ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Grizelda Vallerie Jesslyne (nomor punggung 1), pemain SMA Petra 4 Sidoarjo, membawa bola saat menghadapi SMAN 2 Surabaya pada Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North di DBL Arena Surabaya, Rabu, 9 September 2026.

Ada masa ketika bola basket justru menjadi sesuatu yang ingin dihindari Grizelda Vallerie Jesslyne. Kini, ajakan sederhana seorang teman itu telah membawanya jauh lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.

Hal tersebut terlihat ketika SMA Petra 4 Sidoarjo menghadapi SMAN 2 Surabaya pada Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, Rabu, 9 September 2026. Vallerie beberapa kali muncul di antara pemain yang berusaha mengamankan bola.

Pada pertandingan itu, Vallerie mencatat 4 poin, dan 7 rebound. Sebanyak enam dari perolehan rebound-nya merupakan offensive rebound.

Baca juga: Coach Felix Sambut Baik Regulasi 1-on-1 Free Throw Rule di DBL East Java-North

Buat Vallerie, mengambil rebound memang sudah menjadi salah satu bagian dari tugasnya ketika berada di lapangan. Ia terbiasa mencari posisi di sekitar ring dan berusaha mendapatkan bola kedua untuk Petra 4.

"Memang bagian itu. Kalau misalnya ada bola yang mental dari ring, aku memang harus siap cari bolanya. Kadang bisa dapat, kadang juga masih suka kelewatan karena terlalu buru-buru," ujar Vallerie.

Ada satu hal yang masih ingin ia perbaiki dari situ. Ketika berhasil mendapatkan rebound di bawah ring, Vallerie merasa dirinya terkadang terlalu terburu-buru sehingga kesempatan untuk melanjutkan menjadi poin justru hilang.

Grizelda Vallerie Jesslyne (nomor punggung 1), pemain SMA Petra 4 Sidoarjo, berusaha mengambil posisi di bawah ring saat menghadapi SMAN 2 Surabaya pada Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North di DBL Arena Surabaya.

"Kadang kalau sudah dapat rebound itu aku masih gopoh. Kayak pengin langsung masukin bolanya, padahal harusnya mungkin lebih tenang dulu. Jadi finishing-nya juga masih harus banyak belajar," lanjutnya.

Namun, cerita tentang Vallerie bukan sebenarnya tentang bagaimana ia menjadi pemain yang kuat dalam mengambil rebound. Yang lebih menarik adalah bagaimana ia bisa sampai di titik tersebut.

Baca juga: Kisah Kennard dan Kayleen, Kakak Adik yang Raih Mimpi Bersama untuk Petra 1

Ketika akan naik kelas VII, Vallerie mengenal basket setelah diajak seorang teman untuk masuk klub. Namun, sang teman justru memilih mundur dan melanjutkan olahraga karate. Vallerie yang awalnya hanya ikut mencoba malah memutuskan untuk terus berlatih.

Di saat yang sama, papanya juga sempat menawarkan Vallerie untuk belajar basket. Hanya saja, ketika itu Vallerie masih sangat takut dengan bola.

Keinginan untuk benar-benar menekuni basket akhirnya muncul dari dalam dirinya sendiri. Tidak ada paksaan dari orang tua untuk menjadikan basket sebagai pilihannya.

"Awalnya gara-gara teman ngajak. Aku sebenarnya waktu itu nggak yang langsung suka basket. Malah dulu takut sama bolanya. Jadi pas diajak itu awalnya kayak coba-coba saja, penasaran juga sebenarnya," cerita Vallerie.

Rasa penasaran tersebut kemudian berubah menjadi keinginan untuk belajar. Papa Vallerie pun mulai mengajarinya secara bertahap dari rumah.

Latihan itu berlangsung sederhana. Dari atas rooftop rumah, Vallerie belajar mengenal bola, melakukan dribble, passing, hingga perlahan memahami permainan basket.

Papanya bahkan membuatkan ring sederhana di tembok rumah agar Vallerie memiliki tempat untuk berlatih. Dari sana, latihan dilakukan dengan tekun dan konsisten hingga Vallerie berkembang dari pemain pemula, masuk kelompok usia, kemudian melanjutkan latihan di klub sampai sekarang.

