DBL ACADEMY

Junior DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Afifah saat Mendampingi Anak Didiknya (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah biasanya lebih terfokus pada aspek tekstual saja, seperti grammar, membaca teks, dan menghafal kosa kata dibandingkan dengan komunikasi lisan. Namun, Afifah Asma Nabila guru Bahasa Inggris sekaligus pembina English Club asal SMK Muhammadiyah 1 Semarang punya cara yang berbeda. Ia memadukan materi kurikulum dengan cara mengenalkan literatur sastra kepada anak didiknya. 

Semasa ia kuliah di Jurusan Bahasa Inggris, Afifah -sapaan karibnya- mendapatkan banyak eksposur terhadap karya-karya sastra. Dari situ ia menyadari adanya sebuah jarak antara pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah yang cenderung berfokus pada materi akademik dalam kurikulum dibandingkan dengan bagaimana cara siswa dapat mengenal dan mengapresiasi karya sastra secara lebih luas. 

“Saya harap anak-anak bisa mengenal karya sastra seperti puisi, storytelling, dan speech. Lewat hal itu saya harap bisa menjadi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi literatur sekaligus mengembangkan kemampuan berbahasa, kepercayaan diri, dan potensi mereka di bidang nonakademik,” tuturnya.

Potret Afifah saat Membimbing Anak Didiknya (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Inovasi tersebut tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ibarat pohon yang tertiup angin kencang selalu ada guncangan dalam perjalannya. Afifah menyadari bahwa banyak siswa yang belum memiliki eksposur terhadap public speaking dalam Bahasa Inggris untuk mengapresiasi karya sastra, seperti poem reading dan storytelling. Dengan segala upaya, Afifah berusaha menjadi “jembatan” perantara melalui brainstorming dan diskusi dua arah.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Hanny Kurniawan Seimbangkan Logika dan Kreativitas

Tak berhenti di situ, Afifah juga sedikit kewalahan untuk membangun kepercayaan diri siswa. Namun, melalui pendekatan dan latihan yang konsisten ia akhirnya melihat perkembangan anak didiknya. Baik dalam kemampuan public speaking maupun keberanian untuk mengekspresikan diri dalam Bahasa Inggris.

Selama proses perjalanan itu, tentu Afifah juga mengalami pengalaman yang tak terlupakan. Pengalaman itu hadir lewat anak didiknya yang justru belum pernah mengikuti kompetisi apa pun sejak SD. Namun, Afifah menilik bahwa anak didiknya memiliki potensi dan kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik sehingga ia mendorongnya untuk berani mengambil kesempatan tersebut.

“Awalnya dia merasa malu dan kurang percaya diri karena belum pernah memiliki pengalaman lomba. Melalui bimbingan dan latihan yang konsisten, alhamdulillah ia berhasil meraih juara 2 pada Kompetisi English Speech yang diselenggarakan di salah satu perguruan tinggi di Semarang,” tambahnya.

Afifah (Tiga dari Kanan) saat Membimbing Anak Didiknya hingga Menjuarai Kompetisi Walisongo English Festival 2026 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Baca Juga: DBL Super Teacher: Faries Vebriansyah Jadikan Basket Ruang Belajar Karakter

Bagi Afifah, pencapaian tersebut bukan hanya tentang memenangkan lomba, melainkan juga tentang bagaimana seorang siswa yang awalnya tak percaya diri akhirnya berani mencoba dan membuktikan potensinya.

Sebagai calon DBL Super Teacher, Afifah ingin mengembangkan pembelajaran Bahasa Inggris yang lebih kontekstual, inklusif dan sesuai dengan kemampuan serta level masing-masing siswa. Pembelajaran yang tak hanya berfokus pada hafalan atau menuntut siswa memahami berbagai jenis teks tanpa membekali mereka dengan vocabulary dan pemahaman yang cukup terlebih dahulu.

“Saya ingin mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan kegiatan nonakademik, seperti public speaking, storytelling, dan apresiasi sastra melalui English Club. Sehingga keduanya tidak menjadi hal yang terpisah tetapi saling melengkapi,” pungkasnya. 

Pembelajaran Terintegrasi yang Sudah Afifah Lakukan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Harapan Afifah itu selaras dengan niat awalnya mengikuti DBL Super Teacher, yaitu ingin menjadikan program ini sebagai sarana untuk belajar. Karena pada akhirnya, hakikat sebagai seorang guru adalah tidak berhenti untuk belajar dan memperbarui pengetahuan agar dapat memberikan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa. Afifah pun tak sabar untuk bertukar pikiran dan berjejaring dengan guru-guru di berbagai daerah di Indonesia. 

Baca Juga: DBL Super Teacher: Saipul Effendi Bantu Siswa Temukan Potensi Lewat OSIS

Afifah adalah salah satu dari Top 24 DBL Super Teacher yang akan menjalankan bootcamp 18-21 November 2026 di Jakarta. Mari terus dukung perjuangan Ibu Afifah Asma Nabila dalam mendampingi bakat dan membentuk karakter masa depan generasi muda Indonesia.(*)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS