ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

MAINMAIN

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Julian Alexandre saat beeptest di Honda DBL Camp 2019

Dari masa ke masa, Bali selalu menghasilkan banyak pemain-pemain profesional yang berbakat. Di gelaran Honda DBL sendiri, hampir setiap tahunnya Bali menyumbangkan pemain terbaiknya ke jajaran skuad Honda DBL Indonesia All-Star.

Beberapa daerah di Bali seperti Denpasar dan Gianyar memiliki kultur basket yang berbeda-beda. Namun, ada satu daerah yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan. Bahkan, perkembangan basketnya berlangsung sangat pesat. Daerah tersebut adalah Badung.

Kali ini, DBL.id berbincang dengan pemain asal Badung yang juga merupakan skuad Honda DBL Indonesia All-Star di tahun 2018 dan 2019. Dia adalah Julian Alexandre.

Ia bercerita bahwa lingkungan di Badung sangat mendukung perkembangan basket. Mulai dari segi klub basket yang ada maupun orang-orang di sekitarnya.

Salah satunya adalah teman dari orang tuanya Julian. Di setiap minggu, beliau selalu menyewa GOR Merpati. Bukan untuk ia dan teman-temannya. Melainkan untuk umum yang mau bermain basket bersama.

“Jadi semua orang bisa main bareng dan seru-seruan. Bahkan beberapa kali juga ada orang dari daerah lain. Syaratnya kalau main ya harus mau defense,” ujar Julian sambil tertawa.

Dari sinilah banyak orang mulai tertarik dengan basket. Baik yang masih berusia belia, pemain basket lokal, hingga yang baru memulai bermain basket.

Tak hanya GOR Merpati, di Badung sendiri masih ada lima lapangan basket lain yang juga menjadi rujukan para pencari keringat. Bahkan, beberapa resort juga punya lapangan basket sendiri. Hanya untuk memanjakan turis yang juga bermain basket.

“Aku pernah juga ketemu Brandon Jawato sama pemainnya Minnesota Timberwolves yang aku lupa namanya. Jadi ketika lagi liburan pun mereka nggak bingung buat main basket karena banyak banget lapangan di sini,” Tambahnya.

Selain dari segi infrastruktur, Badung juga semakin berkembang karena ada banyak sekali kompetisi yang diselenggarakan di sana. Tak tanggung-tanggung, dalam satu tahun ada lebih dari lima belas kompetisi basket yang diselenggarakan. Mulai dari kompetisi dari pemerintah hingga kompetisi yang diselenggarakan oleh sekolah-sekolah.

“Kalau SMAku, SMA Soverdi ada empat kompetisi yang konsisten kita selenggarakan. Mulai dari 5 on 5 sampai 3 on 3. Ini sih yang bikin kita semakin terasah,” tambah pemain berdarah Perancis ini.

Ia pun berharap, kedepannya, semua daerah di Indonesia punya lapangan basket serta kompetisi yang lebih banyak dan tidak terputus. Sehingga, kultur basket di Indonesia bisa semakin berkembang dan bisa melahirkan lebih banyak pemain profesional.

“Aku bersyukur bisa besar bareng kemajuan basketnya Badung. Soalnya, dulu basketnya nggak sehidup sekarang. Kalau mau main basket harus keluar kota,” tutupnya.

 

 

  RELATED ARTICLES
Comments (0)