Baca juga: Kembali Melantai Usai Cedera, Kennard Susanto Bangun Kepercayaan Diri

Grizelda Vallerie Jesslyne berlatih basket bersama papanya di rooftop rumah, mulai dari mengenal bola hingga mengembangkan kemampuan dasar permainan. (Foto: Dokumentasi Pribadi Papa Vallerie)

Perjalanan tersebut membuat sang papa melihat perubahan yang sangat jauh dalam diri Vallerie. Anak yang dulu bahkan takut dengan bola kini sudah berani melakukan dribble, drive, defense, shooting, finishing, hingga mencoba tembakan tiga angka.

Namun, prosesnya tidak selalu berjalan mulus.

Di klub, Vallerie memang rajin mengikuti latihan. Akan tetapi, ketika pertandingan tiba, ia lebih sering berada di bangku cadangan. Ada kalanya ia tidak bermain sama sekali atau hanya mendapat sedikit kesempatan bermain.

Perubahan besar justru datang ketika Vallerie duduk di kelas X.

Ia berhasil mendapatkan kesempatan masuk starting five sekaligus memperoleh beasiswa di salah satu sekolah yang menjadi pilihannya. Bagi papanya, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa latihan yang selama ini dijalani Vallerie mulai membuahkan hasil.

Bermain di DBL Arena pun sebenarnya sudah cukup membuat sang papa bangga. Namun, melihat putrinya dipercaya menjadi starting five di DBL menjadi sesuatu yang bahkan berada di luar dugaannya.

"Papa sudah bangga bisa lihat Vallerie main di DBL Arena. Apalagi bisa jadi starting five di DBL. Itu sungguh di luar dugaan Papa. Buat Papa, ini bukti dari hasil kerja keras Vallerie," ujar sang papa.

Baca juga: Putra Sinlui Tak Larut dalam Tekanan, Fokus Siapkan Diri Jelang Laga

Cerita tentang perjalanan tersebut juga pernah diabadikan sang mama melalui unggahan di Instagram. Ia menceritakan bagaimana awal perjalanan Vallerie bermula dari bola basket bekas dan ring buatan Papa di atas rooftop rumah.

Ada pula satu kalimat dari Papa yang selalu diingat ketika Vallerie merasa lelah atau mengalami kegagalan.

"Berdiri lagi, anak Papa nggak boleh menyerah."

Papa memang bukan pelatih profesional. Ia hanya seseorang yang pernah bermain basket ketika masih muda di Banyuwangi dan kemudian memilih menjadi orang pertama yang menemani putrinya belajar.

Kini, peran tersebut terus berlanjut. Setelah pertandingan, Papa juga kerap memberikan evaluasi kepada Vallerie. Bahkan, pertandingan yang sudah dilalui terkadang kembali ditonton bersama untuk melihat bagian mana yang masih harus diperbaiki.

Dari situ, basket tidak lagi sekadar olahraga yang dimainkan Vallerie. Ada latihan di rumah, evaluasi setelah pertandingan, dan perjalanan panjang yang dijalani bersama keluarga.

Baca juga: Belajar dari Kesalahan, Putra Cheetah East Siap Tampil dengan Mental Baru

Musim ini juga menjadi pengalaman pertama Vallerie bermain di DBL. Sebagai pemain kelas X, ia datang dengan rasa penasaran yang sudah muncul bahkan sebelum menginjakkan kaki di lapangan pertandingan.

"Serius sih, sebenarnya nggak sabar. Aku penasaran banget sama vibes-nya. Soalnya selama ini kan cuma lihat atau dengar dari orang. Pas tahu bakal main di DBL, aku jadi mikir bakal kayak apa suasananya, penontonnya, terus pertandingan di sini rasanya bagaimana," tuturnya.

Tiga pertandingan yang sudah dijalani musim ini membuat Vallerie mulai memahami bahwa bermain di DBL bukan sekadar soal keberanian untuk turun ke lapangan.

Grizelda Vallerie Jesslyne (nomor punggung 1), pemain SMA Petra 4 Sidoarjo, berusaha menguasai bola saat menghadapi SMAN 2 Surabaya pada Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North di DBL Arena Surabaya.

