ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

dr. Rika Haryono dari Unika Atma Jaya saat mengunjungi DBL Camp 2026

Kerja sama DBL Indonesia dengan Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya dan Universitas Indonesia menjadi langkah strategis dalam mengembangkan dunia olahraga. Terutama untuk pembinaan atlet muda agar lebih terarah dan berbasis data yang akurat.

DBL mengundang spesialis kedokteran olahraga melakukan kunjungan dan observasi di DBL Camp 2026. Perwakilan FK Unika Atma Jaya dan UI melihat langsung proses pengukuran dan tes medis pada Senin (28/4) di DBL Academy Jakarta East.

Menurut dr. Rika Haryono dari Unika Atma Jaya, kolaborasi ini membuka peluang besar bagi institusi pendidikan untuk memiliki tempat melakukan proses pembelajaran.

“Kami butuh untuk terjun secara langsung ke masyarakat. DBL menjadi salah satu sebagai yang komprehensif sehingga kami bisa punya media yang mumpuni dan membuat proses pembelajaran jadi bagus,” ujar Rika.

Baca juga: Waspada Asimetri Otot! Dr. Tommy Pantau Risiko Cedera Campers Lewat VALD

Dengan kolaborasi dengan DBL Camp 2026, mahasiswa spesialis kedokteran olahraga bisa terlibat langsung dalam praktek di lapangan. Ini menjadi langkah karena memberikan pengalaman komprehensif. Mulai dari observasi hingga analisis kondisi atlet secara langsung.

Tahun ini DBL menghadirkan teknologi baru untuk pengukuran dari Vald Performance. Yakni Norbord untuk mengukur kekuatan otot hamstring, force frame untuk membedah kekuatan otot kaki secara isometrik, dan force decks untuk mengukur tinggi lompatan hingga tenaga saat mendarat.

Data-data dari hasil pengukuran dan berbagai tes itu menjadi dasar untuk merancang program latihan yang tepat. Data-data yang dihimpun juga mencangkup profil berdasarkan usia, daerah, hingga kondisi fisik awal.

Baca juga: DBL Camp 2026 Gunakan Teknologi VALD, Bisa Monitor Fisik dan Cegah Cedera

Menurut Rika, tanpa data dasar yang jelas, proses pembinaan atlet berisiko tidak efektif. Jika standar yang digunakan terlalu tingga tanpa memahami kemampuan awal atlet, target performa sulit tercapai.

Sebaliknya, dengan pemahaman yang tepat terhadap pondasi kemampuan dan kondisi awal atlet, proses akselerasi peningkatan performa bisa berjalan lebih optimal.

Salah satu fokus dalam kerja sama ini adalah pencegahan cedera. Cedera seringkali menjadi hambatan besar dalam karier atlet. Pendekatan preventif menjadi prioritas. Mulai dari metode dan sistem pelatihan.

Lebih lanjut, Rika memiliki harapan pada kontribusi dunia akademik. Khususnya lulusan kedokteran olahraga. Tahun ini jumlah dokter spesialis olahraga di Indonesia kurang dari 150 orang.

“Harapannya semua bisa mendapat manfaat. Lulusan kedokteran olahraga bisa berkecimpung seperti dr. Tommy. Kemudian semakin banyak generasi muda yang membantu sehingga olahraga meningkat,” imbuh perempuan 57 tahun itu. (rag)

Baca juga: Tinggalkan Beep Test, DBL Camp 2026 Terapkan Yo-Yo Test yang Lebih Relevan

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL PARTNERS
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS
MANAGED BY