin banyak orang bisa merasakannya, nantinya semakin banyak pula yang tahu-tahu sudah sampai di langit.

Ketika membawa tim DBL Indonesia All-Star ke Perth, Australia, Oktober 2008 lalu, saya mendapat pembenaran dari niatan awal ini. Partisipasi adalah nomor satu, karena partisipasi-lah yang menghidupkan sebuah event. Baik berpartisipasi sebagai peserta maupun sebagai penonton.

Soal prestasi, kalau partisipasinya sudah membeludak dan serius, akan datang dengan sendirinya.

Jujur saja, ide DBL ini didapat dari Amerika, sudah dipendam sejak lama. Sejak saya masih SMA di Ellinwood High School, Kansas, 1993-1994. Betapa enaknya jadi anak SMA di sana. Pertandingan antar sekolahnya berlangsung konsisten dengan arah yang jelas. Tidak ada gangguan pihak-pihak “profesional,” yang justru bisa membuat kompetisi tidak berkembang, bahkan rusak. Benar-benar anak SMA lawan anak SMA, dengan dukungan penuh dari sekolah dan keluarga.

Bukan hanya itu. Jurnalis sekolah pun aktif di sana. Kebetulan, saya bukan atlet. Waktu SMA di Ellinwood dulu, saya fotografer sekolah. Asyik (fun) sekali rasanya (experience), jadi fotografer tim basket yang ikut keliling mengunjungi sekolah atau kota lawan.

Satu lagi alasan mengapa DBL harus diselenggarakan. Dan, saya akui ini agak muluk. Tapi ini bukan target langsung DBL, melainkan target jangka panjangnya.

Pernahkah Anda berpikir, seperti apa Indonesia lima sampai sepuluh tahun lagi? Seperti apakah interaksi antar masyarakatnya, lima sampai sepuluh tahun lagi? 

Sekarang, kelompok orang tertentu tinggal di kawasan tertentu. Kelompok lainnya terpusat di kawasan yang lain. Sekelompok anak dan kelompok tertentu itu, disekolahkan di sekolah tertentu di kawasan tertentu. Sedangkan sekelompok anak dari kelompok yang disekolahkan di sekolah yang lain di kawasan yang lain pula. 

Dari SD sampai SMA, bahkan perguruan tinggi. Orang nyaris tak pernah berinteraksi. Menurut saya, ini lebih dari sekadar kesenjangan ekonomi. Dan, kesenjangan ini bisa mengerikan di masa mendatang.

Orang tua anak itu mungkin memang punya opini tertentu (bisa miring dan mencibir) kepada kalangan yang berbeda. Dan sebaliknya. Tapi, apakah anaknya punya opini yang sama? I don’t think so.

Nah, DBL bisa menjadi jembatannya.

Kapan lagi puluhan ribu anak dari hampir ribuan sekolah berkumpul dan bertemu di tempat yang sama? Kapan lagi mereka berkompetisi di ajang yang sama? 

Tak banyak kesempatan untuk itu. Tak banyak kesempatan untuk saling mengenal, saling menyayang. Tapi, itu semua jauuuuuuuuh di masa mendatang. Sekarang, sambil terus mengembangkan DBL ini, yang penting having fun dan experience dulu saja.()

  RELATED ARTICLES
Comments (0)