Ia mulai belajar membaca permainan, menjaga kondisi fisik, memilih kapan harus bergerak cepat, dan kapan harus lebih tenang. Memasuki Round 2, ia merasa setiap kesalahan kecil bisa langsung terlihat.

"Kalau sekarang kan sudah nggak boleh main-main. Salah sedikit saja bisa langsung kelihatan. Jadi sekarang lebih mikir juga sebelum ambil keputusan, nggak bisa asal maju atau asal buru-buru," ujarnya.

Pertandingan hari ini kembali memberikan Vallerie beberapa catatan. Ia merasa masih terlambat ketika harus menutup pergerakan lawan dan terkadang kurang cepat membantu pertahanan.

Vallerie tahu perjalanannya masih panjang. Ia masih ingin memperbaiki finishing, menambah kekuatan fisik, mengatur tempo permainan, dan membuat defense-nya lebih konsisten.

"Masih banyak banget yang harus diperbaiki. Fisik juga harus ditambah, finishing harus lebih tenang, terus tempo permainan juga. Defense kadang sudah bagus, tapi kadang masih suka telat. Jadi masih banyak yang harus dibenahi,” katanya.

Baca juga: Cara Aliqa Quinsha Dorong Skill Individu demi Performa Putri Smada

Ada satu hal lain yang membuat perjalanan Vallerie di DBL tahun ini terasa semakin istimewa bagi keluarganya.

Bukan hanya Vallerie yang ikut ambil bagian. Sang kakak juga hadir di ajang DBL melalui tim dance. Tahun ini, kedua anaknya sama-sama membawa peran masing-masing ke DBL Arena. Sang kakak lewat dance, sementara Vallerie lewat basket.

Bagi keluarga, keduanya menjadi cerita yang sama-sama membanggakan.

Sang papa pun berharap perjalanan Vallerie sebagai student-athlete terus berkembang. Bukan hanya mengejar prestasi di lapangan, tetapi juga tetap berusaha berprestasi di bidang akademik.

"Papa berharap Vallerie dalam dunia basket semakin berkembang dan meraih prestasi sebagai student-athlete. Bisa berprestasi dalam akademik maupun nonakademik," ujar sang papa.

Hari ini mungkin belum menjadi penampilan yang maksimal bagi Vallerie. Namun, sang papa percaya proses panjang yang dijalani dengan tekun dan konsisten pada akhirnya akan memberikan hasil.

"Walaupun hari ini belum maksimal, Papa percaya dengan konsisten, tekun berlatih, mau belajar dan dikoreksi, pasti ada hasil."

Baca juga: Jennifer Christy Pimpin Perjuangan Putri NSA!

Jika melihat kembali ke awal semuanya, rasanya cukup jauh perjalanan yang sudah ditempuh Vallerie.

Dulu, ia takut ketika sebuah bola basket datang ke arahnya. Sekarang, ia justru berdiri di bawah ring, berusaha mengambil bola pantul, dan bahkan dipercaya menjadi starting five di DBL Arena.

Di perjalanan itu ada seorang teman yang mengenalkannya pada basket. Ada seorang mama yang mendukung pilihannya. Dan ada seorang papa yang sabar mengajarinya dari atas rooftop rumah dengan sebuah ring sederhana di tembok.

Basket yang awalnya hanya sebuah ajakan sederhana akhirnya menjadi cerita yang terus tumbuh. Kali ini, cerita itu membawa Vallerie sampai ke DBL bersama Petra 4, dengan Papa yang tetap berdiri di sisinya sebagai support system.

Pesan sang papa pun sederhana. Vallerie diminta untuk tetap rendah hati, percaya pada dirinya sendiri, rajin berlatih dan tidak lupa berdoa.

Sebab, bagi Papa, tugas orang tua bukan menentukan sejauh mana anak harus melangkah. Mereka hanya perlu terus menjadi support system di setiap prosesnya.

Baca juga: Targetkan Tembus Final, Putri Cita Hati West Uji Kekuatan Lawan Kosayu!

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp. 

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil Grizelda Vallerie Jesslyne bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).

Hasil akhir pertandingan SMAN 2 Sidoarjo vs SMA Gloria 2 Sidoarjo bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS