Sosok malaikat berdiri di tengah tribun Eagles Mania. Di kanan dan kiri, dua gambar manusia tampak seperti sedang bangkit. Koreografi itu menjadi bagian dari dukungan Eagles Mania untuk tim basket putra SMPN 35 Surabaya (Thirtyfive) saat menghadapi SMP Al Azhar 13 Surabaya pada Junior DBL 2026 East Java-North, Kamis, 3 September 2026.
Koreo bertema horor tersebut dibuat oleh dua siswa kelas IX, Muhammad Morgan Nur Ramadhan dan Rafasha Hidan Pramaditya. Keduanya ikut merancang konsep sekaligus menggambar koreografi yang disiapkan selama sekitar dua minggu.
"Jadi kita bawa tema koreo hari ini horor. Kita bawa 3D kanan sama kanan kiri. Yang 3D itu bermakna kewibawaan dan kekuasaan dalam meruntuhkan kegagalan dari tim basket SMP 35 Surabaya," jelas Morgan.

Sosok malaikat menjadi bagian tengah koreografi Eagles Mania saat mendukung tim basket putra SMPN 35 Surabaya (Thirtyfive) pada Junior DBL 2026 East Java-North di DBL Arena Surabaya.
Tidak berhenti pada sosok 3D di tengah, Morgan dan Hidan juga menyiapkan dua gambar di sisi tribun. Keduanya menggambarkan manusia yang bangkit.
"Makna kanan kirinya itu kita bangkit dari masa terburuk dari kita. Dari tahun yang sebelumnya kita bangkit terus jadi sekarang," lanjut Morgan.
Bagi Morgan dan Hidan, tema tersebut berkaitan dengan perjalanan Thirtyfive. Mereka ingin membawa pesan bahwa kegagalan dari pertandingan sebelumnya tidak menjadi alasan untuk berhenti.
Baca juga: Ketika Bacaan di Pojok Kelas Menjadi Koreo Slekormania
Ketika ditanya soal alasan memilih cerita tersebut, Morgan menjelaskan bahwa konsep itu memang dibuat untuk menekankan semangat tim basket.
"Kita itu horor karena kita ingin menekankan tim basket kita, Kak. Terus yang di tengah itu malaikat. Ya, malaikat pencabut nyawa lah sebutnya,” ujar Morgan.
Konsep yang sudah mereka tentukan kemudian diterjemahkan ke dalam gambar. Morgan dan Hidan mengerjakannya di lapangan sekolah bersama sekitar sepuluh teman.
"Kita dua minggu langsung jadi, Kak. Biasanya bikinnya di lapangan sekolah. Saya sama Hidan yang buat dan gambar, terus teman-teman yang lain membantu," kata Morgan.
Prosesnya tidak selalu mudah. Salah satu kendala muncul ketika persediaan cat habis di tengah pengerjaan. Mereka harus mencari toko untuk membeli cat tambahan, sementara kebutuhan tersebut ditanggung bersama.
"Kadang kalau malam catnya sudah habis, kita disuruh beli cat lagi. Kita nyarinya juga bingung tokonya di mana. Jadi kita patungan," tutur Hidan.
Koreo kali ini juga melanjutkan kebiasaan Eagles Mania dalam mendukung Thirtyfive. Tahun sebelumnya, mereka membawa tiga bagian koreografi dengan maskot elang di tengah, lalu gambar siswa dan guru di sisi kanan dan kiri.
"Kita kalau jadi suporter di DBL pasti bawa koreo, Kak. Karena buat meriahin dan mensupport tim basketnya," ujar Morgan.

Suporter SMPN 35 Surabaya memberikan dukungan dari tribun saat mendampingi tim basket putra Thirtyfive pada Junior DBL 2026 East Java-North di DBL Arena Surabaya.
Baca juga: Antar Anak Debut di Junior DBL, Bu Veli Pakai Bando Khusus dan Tampil Meriah!
Dukungan dari tribun itu kembali mereka rasakan dalam pertandingan kali ini. Morgan dan Hidan mengaku ikut tegang melihat permainan Thirtyfive karena skor sempat membuat mereka khawatir.
"Deg-degan sih. Karena lihat skornya juga. Saling salipan," kata Hidan.
Kekhawatiran itu akhirnya berubah menjadi perayaan. Thirtyfive berhasil mengalahkan SMP Al Azhar 13 Surabaya dengan skor 27-8.
Pertandingan tersebut juga menjadi momen khusus bagi Eagles Mania. Pada 1 September 2026, kelompok suporter SMPN 35 Surabaya itu genap berusia 12 tahun.
"Semoga aja Eagles Mania bisa berkembang dan terus mencari evaluasi yang lebih ke depannya, Kak," ujar Morgan saat menyampaikan harapannya.
Perayaan ulang tahun itu turut mendapat dukungan dari pihak sekolah. Guru ikut hadir dan diajak turun untuk merayakan bersama. Di tengah dukungan tersebut, Morgan dan Hidan juga membawa pesan yang mereka terima dari guru agar anggota Eagles Mania tetap menjaga sikap.

Tim basket putra SMPN 35 Surabaya (Thirtyfive), guru, dan suporter Eagles Mania merayakan ulang tahun ke-12 Eagles Mania di DBL Arena Surabaya.
"Pertama itu jangan yang nakal-nakal. Karena kita itu kayak dicontoh sama anak-anak yang lain. Jadi kita harus jaga sikap," kata Hidan.
Bagi dua siswa kelas IX itu, Eagles Mania bukan hanya tentang meramaikan pertandingan. Ada pengalaman membuat koreografi yang ingin mereka teruskan kepada adik kelas.
Baca juga: Tampil Berseragam, Kekompakan Mama SMPN 19 Surabaya Curi Perhatian!
Mereka sadar suatu saat nanti akan meninggalkan sekolah. Karena itu, Morgan dan Hidan tidak ingin kemampuan membuat koreografi berhenti pada angkatan mereka.
"Kita harus ngajarin adik kelas sampai dia bisa. Habis kita lulus, kita enggak boleh ngelepas gitu aja. Harus diajarin ilmu lagi," ujar Morgan.
Hidan pun sepakat. Menurutnya, proses tersebut penting agar adik kelas tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa mengambil peran ketika tiba waktunya meneruskan Eagles Mania.
"Kalau kita sudah bisa, ya harus ngajarin juga ke adik kelas. Jadi nanti kalau kita sudah lulus, mereka sudah bisa bikin sendiri," tutur Hidan.
Di tribun, koreografi horor itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar gambar yang dibuka saat pertandingan. Bagi Morgan dan Hidan, ada semangat untuk bangkit yang ingin mereka sampaikan kepada Thirtyfive, sekaligus sebuah tradisi Eagles Mania yang perlahan mereka siapkan untuk diteruskan.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil SMPN 35 Surabaya bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).