ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Potret Andrew Teo (kiri) dan Richard Teo (kanan) selepas laga SMA Dian Harapan Jakarta versus Bunda Mulia School Jakarta dalam DBL Jakarta Championship 2026

Para kesatria Bunda Mulia School Jakarta (BMS) menghadapi tekanan besar dari SMA Dian Harapan (Zebaoth) di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Jakarta Championship 2026, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Setelah tampil dominan dengan mengumpulkan keunggulan 24 poin selama paruh pertama, Zebaoth justru mampu menebar ancaman dan membuat margin kian menipis. 

Namun, keberuntungan tetap berpihak pada BMS. Hingga peluit akhir berbunyi, Zebaoth harus mengakui keunggulan BMS dengan skor akhir 50-45.

Di balik sengitnya pertandingan tersebut, ada kontribusi dari dua pemain yang punya ikatan lebih dari sekadar rekan setim. Mereka adalah Andrew Teo dan Richard Teo, saudara kembar yang sama-sama memperkuat skuad putra BMS.

Andrew berhasil mencatatkan 7 poin, 2 rebound, dan 2 assist. Sementara Richard berhasil membukukan 6 poin, 5 rebound, 1 assist, dan 2 steal.

“Sebelumnya kita enggak expect akan dikejar skornya sama Zebaoth. Kayaknya karena defense kita terlalu lemah di akhir,” ujar Richard. 

Kemenangan atas Zebaoth menjadi satu langkah penting bagi Andrew dan Richard dalam perjalanan mereka bersama BMS. Namun, penampilan impresif keduanya di lapangan dalam membela Jaguars tentu tak datang begitu saja. 

Baca Juga: Tripoin Reinhart Widjaja dan Mimpi Menuju Indonesia Arena

Perjalanan keduanya dalam basket dimulai sejak mereka berusia delapan tahun. Ketertarikan terhadap olahraga ini muncul setelah mereka melihat sang ayah dan kakaknya bermain basket.

Menariknya, sebelum mereka serius menekuni basket, sepak bola menjadi olahraga yang lebih dulu ditekuni oleh keduanya.

“Tapi pas kita lihat basket, game-nya seru banget. Jadi we tried new things, kita berdua memutuskan buat main basket,” ungkap Andrew.

Meski kini lebih serius menekuni basket, keduanya sesekali masih menyempatkan diri untuk bermain sepak bola sekadar untuk melepas penat. 

Perjalanan basket keduanya juga tidak selalu berjalan mulus. Di tengah proses mengembangkan kemampuan di lapangan, Andrew dan Richard harus menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara basket, pendidikan, dan tuntutan keluarga.

“Aku sempat ngerasa capek banget dan pengin stop basket. Pertama, ada academic pressure dan other family pressure. Tapi, aku selalu berdoa pada Tuhan dan akhirnya aku dan orang tuaku coba untuk saling mengerti satu sama lain. Jadi, aku tetap lanjutin basket,” jelas Richard. 

Mendengar jawaban itu, Andrew pun menimpali pengalaman serupa yang dirasakannya. “Aku pernah stop sekali karena ada academic pressure dari keluarga. Tapi dari sana aku belajar, kalau aku stop basket aku bakal cuman jadi penonton. Jadi dari situ aku mulai basket lagi." 

Tak hanya tekanan akademik, cedera juga menjadi tantangan yang kerap mendatangi perjalanan mereka dalam basket. Bahkan, ketika menghadapi Zebaoth, keduanya sama-sama sedang berjuang dengan kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih.

“Kita sering banget cedera. Tadi pas lawan Zebaoth, aku lagi cedera bahu dan aku tetap paksain main. Kembaranku juga lagi cedera ankle sprain. Tapi dari semua cedera itu, kita harus tetap semangat kalau main basket karena kita selalu treat every game like it’s our last game,” ungkap Richard. 

Baca Juga: Sempat Terpuruk, Anabel Leticia Kini Bangkit Demi Indonesia Arena

Bermain dalam kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih tentu bukan perkara mudah bagi keduanya. Baik Andrew maupun Richard harus menyisihkan waktu selama tiga sampai empat kali dalam seminggu untuk menjalani fisioterapi. 

"Sebenarnya, kita enggak terlalu merasakan sakitnya saat game. Justru, sakitnya lebih terasa setelah game," ungkap Andrew.

Kemenangan atas Zebaoth tentu membangkitkan semangat keduanya untuk konsisten menyuguhkan penampilan apik di lapangan. Terlebih, baik Andrew maupun Richard telah memikul mimpi besar di musim ini.

“Semoga kita bisa main di Indonesia Arena. Semoga aku juga bisa kasih kontribusi yang besar bagi tim. Kita sudah berhasil mencapai level yang setinggi ini. Kita enggak mau back down lagi. Mungkin persiapan kedepannya juga harus bagus,” harap Andrew. 

Richard pun juga memiliki mimpi yang sama. Baginya, kemenangan bukan hanya tentang soal akhir, tetapi juga kesempatan bagi BMS untuk berkembang sebagai tim.

DBL Jakarta Championship 2026 termasuk dalam rangkaian Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 yang mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp. 

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema “100% Indonesia”. Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. 

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa lakukan scroll dengan double tap)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS