Jauh sebelum paham betul bagaimana cara membaca situasi dan menemukan titik kelemahan musuh di lapangan, Praisey Blessed dan Miracle Christiano mengambil sebuah kotak di rumah mereka.
Kotak itu kosong, hampa, dan tidak ada artinya. Dari perawakannya, benda itu seperti hanya akan digunakan untuk menampung barang-barang usang, atau bahkan dibuang.
Namun, Eci dan Ano -sapaan akrab mereka- mengubahnya menjadi kotak penuh harapan.
Mereka menuliskan apa mimpi terbesar mereka dalam sebuah kertas dan menaruhnya ke dalam kotak tersebut. Dengan wajah kegirangan dan penuh senyuman, Eci dan Ano lantas menaruhnya di tempat yang tersembunyi.
Tanpa mereka sadari, sang ibu, Liana Rosmasari, telah mengamati gerak-gerik mereka dari jauh. Ia tahu di mana kotak itu diletakkan.
Akan tetapi, Liana memutuskan untuk menahan diri dan tidak membuka kotak itu. Ia ingin melihat bagaimana dinamika kehidupan akan membentuk kedua anaknya.
Baca juga: Rahasia Joanne Giovanni Atasi Kejenuhan Bermain Basket
Tahun demi tahun berlalu, kini Eci dan Ano telah membawa pulang banyak prestasi membanggakan dalam olahraga basket di usia muda mereka.
Dua gelar juara Honda DBL with Kopi Good Day West Java berhasil Eci genggam bersama SMA BPK Penabur Cirebon. Bukan hanya itu, namanya juga dinobatkan sebagai pemain terbaik (MVP) Kopi Good Day DBL Camp 2024 serta DBL West Java 2024.
Di sisi lain, Ano yang berstatus sebagai freshman musim lalu memegang peran krusial dalam membawa SMA Raffles Christian School menduduki takhta tertinggi Honda DBL with Kopi Good Day 2025 South Jakarta.
Panggung Kopi Good Day DBL Camp 2026 di Grand Atrium Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan pada 3 Mei 2026 pun menjadi saksi bisu perjuangan Eci dan Ano dalam mengejar puncak prestasi mereka sebagai sepasang saudara.

Keceriaan Miracle Christiano dan Praisey Blessed setelah terpilih masuk ke dalam skuad Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026
Kedua nama mereka terpilih masuk ke dalam jajaran Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026. MVP DBL Camp 2026 pun jatuh di tangan Ano, menjadikannya bersama Eci sebagai satu-satunya kakak-adik yang sukses menyabet gelar tersebut.
Liana ada di sana untuk menyaksikan segalanya. “Gila, gue berhasil,” ucapnya dalam hati.
Membimbing dan membesarkan dua anak hingga mencapai titik tertinggi sebagai student-athlete Indonesia tentu bukanlah hal yang mudah. Kata “berhasil” sepertinya terlalu sederhana untuk menggambarkan perjuangannya sebagai ibu.
Menyadari kehebatan Eci dan Ano saat ini, Liana akhirnya merasa bahwa sudah waktunya untuk mencari tahu apa yang mereka tulis dalam kotak tersembunyi itu.
“Kita pengin basket di Amerika.”
Seluruh keluhan, tetesan air mata, gaya hidup ketat, dan ribuan jam di lapangan tidak berakhir sia-sia. Setelah membaca tulisan itu, Liana hanya bisa tertawa, menyadari bahwa sifat ambisiusnya menurun kepada anak-anaknya.
Menimba ilmu di Amerika Serikat memang merupakan cita-cita Eci dan Ano saat kecil. Namun, mereka mau lebih dari itu. Mereka juga ingin memiliki karier yang gemilang di sana. “Itu memang mimpinya mereka,” tutur Liana.
Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan perjuangan yang tentunya jauh lebih besar. Selain berproses dan tampil mentereng di lapangan DBL, Eci dan Ano juga terus berkomitmen untuk mengasah potensi mereka dengan mengikuti lebih banyak kompetisi dan training camp di berbagai tingkatan.
Rasa lelah akhirnya semakin sulit untuk dihindari. Bahkan, perasaan itu bisa membuat seseorang semakin terpuruk jika ditambah dengan munculnya peristiwa buruk yang di luar kendali, seperti cedera ACL yang diderita Eci pada 2025 lalu.
Baca juga: Cara Sederhana Inez Angelina Welly Usir Jenuh di Tengah Rutinitas Padat
Isi pikiran Eci campur aduk. Apakah dia bisa bangkit lagi? Atau ini akan menjadi epilog pahit dalam ceritanya di dunia basket? Cedera itu akhirnya tidak hanya berdampak terhadap fisik Eci saja. Ia juga menjadi takut. Terpukul.

Momen Praisey Blessed dan ibunya, Liana Rosmasari, berpelukan setelah sesi scrimmage game Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026 berakhir pada hari ketiga training camp di DBL Academy East Jakarta
Di momen inilah kehadiran sang ibu menjadi obat paling ampuh untuk membuat Eci sepenuhnya pulih. “Saya sempat janji sama dia, I will be there for you. Selama 2 bulan itu sampai ngekos di dekat Eka Hospital karena saya perlu dampingi pagi dan sore untuk rehab,” cerita Liana.
“Kamu commit ini (pulih dari cedera), ayo sama Mama. Mama gak kerja tidak apa-apa, yang penting kamu mau semua ini harus kita jalani,” tegasnya kepada Eci.
Selain itu, ada juga satu kalimat dari Liana yang selalu melekat dalam diri Eci agar terbebas dari tekanan, “Kamu tuh tetap anak kesayangan Mama.”
Ketika Eci merasa letih, Liana pun selalu berusaha menanggapi situasi itu secepat mungkin.
“Aku pergi ya, sama Mama.”
“Ma, jalan yuk, Ma. Makan yuk.”
“Yaudah, jam berapa? Mama anterin.”
Baca juga: Chimaobi Bertaruh Jarak Bekasi-Jakarta Sebelum Terpilih DBL All-Star dan Timnas
Dukungan yang luar biasa juga Liana berikan kepada Ano. Berbeda dengan Eci, cowok bertinggi badan 117 cm itu tidak pernah merasa jenuh dalam kondisi apa pun. “Emang dia darahnya udah basket banget,” sebut Liana.
Oleh karena itu, Liana memiliki tugas penting untuk memastikan kelengkapan barang-barang Ano. “Kan dia selalu bawa tumbler, bawa protein, bawa kreatin kalau perlu. Jadi saya selalu seperti, ‘Dik, jangan lupa semua yang diperluin selalu ada dalam satu tas,’” tuturnya.

Momen Miracle Christiano dan ibu sekaligus pelatihnya, Liana Rosmasari, di Honda DBL with Kopi Good Day 2025 South Jakarta
Jadwal-jadwal padat Ano di lapangan pun dikelola oleh Liana setiap harinya agar keseharian serta performanya jadi semakin efektif.
“Mama, aku habis ini (ada pertandingan) ini ya, habis ini (ada pertandingan) itu ya.”
“Dik, pertandingan ini gak usah, ya. Hari ini ada (scrimmage game) All-Star. You choose this one. Ini prioritas.”
Lebih lanjut, Liana juga meminta saran dari ahli gizi serta rekan-rekan pelatihnya untuk mengoptimalkan asupan nutrisi Ano sebagai student-athlete. “Benar-benar no sugar. Makanan asin juga gak mau, jadi makannya direbus,” jelasnya.
Peran Liana sebagai ibu juga tidak bisa diremehkan dalam menjaga kebugaran mereka di lapangan. Liana tidak pernah lupa untuk menambahkan sesi conditioning dalam program latihan mingguan Eci dan Ano. Setiap selesai beraktivitas, ice bath selalu disediakan untuk mempercepat proses pemulihan mereka.
Baca juga: Cinta Tulus Bung Towel Antar Inez Kejar Prestasi sampai Amerika
Liana memang selalu maksimal dalam mempersiapkan Eci dan Ano untuk menghadapi segalanya. Namun, saat sudah waktunya beraksi, ia justru hanya mendatangi beberapa pertandingan saja.
Itu bukan berarti Liana tidak ingin menjadi pendamping di tengah kesibukan mereka. Eci dan Ano sering merasa kalau mereka bisa memberikan hasil yang terbaik tanpa dukungan khusus.
Meski begitu, tetap ada saatnya ketika Eci dan Ano membutuhkan kehadiran Liana. Pelukan hangat dari sang ibu sudah cukup untuk menenangkan mereka.
Sosok Liana akan selalu menemani Eci dan Ano, bahkan saat mereka tidak berada di satu tempat yang sama.
Sebab, seluruh prestasi, talenta, dan mentalitas yang mereka miliki sekarang merupakan buah dari kasih sayang Liana yang tiada habisnya sebagai seorang ibu.
Andai dua bocah itu bisa melihat masa depan, mungkin mereka tidak akan percaya bahwa tulisan di kotak tersembunyi itu akan menjadi kenyataan.
Kopi Good Day DBL Camp 2026 sukses diselenggarakan pada 27 April hingga 3 Mei 2026 silam. Kini, barisan pemain dan pelatih terbaik yang berhasil menyandang predikat Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026 tengah bersiap untuk bertolak ke Amerika Serikat pada Juli 2026.
Selama di Amerika Serikat, skuad elite ini tidak hanya akan belajar dan berlatih bersama jajaran pelatih top NBA, tetapi juga akan menguji kemampuan mereka dalam turnamen basket level pelajar setempat. (*)
Baca juga: Filosofi Bersyukur Bawa Kartika Hatta Bangkit dari Titik Terendah Karier
Kalian bisa memantau seluruh update terkait Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026 pada laman di bawah ini